TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
INDONESIA



Bandara internasional Soekarno-Hatta. Deborah turun dengan wajah lelah begitu juga dengan Celia. Dua wanita itu dijemput salah satu kolega yang akan bekerjasama dengan perusahan George Vox, ayah Deborah.


"Nona Vox dan Nona Celia!" panggil seorang pria.


Keduanya menoleh. Satu troli besar mengangkut tiga koper besar milik keduanya.


"Saya Rudi, dari perusahan North Co.," pria itu menyerahkan kartu namanya.


Deborah tak peduli. Ia sudah kelelahan sekali. Mau pria itu benar atau bohong. Ia pasrah saja. Sedang Celia juga mendapat pesan dari koleganya berikut foto pria yang akan menjemput mereka.


"Baik lah Tuan Rudianto," ujar Celia akhirnya yakin jika benar itu adalah pria yang menjemput mereka.


Ketiganya pun berjalan menuju mobil Van yang menunggu. Rudi membantu Celia mengangkat koper, sedangkan Deborah langsung masuk mobil dan menurunkan joknya agar bisa sedikit meluruskan pinggang.


Celia pun masuk dan menatap atasannya mulai berwajah pucat. Deborah tak minum dan makan apa pun dari transit tadi. Makanan dari kabin pesawat tak masuk lambungnya sama sekali. Wanita itu memang tak bisa makan sembarangan.


"Pak Rudi. Adakah di sini restauran internasional, saya ingin membeli sesuatu untuk makan nona muda saya?!"


"Oh, baik lah, Nona Celia," ujar Rudi lalu menjalankan mobilnya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke lokasi.


"Kita sudah sampai di tempat anda menginap sekaligus restauran yang anda tanyakan, Nona Celia," ujar Rudi memberitahu.


Deborah pun dibangunkan. Gadis itu benar-benar kepayahan. Perjalanan yang begitu melelahkan. Ia pun turun dari mobil dengan mata sayu.


Celia terpaksa mengantar nonanya hingga ke kamar dibantu oleh Rudi dan staf hotel.


Sementara di benua lain. Demian juga sibuk mengurus kepergiannya ke negara di mana Lidya berada. Ia begitu sangat khawatir dan bersemangat secara bersamaan.


Ia takut jika Deborah mengetahui dirinya memiliki rasa pada Lidya. Walau ia yakin, gadisnya itu akan aman-aman saja, setelah melihat sepak terjang Lidya ketika menangani Solomon dan Lady.


"Aku lupa jika gadisku adalah wonder woman," ujarnya bergumam.


"Apa Tuan?" tanya Jac, ia tak mendengar gumaman atasannya.


"Ah, lupakan," sahut Demian.


"Tuan, kita bisa berangkat besok. Karena semuanya sudah selesai dan tak ada masalah," jelas Jac setelah menyerahkan laporan dari pihak pemerintahan setempat tentang ijin tinggal dan usaha.


"Oke, aku sudah menyiapkan semuanya," ujar Demian tak sabar menunggu besok.


Sedang di sebuah tempat di mana Lidya berada. Gadis itu tengah menangani beberapa pasien depresi, Putri bersamanya. Gadis itu sudah setengah bodyguard bagi Lidya.


"Put, kamu udah catat perkembangan dari pasien kita Nyonya Mirna?" Putri mengangguk.


"Sudah, Dok. Nyonya Mirna mengalami depresi semenjak kebakaran yang menimpa rumah yang melalap dua anaknya sekaligus. Beliau kini, sudah mulai tenang dan bisa bicara normal dengan yang lain. Kasus Nyonya Mirna akan kembali dibuka oleh pihak kepolisian karena kesehatannya sudah mulai membaik," jelas Putri panjang lebar.


"Baik, kita tetap awasi therapy ini, karena bukan kita yang menjalani konsulnya," ujar Lidya yang ditanggapi anggukan oleh Putri.


Tiba-tiba seorang pasien histeris dan melakukan penyerangan. Putri sigap membentengi Lidya, Gio dan Robert gerak cepat menangani situasi. Para perawat berlarian dan memberikan suntikan penenang pada pasien tadi.


Putri mengelus dadanya yang kaget. Gio menatap gadis itu dengan senyum tersungging di bibir. Lidya juga sedikit terkejut dengan sigapnya sang sahabat untuk melindunginya.


