TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TELEPON DARI SELENA



Persiapan pernikahan tengah dilakukan. Virgou nampak harus bolak-balik ke duta besar Eropa untuk mengurus dokumen pernikahannya.


Begitu pun Puspita. Karena akan menikah dengan pria asing, semua berkasnya pun harus lengkap. Seperti Akta kelahiran terbaru (asli). Fotokopi kartu identitas (KTP) dari negara asal. Fotokopi paspor.Bukti tempat tinggal atau surat domisili (bisa berupa fotokopi tagihan telepon atau listrik). Formulir pernikahan dari kedutaan yang bersangkutan.


Begitu banyaknya berkas yang harus diurus membuat pria itu sedikit mengamuk. Jika saja Frans tidak bersamanya. Entah apa jadinya kedutaan yang ia kunjungi. Mungkin sudah Virgou bakar.


Virgou menyerahkan semua dokumen-dokumen itu dalam satu berkas.


Sedang Puspita menyerahkan. Akta kelahiran asli fotokopi KTP. Fotokopi surat N1, N2 dan N4 dari Kelurahan. Untuk Virgou bawa ke kedutaan.


Virgou menatap gadis pujaannya penuh minat. Pria itu sungguh-sungguh memuja Puspita. Selain memang ia cantik. Perangainya juga lucu. Tegas dan mandiri. Virgou sangat menyukai wanita seperti itu.


Tentang tubuh mungilnya. Memang itu lah selera pria dengan sejuta pesona itu. Ia akan mudah merengkuh tubuh minimalis itu.


Pria itu segera meninggalkan kekasihnya jika tidak ingin kalap. Puspita sampai tertawa melihat wajah gusar pria yang kini ia cinta. Betapa dulu ia ingin menyerahkan kesuciannya untuk Virgou.


"Dia memang tampan luar biasa. Siapa yang mau menolaknya?" seloroh Puspita dalam hati.


Hari berlalu. waktu berganti. Hari pernikahan makin dekat. Pihak laki-laki dan perempuan sama sibuknya. Bram menghadiahkan ballroom presiden suitenya untuk pesta pernikahan Virgou.


Sedang untuk acaranya, Virgou menyerahkan semua acara pada Wedding Organizer.


Banyaknya kolega dan keluarga yang diundang, membuat acara menjadi padat. Virgou pun membooking dua blok hotel milik Bram itu selama dua hari penuh.


Ketika semua sibuk. Virgou yang sedang menyelesaikan beberapa pekerjaannya bersama asistennya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Sebuah nomor dari luar negeri. Pria itu tak mengenali siapa penelepon tersebut. Ia pun mengabaikannya.


Karena kesibukan yang padat. Ia mengabaikan getaran di saku celananya. Pria itu berhenti ketika waktu masuk shalat dhuhur dan ashar. Ketika Maghrib ia menghentikan semua pekerjaannya.


Virgou berjalan menuju ruang pribadinya. Ia membersihkan seluruh tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi hanya dililit handuk di bagian bawahnya. Pria itu menyugar rambut basahnya. Otot perut dan dada yang terbentuk. Begitu seksi terlebih kulitnya yang putih bersih.


Cetakan roti sobek terpampang jelas di perut dan dadanya. Dadanya bidang dan tegap. Tangannya kekar terlihat otot yang menyulut di lengannya. Iris birunya. Rambut pirang kemerahan. Bibirnya yang tipis, rahangnya yang kokoh. Punggungnya yang ramping. Jangan lupakan benda keramatnya.


(jangan dibayangin yaa. Othor nggak relaaa!).


Sungguh luar biasa tanpa cela. Maka tak heran dulu para wanita mau bertekuk lutut di bawah kukungannya.


Pria itu segera mengenakan semua pakaiannya. Menggelar sajadah dan memulai shalatnya. Usai salam ia berdzikir memuji keagungan Tuhan. Selesai itu ia berdoa meminta kelancaran semuanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Ia segera melihatnya. Nomor asing kembali meneleponnya. Ada dua puluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Hanya satu pesan dari kekasihnya yang langsung ia buka dengan senyum ceria.


