
"Paman melihat dia memasukan obat perangsang dalam minuman untuk Paman," jelas Herman.
"Apa!" pekik Terra tertahan.
Gadis itu tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia melihat ketulusan dari mata gadis yang selalu mengikuti pamannya beberapa saat lalu. Baru kali ini apa yang ia lihat tak sesuai dengan apa yang terjadi.
"Bagaimana bisa ia menyembunyikan rencana liciknya?" gumam Terra dalam hati.
"Tadinya, Paman sudah mulai menerimanya. Paman selalu sholat istikharah untuk minta petunjuk," jelas Herman melanjutkan.
Pria itu menyenderkan tubuhnya. Netranya menatap jauh ke depan. Seakan membayangkan kilas balik peristiwa dua minggu belakangan yang menghancurkan semua mimpi, juga cintanya ini.
"Setelah Paman mulai meyakini jika dia adalah gadis yang baik untuk Paman. Allah mulai menampakkan keburukan Ramira satu persatu," lanjutnya.
"Dua minggu belakangan ini. Pakaiannya berubah, menjadi lebih seksi. Kemejanya makin ketat, dan roknya pun makin tinggi. Tidak itu saja. Ramira sengaja memakai dalaman warna cerah agar terlihat atau tercetak dari luar," Terra ternganga mendengarnya.
"Jika berjalan, ia selalu berusaha menyenggol dadanya ke tubuh Paman. Paman jadi risih dan geli," lanjutnya sambil bergidik.
"Hingga waktu itu ketika pulang kantor. Lift yang biasa Paman pakai rusak. Paman terpaksa memakai lift karyawan. Karena penuh sesak. Ramira memepetkan tubuhnya, tadinya membelakangi. Tiba-tiba ia menghadap ke arah Paman ... Paman ... hhhh ...!"
Tampak pria itu menahan sesuatu yang bergejolak dari dalam tubuhnya. Mukanya memerah. Ia memejamkan mata untuk menetralisir rasa yang meluap tiba-tiba.
"Paman juga pria normal. Kau tahu itu. Jika saja Paman belum banyak makan asam garam kehidupan. Mungkin wanita penggoda itu sudah Paman seret ke atas ranjang," lanjutnya dengan napas menderu.
Terra hanya diam. Ia tetap setia mendengarkan curahan hati pamannya itu. Sedikit iba, karena setelah sekian lama, pria itu merasakan jatuh cinta. Sayang, perasaannya langsung dikhianati.
"Tadinya Paman pikir akan membiarkan hal. Toh, yang ia goda adalah aku bukan pria lain. Paman mulai menerimanya," lanjut Herman.
Romlah datang membawa teh hangat dan camilan.
"Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya. Ini teh dan kudapannya," ucap Romlah kemudian meletakan dua cangkir teh ke atas meja berikut kudapannya.
"Terima kasih, Bik," ucap Terra sambil mengulas senyum.
"Sama-sama, Nya. Permisi," ucapnya lagi kemudian wanita itu pergi dari situ.
"Minum tehnya, Paman," ajak Terra sambil ia juga mengangkat cangkir.
Herman pun melakukan hal yang sama dengan kemenakannya itu. Keduanya menghirup teh jahe yang menghangatkan perut mereka. Cuaca memang mendung menjelang sore.
Terra bisa mendengar suara anak-anak yang sudah mulai berisik. Bahkan Rion menanyakan keberadaannya.
Terra menatap ke dalam. Di sana Haidar langsung mengambil perannya sebagai ayah. Mengajak mereka mandi sore.
Setelah meyakini jika anak-anak sudah tertangani dengan baik. Terra pun kembali mendengarkan ungkapan hati pamannya.
"Apa kau tidak mengurus anak-anak dulu?" tanya Herman.
"Paman bisa lanjutkan lain kali," Terra menggeleng.
"Mas Haidar sudah menanganinya," jelas Terra.
"Apa tidak membebaninya?" tanya Herman lagi. "Paman jadi tidak enak jika begini."
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Agar Paman lebih ringan ke depannya," ujar Terra menenangkan Herman.
Pria itu menghela napas sambil melihat kemenakan cantiknya. Setelah yakin jika Terra tak mempermasalahkan. Ia pun melanjutkan ceritanya lagi.
"Semakin hari. Ia semakin berani menggoda Paman. Dua hari lalu, ia nyaris mencium bibir Paman. Jika saja Manager dari divisi industri tidak datang tiba-tiba, kami mungkin sudah ..."
Herman memotong ucapannya.
"Berciuman," lanjutnya dengan suara lirih nyaris berbisik.
"Tapi itukan tak masalah, Te aja udah ciuman dua kali pas belum nikah kemarin," saut Terra keceplosan.
"Eh," Terra menutup mulutnya dengan dua tangan.
Herman memandangnya dengan horor. Ia pun mendengkus kesal, lalu menggeleng tanda ketidak setujuannya.
"Untuk pria itu sekarang jadi suami kamu, Te. Jika tidak, bibirmu jadi santapan laki-laki yang menjadi pacarmu nanti," saut pria itu sinis.
