TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENCARI CELAH



Hari ini Terra dipanggil oleh salah satu dekan. Islah Khairunnisa S.E. mengajak gadis itu ikut dengannya membentuk sebuah riset. Gadis itu belum mengiyakan permintaan dekannya itu.


"Boleh saya baca strukturalnya, Bu. Masalahnya materi ini kan bukan ranah uji materi kuliah saya," ujar Terra memberi alasan.


"Bagaimana jika Ibu katakan, kalau hasil ini mempengaruhi nilai akhir kamu di mata kuliah saya!?" sebuah ancaman terselip.


"Ibu mengancam saya?" tanya Terra menatap dekannya dengan pandangan tak suka.


"Terserah kamu artikan apa," ulas Islah tenang.


"Oh kalau begitu silahkan kurangi nilai saya. Toh materi ibu tidak berimbas dengan kelulusan saya nanti," jawaban Terra menohok Islah.


Wanita yang juga masih gadis berusia tiga puluh tahun ini, terkejut dengan keberanian Terra.


"Dan jika Ibu masih mengancam saya. Perbuatan Ibu melanggar kode etik antara pembina dan anak didik. Saya bisa laporkan ini pada kepala rektor!"


Wajah Islah memerah menahan amarah. Tidak ada satu pun mahasiswa yang berani berbalik mengancamnya. Terlebih jika Terra mengetahui undang-undang kode etik kampus.


"Tapi, ini bagus untuk pengalaman mu," ujar Islah mempengaruhi pikiran Terra.


Wanita itu sangat yakin, jika Terra memiliki sifat keingintahuan yang tinggi. Gadis itu sangat suka tantangan.


"Maaf Bu. Tapi, untuk saat ini. Saya tidak bisa membantu, Ibu. Mungkin Ibu bisa minta tolong sama mahasiswi lainnya," tolak Terra.


"Tapi Terra ... ini peluang bagus, kita bisa bersaing dengan kaum pria. Ibu ingin mengalahkan Pak Haidar!" Islah keceplosan.


"Maaf Bu. Saya tidak bisa. Permisi," tolak Terra lagi.


Terra bergegas meninggalkan dekannya. Islah hanya menghela napas berat. Ia tidak bisa menekan anak sejenius Terra.


Islah menangkap sosok tubuh tegap keluar dari ruang rektor. Wanita itu berjalan menghampiri pria yang selalu menjadi incaran para gadis-gadis kampus.


"Selamat siang, Pak. Bagaimana usaha riset Bapak, apa sudah berjalan?" tanya Islah sambil menyapa Haidar.


"Apa perlu saya melaporkan hasil riset saya kepada anda, Bu Dekan?" tanya Haidar datar.


Islah hanya bisa menahan napas. Sungguh aura dingin dan tatapan tajam menusuk mampu membuat hatinya membeku dan matanya terluka. Setengah mati gadis itu menetralkan bunyi degup jantungnya.


"Tidak ... saya hanya ....."


"Saya rasa cukup. Kita tidak terlalu akrab untuk mengatakan rahasia masing-masing bukan?!" sindir Haidar sarkas.


Islah menelan saliva kasar. Sebisa mungkin ia juga menunjukkan wajah tanpa ekspresi pada pria tampan yang berdiri menjulang di hadapannya. Tinggi Haidar yang 188cm tentu membuatnya harus mendongakkan kepala untuk menatap wajah tampan itu, karena tinggi Islah hanya 155cm.


Haidar berlalu tanpa salam atau sapa pada gadis yang setengah mati menetralkan dirinya itu. Hatinya meruntuki diri sendiri karena tidak mampu menolak pesona pria itu.


"Ah kenapa dia tampan sekali!" pujinya kesal setengah mati.


"Biasanya pria-pria seperti itu menyukai wanita yang selalu mengabaikannya. Bahkan aku sudah mengibarkan bendera persaingan padanya. Tapi, ia tak menoleh sekali pun," ungkapnya bermonolog.


"Kita tunggu. Kau akan bersimpuh mengemis cinta padaku, wahai dosen tampan," sumpahnya.


"Dan aku akan senang mempermainkan perasaan bucin mu, karena mengejar cintaku."


Islah tersenyum sinis. Gadis itu sangat percaya diri sekali, jika ia mampu menaklukan pria


berjulukan gunung es tersebut. Dengan langkah pasti. Ia berjalan menuju ruangannya. Ia masih ada satu mata kuliah lagi dua jam ke depan di semester empat.


bersambung.


duh Bu ... silahkan pede abis deh ... ntar kita liat siapa yang gulung kuming. Ibu apa Haidar.


🤭