TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENEBUS YANG TERTUNDA



Pagi menjelang. Anak-anak sudah rapi dan wangi. Mereka sudah ditangani oleh Bart dan Frans. Sedang Haidar dan Terra masih menyusun pakaian mereka.


Haidar memeluk istrinya dari belakang. Mencium tengkuknya. Terra kegelian.


"Mas," rengeknya manja.


"Oh sayang. Tadi malam kurang," rengek Haidar juga.


Blush! Wajah Terra merona.


"Ih ... apa sih, Mas!' cebiknya kesal.


Haidar tertawa. Malam pertama yang terburu-buru, tanpa fore-play. Namun, pria itu masih menikmati sesi percintaan mereka semalam. Terra benar-benar pasrah di bawahnya.


Mungkin gadis yang kini sudah tidak gadis itu takut, jika ketiga anaknya terbangun dan mencari dirinya. Benar saja dugaan sang istri. Semalam dua balitanya terbangun dan menangis.


"Kita harus cek out sebentar lagi, Mas," rengek Terra menghindari cumbuan-cumbuan kecil suaminya.


Haidar langsung membalik tubuh Terra agar menghadapnya. Ia memegang ponsel dan melakukan sebuah panggilan.


"Pa. Aku dan Terra masih ingin tiga jam lagi di kamar, bisa atasi anak-anak?" tanyanya.


"......!"


"Oke, Pa. Aku mengandalkanmu," saut Haidar lalu menutup sambungan telepon.


"Mas!"


"Apa sayang," Haidar menaik turunkan alisnya.


"Dasar mesum!" cibir Terra dengan wajah memerah.


Haidar mengecup lembut kening sang istri. Terra memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan sang suami. Mereka sudah halal melakukan semuanya. Ciuman itu turun kedua matanya. Sang pria menciuminya bergantian. Hidung mancungnya, kedua pipinya dan terakhir memagut bibirnya yang sudah membengkak akibat ulah sang suami.


Haidar menggigit bibir itu dan terbuka. Lidahnya langsung meraup dan mengeksplor rongga mulut Terra. Lidah Haidar terus menggesek lidah istrinya yang belum mahir berciuman. Tangannya mulai masuk ke dalam baju yang dikenakan Terra. Meremas benda bulat yang masih sekal.


Satu ******* lolos dari mulut Terra. Ciuman Haidar turun ke leher jenjang sang istri yang mendongak seakan memberi akses pada suaminya.


Tanda-tanda merah yang mulai pudar, kini Haidar pertebal lagi. Baju mereka pun lolos satu persatu dari tubuh. Haidar menggendong ala pengantin istrinya yang sudah polos ke atas ranjang. Dirinya juga pun sudah tanpa sehelai benang pun.


Lagi dan lagi, Haidar mencium bibir Terra. makin lama makin dalam dan menuntut. Terra terbuai hingga sekali lagi benda asing itu masuk.


Masih terasa perih. Terra meringis, satu titik air mata menetes sekali lagi. Haidar masih terus memasukkan dirinya lebih dalam.


Lambat laun, mereka mulai mengarungi ombak asmara. Menebus kenikmatan yang tertunda semalam. Mereguh gelombang yang makin dahsyat.


Terra melenguh, mendesah dan melentingkan tubuhnya menerima semua gempuran cinta dari sang suami.


Haidar makin gencar menerjang ombak yang mulai menguras tenaganya. Peluh keduanya bercucuran. Bibir saling memagut. Keduanya meneriakkan nama masing-masing.


Hingga pada satu titik ketika keduanya tak mampu lagi membendung semburan lahar cinta. Keduanya saling mengeratkan pelukan, Haidar memenuhi benih cintanya pada rahim sang istri.


Haidar mengecup mesra kening sang istri. Setelah menembus pagar suci dengan tempo yang sesingkat-singkatnya tadi malam. Pagi ini, ia bisa mencurahkan seluruh hasratnya.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," ungkap Haidar tulus sambil memeluk Terra erat.


"Te juga cinta sama Mas Idal," balas Terra tak kalah tulus.


Gadis yang kini sudah menjadi wanita ini mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan diri dalam rengkuhan pria yang sangat ia cintai.


"Sayang ... lagi yuk," pinta Haidar.


Terra melihat jam, sedikit khawatir. Haidar paham, lalu ia membisikkan sesuatu. Terra merona dan mencubit gemas tangan suaminya.


"Ish ... tega sama orang tua sendiri," protesnya gemas.


Haidar hanya terkekeh. Selanjutnya, mereka kembali mengarungi gelombang cinta dengan penuh kenikmatan.


Sedang di tempat lain. Nampak begitu banyak orang dewasa selalu mengalihkan pertanyaan dua balita.


"Mama mana?"


"Sayang, Daddy Virgou mau beli es krim. Ada yang mau?"


Kedua balita itu langsung mengangguk. Maka semuanya sedikit lega ketika keduanya tidak bertanya di mana ibu mereka. Sedang Darren hanya mengikuti kemana adiknya berada.


"Beliin Mama juga, ya Daddy. Mama syuta lasa bebeli," ucap Lidya mengingat kegemaran ibunya.


"Bebeli?" Virgou bingung.


"Blueberry, Dad," jawab Darren membenarkan perkataan Lidya.


Virgou mengangguk. Ia pun membelikan juga es krim untuk Terra. Sudah tiga jam mereka menunggu sepasang pengantin itu. Bram mulai kesal. Rion pun sudah merengek bahkan kini mulai mengamuk.


'Pemua bolon ama Ion!' bentaknya.


Virgou habis dipukuli. Bart juga tidak luput dari omelan bayi galak itu. Sedang Lidya juga sudah merengek. Darren menyerah. Ia bingung harus bagaimana.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Wajah keduanya memerah terutama Terra. Lidya dan Rion langsung meminta gendong ibunya.


Rion langsung menyingkirkan Haidar dari ibunya. Bayi galak itu merasa gara-gara papanya lah ia tak langsung bertemu sang ibu. Mereka pun akhirnya pulang.


bersambung.


dah ... puaskah?


Jan paksa othor buat adegan hot. Othor nya udah panas dingin.


next?