TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KESEDIHAN ADEN



Hari ini mestinya Aden menemani Terra merekrut karyawan baru. Tetapi, tiba-tiba kondisi ibundanya mendadak drop. Ia pun meminta ijin untuk tidak masuk kerja.


"Nona, Maaf. Hari ini saya tidak bisa masuk kerja. Ibu saya drop dan harus dilarikan ke rumah sakit segera!"


"Iya, Kak. Silahkan. Ibu lebih penting. Lagi pula hari ini tidak ada jadwal lain selain interview para kandidat sekretaris juga asisten untuk Kakak. Jangan panik dan terus berdoa ya. Semoga ibu cepat sehat!'


"Baik, Nona Terima kasih!"


Aden sangat bersyukur, ia bekerja di perusahaan di mana mengusung kekeluargaan. Terra lebih mementingkan keluarga dibandingkan dengan kerja sama yang untungnya tidak seberapa.


Aden ikut dalam ambulance yang membawa mereka ke rumah sakit. Wajah Sintia sudah pucat napasnya satu-satu. Aden terus berdoa untuk kesembuhan ibunya.


Sampai di rumah sakit. Para petugas medis langsung mengambil tindakan. Mereka memasukan wanita itu ke ruang ICU. Aden harus menunggu di luar, sementara para dokter dan tim tengah melakukan penanganan.


Sudah satu jam lebih Aden menunggu. Sedang belum ada tanda-tanda, para dokter menyudahi penanganan pada pasien. Aden makin sedih. Hingga lima belas menit kemudian dokter keluar dengan raut wajah menyesal.


"Dok. Bagaimana keadaan Ibu saya?' tanya Aden langsung.


"Maaf, Pak. Kondisi Ibu anda lemah dan sudah tidak mau merespon obat yang kami berikan. Sebaiknya, Anda pasrahkan saja ya," jelas dokter dengan nada sangat menyesal.


Bahu Aden seketika turun. Tim medis angkat tangan. Hanya keajaiban Tuhanlah yang bisa berbicara jika kondisi genting begini.


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan," sahut dokter itu lagi.


"Tempatkan ibu saya di ruang VVIP, Dok," pinta Aden lemah.


Dokter itu mengangguk lalu menepuk bahu pria yang sedang bersedih itu. Salah seorang perawat mendatanginya.


"Maaf Pak. Ruang VVIP penuh. Yang tersisa hanya ruang kelas tiga," ujar perawat itu memberi tahu.


Mau tak mau Aden menempatkan ibunya di ruang yang ada orang lain di sana.


"Silahkan Bapak ke ruang administrasi untuk melakukan pembayaran," terang perawat itu sebelum meninggalkannya.


Aden kemudian ke ruang administrasi. Ia pun membayar semua biaya yang sedang dijalani ibunya. Dengan langkah lesu. Ia pun pergi ke ruang perawatan di mana ibunya berada.


Buliran bening menetes ketika menatap sosok yang lemah. Wanita yang berjuang untuk memberikannya kehidupan yang layak setelah meninggalnya sang ayah untuk selama-lamanya, ketika Aden berusia dini.


Sintia berjuang agar putranya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Memakai pakaian terbaik. Agar tidak ada yang memandang rendah dirinya. Kini setelah ia berhasil menjadi orang nomor tiga di perusahaan besar ke dua di kota ini. Sang ibu malah tidak bisa menikmatinya. Sintia jatuh sakit gagal ginjal.


Aden duduk di sisi ibunya. Tubuh kurus itu di tempeli alat-alat penunjang kehidupan. Selang oksigen juga terpasang di hidungnya. Matanya terbuka.


"Bunda ...," panggil Aden lirih air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah.


"Aden ... putraku," panggil Sintia lemah.


Tangannya terangkat menyentuh wajah yang kini menatapnya dengan bersimbah air mata. Menghapus perlahan genangan basah itu.


"Tolong jangan tangisi, Bunda, Nak. Bunda mohon," pinta Sintia sedih.


Aden memejamkan matanya. Ia mencium tangan kurus ibunya. Sebisa mungkin ia tak tergugu. Sedang pasien di sebelahnya sedikit berdecak kesal.


"Jangan kebanyakan drama deh! Kek mo mati aja!" sindirnya sarkas.


