TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENGHADIRI PERNIKAHAN ADEN



Aden menikah. Hal ini membuat Terra dan Rommy terkejut, bahkan Gabe. Dan calon mempelai wanitanya adalah Jhenna. Sekretaris Rommy.


"Kalian kapan pacaran?"tanya Gabe bingung.


Aden dan Jhennaka pun hanya tersenyum simpul. Memang mereka selama ini menyembunyikan hubungan mereka. Jhenna lah yang meminta Aden untuk menikah. Aden yang mungkin sudah stress dengan jomlonya pun langsung melamar gadis itu di depan orang tuanya, dan diterima..


"Jadi karena kamu stress karena jomblo, trus ada cewe yang ngajak nikah, kamu mau gitu?" tanya Rommy setengah mencibir.


"Ish, Kak Rommy nih," tegur Terra.


"Lah, kan iya. Dia stress kelamaan jomlo nggak ada cewe yang deket, jadi mau aja diminta nikahin Jhenna!" sengit Rommy, "kok kamu bisa mau gitu Jhenna?!"


"Ya, Jhenna juga jomblo Pak. Saya, juga stress disuruh nikah sama orang tua. Lihat Pak Aden nggak punya pasangan, ya langsung aja minta dia jadi suami saya," jelas Jhenna.


"Ya, sudah. Kita doakan aja, biar lancar hingga hari H. Dua minggu lagi kan?" tanya Terra yang ditanggapi anggukan oleh sepasang calon pengantin.


"Ya, udah. Inshaallah kita datang. Kak Aden juga boleh cuti kok," ujar Terra.


"Terima kasih, Nona," ungkap Aden.


Terra mengangguk dan menepuk bahu pria kepercayaannya dan memeluk gadis yang sedari tadi merona merah karena bahagia luar biasa.


Budiman dan Gisel belum pulang dari Eropa. Pasangan itu masih menikmati momen bulan madu mereka. Terra menatap Dahlan. Pria itu juga masih jomlo.


"Kak Dahlan, nggak kepikiran mau nikah juga?"


Pria itu tersenyum. Bukan masalah ia mencari pasangan. Wajah tampan seperti Choi Siwon itu pun masih mencari istri pilihan hatinya.


"Tadinya punya. Tapi, sudah diambil orang, Nona," jawab Dahlan.


"Ck ... kasihannya," ledek Rommy.


"Ish, mentang-mentang udah sold out," cibir Terra.


Wanita itu datang ke kantor karena mengerjakan proyek Internet untuk layanan penerbangan. Mereka masih mengkaji. Darren telah memberi solusi melalui BraveSmart. Ponsel itu bisa beroperasi di atas udara dalam keadaan signal menyala.


Perubahan cuaca dan tekanan udara pun sudah masuk ke rancangannya. Terra membentuk tim evaluasi, mereka telah bekerja selama tiga tahun belakangan ini. Hasilnya memang sedikit bisa diprediksi.


"Kita masih mengevaluasi semuanya. agar tidak terjadi error yang bisa membahayakan jalur transportasi udara," sahut Gabe ketika rapat tadi.


Untuk masalah perijinan pun sedikit kesulitan. Tetapi, melalui ponsel ciptaan putra sulungnya, Darren. Hal itu pun bukan masalah lagi.


"Kita baru mengiklankan produk ini dua kali. Antusias para sultan yang menginginkan kenyamanannya dalam perjalanan udara memberi respon positif. Pihak Jepang dan China berlomba menanam investasi mereka," jelas Jhenna.


Terra mengangguk sangat puas dengan semuanya. Jika sampai bisa menembus 60% saja kendali cuaca. Ia bisa langsung memasarkan "Flying Internet" ini.


Dahlan dan Gio menjadi pengawal Terra hari ini. Ia pun pulang setelah melakukan rapat tadi. Pengembangan proyek Flying Internet sudah mencapai 55% tinggal 5% lagi. Maka semua selesai.


Mereka pulang bertepatan dengan Rion dan Lidya pulang. Sedang Darren sedang berlatih paskibra lagi. Ia kini terpilih menjadi petugas bendera di pemerintahan kota. Kini ia sedang masa karantina. Jadi akan pulang dua hari lagi.


Disambut suka cita oleh empat anak kembarnya. Setelah mengucap salam, mereka masuk ke dalam. Terra menciumi semua anaknya.


"Ganti baju dulu, sudah itu kita makan siang," titahnya lembut.