Terra menunduk. Ia pun merasa beruntung, ketika pacaran Haidar tak memaksanya untuk berciuman. Walau ia melihat teman-teman sekampusnya berciuman di lorong sepi kampus dengan pacar mereka masing-masing. Lumrah bukan? pikirnya.
"Entah berapa kali, ia mencoba untuk melakukan itu walau selalu gagal. Paman rasa. Paman dilindungi Allah, karena tidak terbuai dengan godaannya," lanjutnya membuyarkan lamunan Terra.
"Hingga paling parah, jumat kemarin. Entah kenapa juga setelah pergi Paman berbalik, padahal tidak melupakan sesuatu. Paman melihat Ramira memasukan obat ke dalam minuman yang paman tinggalkan di meja," lanjutnya lagi.
Terra menggenggam tangan Herman dan mengelusnya. Memberikan pria itu dukungan juga kekuatan.
"Paman siram air minum yang ia taruh obat itu. Tadinya ia tidak mengaku jika itu obat perangsang. Ia bilang itu adalah vitamin," lanjutnya dengan napas memburu.
Terlihat sekali jika Herman melampiaskan emosinya. Wajahnya memerah karena kesal setengah mati.
"Dia kira Paman bodoh, tidak bisa membedakan mana obat mana vitamin!" pekiknya tertahan.
"Tenang, Paman. Jangan emosi," pinta Terra sedikit khawatir melihat raut Herman yang memerah.
"Secara tak sadar, Paman tampar pipinya keras setelah menyiram air itu ke wajahnya," lanjutnya dengan sorot mata kosong.
Pikiran pria itu masih berkutat dikejadian yang membuat emosinya memuncak. Wanita yang mengatakan cinta, berlaku rendah.
"Kamu tahu. Dia menangis meraung dan berlutut. Ia menyatakan melakukan itu karena tidak ingin kehilangan Paman," ujarnya mengambang.
"Cis ... dia pikir, Paman percaya dengan bualannya itu?" Herman berdecih.
"Paman mengusirnya dan langsung memecatnya. Ia menangis meraung hingga tak sadarkan diri," lanjutnya lagi.
"Paman menyuruh beberapa karyawan menggotongnya dan membawanya ke klinik. Tidak ke rumah sakit. Toh ia hanya pingsan karena shock perbuatannya ketahuan, kan?" lanjutnya sambil menaikan sudut bibirnya sebelah.
"Berita paling mengejutkan pun Paman dapat kan. Ternyata dia tengah hamil tiga minggu," Terra membelalakan matanya.
"Paman serius?" Herman mengangguk tegas.
"Astagfirullah," Terra beristighfar.
"Dia tidak bisa berkelit. Akhirnya dia mengaku hamil dengan sepupunya. Mereka memang merencanakan untuk menjebak Paman," ujar Herman.
Terra mendengkus kesal. Ia mengepal tangannya kuat-kuat. Terlihat wanita yang baru menikah itu juga ikut kesal.
"Alhamdulillah, Paman terhindar dari godaan ular betina itu," sungutnya geram.
Herman menghela napas. Ia merasa lega. Hatinya yang menghimpit terasa ringan ketika semua yang ia pendam ia curahkan semuanya.
Pria itu menatap wajah kemenakannya yang masih terlihat garang. Ia pun terkekeh.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ish ... Te, kesel tau!" umpatnya sambil cemberut.
Herman tertawa. Ia pun berdiri, merentangkan tangannya. Terra ikut berdiri. Pria itu merengkuh bahu kemenakannya. Mengecup kening Terra.
"Terima kasih telah mendengarkan curahan hati Paman," ujarnya tulus.
"Sama-sama, Paman.. Kita kan satu keluarga. Jadi beban Paman adalah bebannya Terra. Jika Paman butuh pendengar. Datang saja kemari," ucap Terra sambil tersenyum.
Mereka berdua memasuki rumah, semuanya mengulas senyum. Ia melihat sosok cantik di sisi Kanya. Dahinya mengerut.
"Bram, apa ini Karina si kerempeng ingusan itu?" terka Herman pada Bram.
"Ck ... Mas ini," gerutu Bram.
Karina yang diingatkan masa kecilnya yang buruk, tertunduk malu.
"Aku bercanda. Kau itu ...," sautnya sengit.
"Ternyata sekarang cantik ya," puji Herman yang membuat wajah Karina seketika merona.
"Astaga ... jika dia secantik ini. Aku mau jadi suaminya," saut Herman asal.
Semua terdiam mendengar perkataan paman Terra dari pihak ibunya itu. Herman yang melihat semuanya terdiam. Menghela napasnya panjang.
"Aku hanya bercanda ... kenapa kalian serius sekali," ujar Herman kesal.
Ada helaan napas lega. Terutama dari Bram. Sedang Karina hanya mengelus dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang.
'Aish ... Karina. Kau bukan playgirl kan. Semua laki-laki kau sukai!' runtuknya dalam hati kesal.
bersambung.
Karina galau ...
next?