Tangan Aden terkepal kuat. Ia menahan emosinya. Pasien di sebelahnya adalah seorang pemuda, entah apa sakitnya. Aden tidak tahu dan tidak peduli.


"Bunda," panggilnya dengan suara pelan sekali.


Sintia tersenyum. Mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Ia tahu hidupnya sudah tak lama lagi.


"Jaga diri ya, Nak. Jangan lupa sholat," pesan Sintia pada putra semata wayangnya.


Mata Aden terasa panas dan memerah. Tetesan bening itu tak berhenti mengalir bahkan semakin membasahi wajah tampannya.


"Nak. Jangan buat Bunda makin sedih, sayang," pinta Sintia ikut-ikutan menangis.


Isak tangis tertahan terdengar dari dua insan antara ibu dan anak itu. Pasien sebelahnya sudah tertidur. Sepertinya ia tak akan terganggu dengan apa pun.


"Bunda ...," rengek Aden.


"Nak, Ibu mohon," pinta Sintia juga dengan suara serak. "Tolong, ikhlaskan Bunda"


"Bun ... huuu ... uuu!" Aden tak mampu menahan tangisannya.


"Sayang, Bunda mohon. Tolong ikhlaskan Bunda, Nak. Ini sakit sekali, Bunda tidak kuat," pinta Sintia memohon.


Wanita itu juga menangis. Ia terus menyebut asma Allah. Aden akhirnya mengikhlaskan sang ibu. Ia pun melafadzkan kalimat syahadat di telinga ibunya. Perlahan Sintia mengikuti hingga akhir.


Detak di monitor berhenti dan membentuk garis lurus. Wajah Sintia semakin memucat dengan senyum tersungging di wajah cantiknya.


Aden kemudian berlari memanggil dokter. Para dokter berdatangan memeriksa keadaan Sintia.


"Catat kematiannya pukul 11.12. waktu setempat," ujar dokter pada salah satu perawat.


Perawat mencatat waktu kematian pasien. Dokter menepuk bahu Aden.


"Kami turut berbela sungkawa."


"Terima kasih, Dok," ujar Aden lemah.


Ia pun memberi kabar pada Terra, atasannya, begitu juga Rommy, jika ibunya meninggal dunia. Ia juga menelepon salah satu tetangga untuk mengabarkan pada RT setempat untuk menyambut jenazah.


Aden menggendong jenazah ibunya ke dalam ambulance. Ia tak menggunakan brangkar untuk membantunya. Pria itu menolak.


Pemulasaran jenazah dilakukan di rumah Aden. Terra dan Rommy sudah berada di sana bersama Budiman. Mereka menyambangi pria cerdas itu.


'Seluruh karyawan PT Hudoyo Group dan PT Hudoyo Cyber Tech mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Ibunda. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah dan semoga yang ditinggalkan mendapat ketabahan," ungkap Terra panjang lebar.


"Terima kasih, Nona, Tuan," sahut Aden mengucap terima kasih tulus.


Begitu banyak karangan bunga berdatangan. Doa dan bela sungkawa pun beruntun diucapkan dari berbagai pihak.


Aden mencium ibunya terakhir kali sebelum dimandikan dan dikafani. Setelah mencium ibunya. Para ibu-ibu yang biasa mengurus jenazah langsung memandikan mendiang Sintia lalu mengkafaninya.


Usai dikafani. Jenazah di shalatkan di masjid terdekat. Lalu diantar ke sebuah makam yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahan.


Makam baru ditimbun. Satu persatu pelayat meninggalkan makam. Terra memeluk Aden dan memberi kekuatan pada pria itu. Begitu juga Rommy dan Haidar. Suami Terra itu datang tepat ketika jenazah Sintia dimasukkan ke liang lahat.


Aden menatap gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga. Satu tetes air mata menitik.


"Terima kasih, Bunda. Atas semua pengorbananmu selama ini. Maaf, jika Aden belum bisa membahagiakan Bunda. Selamat jalan Bunda. Jika nanti Bunda ada di surga. Tolong ingat Aden, Bunda Panggil nama Aden. Hiks ... hiks ...!"


Aden mengusap air matanya kasar. Ia menghela napas lalu beristighfar.


"Selamat jalan Bunda. Semoga kita berkumpul lagi nanti di Jannah, aamiin."


bersambung.


innalilahi wa inna ilaiyihi radjiun.


next?