(Jangan lupa shalat ya, Mas. Makannya juga jangan telat!).


Virgou tersenyum membaca pesan itu. Lalu segera membalasnya. Ia memang tahu, Puspita tidak akan membalas pesannya lagi. Karena pasti gadis itu melanjutkan mengaji hingga isya nanti.


(Iya, sayang. Terima kasih, ya ... duh jadi pengen cepet halalin kamu. Biar diperhatiin terus).


Pesan terkirim. Ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama. Karena penasaran. Ia pun menggeser bulatan hijau di layar ke atas.


"Halo ... Sayang, masih ingat aku?"


Suara lemah dan sangat lirih. Virgou mengernyitkan dahinya. Ia tidak tahu siapa yang meneleponnya.


"Aku Selena, apa kau ingat?" ucap wanita berbalut baju pasien.


Sosok wanita yang dulu sangat bangga dengan kecantikannya. Tubuhnya yang proporsional. Matanya yang indah kini berubah drastis.


Tubuh itu kini tinggal kulit pembungkus tulang. Wajahnya mirip tengkorak. Matanya sayu. Rambutnya tipis. Wajahnya. Seperempat kerusakan di wajah wanita itu tak bisa diperbaiki. Alisnya gundul, kulitnya memerah dari pipi sebelah kanan menyerong ke dekat hidung lalu tarik lurus ke atas ubun-ubun tanpa ditumbuhi bulu. Bahkan kepalanya botak di bagian itu.


Banyak alat penunjang untuk ia tetap hidup. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Kedua orangtuanya hanya menatapnya dengan penuh rasa iba. Uang mereka tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan putri mereka.


Selena kini mengidap kanker otak stadium akhir. Tidak ada yang bisa dilakukan. Benturan hebat yang ia dapatkan memunculkan virus dan menyebabkan kanker di otaknya.


"Ah, Selena. Apa kabarmu? Kau sudah tidak pernah datang setelah aku usir waktu itu. Ternyata kau tau diri juga ya."


Perkataan Virgou membuat hatinya sakit. Ia menetes kan air matanya.


"Aku ... aku sakit, sayang," ucap Selena sambil menangis.


"Hentikan panggilan itu. Kita tak memiliki hubungan seintim itu, Selena," sahut Virgou kasar.


"Baiklah. Semoga kau lekas sembuh ya. Maaf, jangan hubungi aku lagi. Selamat tinggal!"


Sambungan telepon terputus.


"Halo Vir! Virgou!" pekik Selena.


"Virgou aku mencintaimu ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


"Tidak adakah rasamu padaku sedikit saja. Hanya untuk kali ini ... hiks ... hiks!"


"Sebentar lagi aku mati, Vir!"


Selena histeris. Para dokter langsung memberikan penanganan. Menyuntikkan obat penenang. Selena pun tertidur dengan air mata. Sedang kedua orang tuanya hanya bisa menangis menyesali semuanya.


Andai waktu bisa terulang. Mereka akan lebih memperhatikan putri semata wayang mereka.


Sedang di tempat Lain. Virgou langsung memblokir nomor tersebut. Ia berencana setelah pernikahan akan mengganti nomor ponselnya.


"Maaf Selena. Aku tahu, aku banyak melakukan kesalahan padamu, walau seratus persen itu bukan salahku. Maafkan aku," ucap pria itu penuh penyesalan.


Ia pun menangis di atas sajadah. Pria itu meminta pengampunan pada sang maha kuasa. Betapa banyak dosa yang ia lakukan dahulu.


"Ampuni hamba ya Allah ... ampuni hamba ... hiks .. hiks."


Pria itu berdiri, menggeser posisi sajadahnya. Ia pun melakukan shalat taubat nasuha. Tak henti air mata mengalir dari sudut matanya.


bersambung.


penyesalan itu selalu datang terlambat. Kalau duluan itu namanya pendaftaran.


next?