"Udah ngalahin bodyguard gue, Lu Put!" ledek gadis itu.


Putri terkekeh. Memang ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi sahabatnya itu. Sebagai balas budi yang dilakukan oleh ibu Lidya, Terra.


Setahun kepindahannya di ruko itu. Ayahnya memutuskan untuk mengambil adiknya yang ada di kampung halaman yang bersama dengan pakliknya. Putri memang memiliki adik yang dititipkan pada paklik, adik kandung ayahnya. Begitu pindah ke ruko dan memiliki usaha yang cukup menjanjikan. Ayahnya pun menjemput putranya yang hanya beda satu tahun saja dengan Putri.


"Semua sudah dibereskan Nona," sahut Gio.


"Tadi itu kenapa, siapa Dokter yang menanganinya?" tanya Lidya pada salah satu perawat.


"Apa kasusnya?" tanya Lidya.


"Untuk apa anda mengurusi pasien orang lain Dokter Lidya?" tegur Prof Bambang tak suka.


"Tidak ada Dok. Lagi pula itu memang prosedur rumah sakit, walau saya bukan dokter yang menangani pasien," jawab Lidya tenang.


"Wah ... wah ... anda berani membantah ketentuan saya ternyata," sindir pria itu sinis.


Prof Bambang, usia enam puluh tahun sudah bergelar profesor, cukup muda. Bahkan ia juga merupakan dosen mata kuliah kejiwaan di program magister.


"Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud demikian," ujar Lidya lalu menunduk hormat.


Gio dan Robert mengepal tangan erat-erat. Belum pernah ia melihat nona mereka minta maaf sebegitu rupa pada orang lain, padahal nona mereka tak bersalah.


"Jika anda tak keberatan, berhentilah bertanya tentang pasien yang sudah ditangani oleh Dokter lain, terlebih seorang profesor yang menanganinya!" tegur sarkas pria paru baya tersebut dengan nada angkuh.


"Baik, Dok!" sahut Lidya tak mau berdebat.


Lidya sama sekali tak melanggar kode etik Memang begitulah prosedur yang harus dilakukan semua dokter di rumah sakit ini.


Semua itu bertujuan jika dokter yang bersangkutan tidak ada di tempat atau sedang ada kendala lain yang tak bisa ditinggalkan. Maka wajib dokter lain yang melakukan penanganan. Jika, tidak. Hal itu bisa membahayakan orang lain juga pasien itu sendiri.


Lidya tak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Prof Bambang tadi. Sedangkan Putri sudah mengomel panjang pendek.


"Dasar mentang-mentang profesor. Berasa ilmunya jauh lebih tinggi!"


"Hus ... udah ah, biar saja. Toh emang ilmunya jauh lebih tinggi dari aku," sahut Lidya menyudahi kegondokan sahabatnya.


Makan siang pun tiba. Lidya selalu membawa bekal begitu juga Putri. Mereka menikmati makanan dengan bertukar kotak bekal.


"Dok, hari ini apa kita ke rumah konseling lagi?" tanya Putri setelah menghabiskan makanannya.


"Sepertinya tak usah. Kau temani aku belanja aja, ya," ajak Lidya.


"Eeuummm ... nggak deh Dok!" tolak Putri.


"Aku masih ada keperluan lain," lanjutnya beralasan.


"Gue nggak nerima penolakan Put!' sela Lidya dengan wajah datar.


Putri tak enak. Jika berbelanja, Lidya selalu juga membelikannya. Walau ia berkali-kali menolak. Tetapi, sahabatnya itu selalu memaksa.


"Gue males bawa kreseknya. Lu tau sendiri motor gue!" ujar Putri kembali beralasan.


"Bodo amat," sahut Lidya ketus.


"Eh ... Put. Bawa gue kabur pake motor Lu dong!" pinta Lidya.


"Ye ... ntar gue digantung Ama bodyguard Lu nih yang di depan!" sahut Putri kesal.


Lidya manyun. Jangankan baik motor. Bahkan menyetir saja ia tak diperbolehkan oleh para pengawalnya. Padahal ia ingin sekali berpetualang seperti ibunya yang bisa kebut-kebutan di jalan raya.


bersambung.


jangan ... nanti pengawalmu yang kena imbasnya Lidya.


next?