Lidya dan Rion menurut. Keempat anak kembarnya yang kini sudah berusia tiga tahun itu makin cerdas dan pintar. Ada saja kelakuan mereka menjahili para pengawal atau pekerja rumah.


Usai makan siang. Mereka pun tidur siang dalam satu kamar. Ketika bangun Haidar sudah pulang dan menciumi mereka semua termasuk istrinya.


"Assalamualaikum, sayang. Selamat sore," sapanya.


"Wa'alaikum salam, sore juga Papa," balas Rion dan Lidya.


Terra mengatakan pernikahan Aden dan Jhenna. Haidar ikut terkejut mendengarnya.


"Kapan mereka pacaran?" tanyanya.


Haidar mengangguk. Terra juga mengatakan permintaan Aden pada suaminya kesediaan untuk menjadi saksi pernikahaannya.


"Tentu saja, aku mau, sayang. Kita berarti berangkat pagi, ya. Kita ajak semua anak-anak biar rame," ujar Haidar menyetujui keinginan Aden.


Waktu berlalu, hari cepat berganti. Kini, Budiman datang membawa istrinya. Gisella Elizabeth Dougher Young. Pria itu semakin tampan setelah memiliki istri.


Gisella mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala IT. Wanita itu kini mengurus perusahaan Budiman, suaminya. Terra hanya bisa pasrah saja. Lowongan kerja kembali dibuka. Viola masih masa tugas di Jepang tiga tahun mendatang.


Kini Keluarga besar Terra sudah mendatangi rumah Jhenna bersama Aden. Pria itu sedikit gugup. Terra menggenggam tangan pria itu.


Aden berhadapan dengan ayah dari Jhenna. Mengucap ijab kabul dengan lantang dan sekali tarikan napas.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Kadi.


"Saah!" teriak Haidar dan Rommy bersamaan.


Akhirnya Aden dan Jhenna pun sah secara agama dan negara sebagai pasangan suami istri. Hanya binaran kelegaan di wajah Aden dan binaran bahagia dari wajah Jhenna.


Kini keduanya bersanding secara serasi di pelaminan. Setelah acara foto-foto. Terra dan keluarga pun memakan hidangan yang telah disiapkan. Usai makan mereka kembali mendatangi pengantin.


"Selamat ya, Kak. Semoga sakinah mawadah warahmah hingga jannah!" sebuah doa diucapkan tulus dari Terra.


"Aamiin, makasih, Nona," ujar Aden dan Jhenna mengucap terima kasih dengan tulus.


Setelah itu mereka pun pulang. Rion kini makin irit bicara setelah sekolah. Pria kecil itu mulai memperlihatkan arogansinya pada semua orang. Terra sering mendapat aduan dari guru Rion.


"Putra saya memiliki hak untuk bersikap. Selama tidak merugikan orang lain, saya rasa tidak masalah. Jika ada yang takut dengannya, itu masalah nyali anak itu terhadap putra saya!" begitu pembelaan Terra pada Rion.


"Mama," panggilnya.


"Ada apa Baby?"


"Boleh ya, Rion ikut kelas akselerasi. Cape temenan sama anak kecil," pintanya memohon.


"Tidak sayang. Kamu terlalu kecil untuk ikut itu. Nikmati saja sekolah ini. Baby bisa belajar untuk menilai orang lain, kan?" jawaban Terra membuat Rion menghela napas panjang.


"Lagian kasihan Kak Lidya jika kamu ikut kelas akselerasi, sayang," sahut Haidar mengingatkan putranya.


"Ah, iya lupa," sahut Rion teringat.


"Nggak apa-apa. Kalau Rion mau ikut kelas akselerasi. Biar Kakak ikut kelas biasa saja. Kakak senang mengamati teman-teman. Jadi, Lidya tahu mana yang tulus atau tidak," jelas Lidya tidak mempermasalahkan keinginan adiknya itu.


"Mama, Nai nti eunda mau pegi setolah. Maunya setolah di lumah aja!" pinta Nai.


"Al, mau syepolah biasya taya Ata' Ion!" sahut Al.


"Daud judha, mau taya Ata'Ion!"


"Sean judha mau Ata' Ion!"


Nai bingung. Hanya dia sendiri yang sekolah di rumah. Terra menatap putrinya itu.


"Jadi, Nai masih mau sekolah di rumah?" Nai menggeleng.


"Ikut Ata' Ion aja deh."


bersambung.


samawa Aden dan Jhenna!


next?