TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KELUARGA



Hari makin lama makin sore. Anak-anak baru selesai mandi. Mereka tampak segar. Sky lengket dengan Saf, walau ada tiga bayi dalam boks menatapnya. Tampaknya bayi itu tak peduli.


"Ada apa baby?" tanya Darren.


"Tubuhnya sedikit hangat, kemungkinan ia kelelahan setelah seru-seruan dan kurang istirahat," jelas Saf.


"Sayang, sama baba sini," ajak Budiman.


Pria itu tak enak jika putranya merepotkan istri dari tuan mudanya. Sedang Sky malah merengek ketika hendak diambil alih oleh ayahnya.


"Sudah tidak apa-apa, ba," ujar Saf.


Sky memeluk wanita bertubuh besar itu ala koala. Sedang Benua juga iri ingin dipeluk oleh Safitri.


"Uma, Benua juga mau dipeluk," rengeknya.


Saf terkekeh, Benua menyurukkan tubuhnya ke pelukan wanita itu. Dengan penuh kasih sayang, perempuan yang baru saja diberi anak tiga ini memang sangat menyayangi anak-anak.


"Benua sama mama sini," ajak Terra.


Arion dan Arraya ada dipelukan kakeknya, sedang Bomesh dan Domesh ada dipelukan Jac. Putri menciumi dua kakak beradik itu dengan gemas.


Sedang Harun dan Azha berada dipekukan ayah mereka masing-masing.


"Daddy ... Alun pawu padet payi," ujarnya tiba-tiba.


Hal itu menbuat Puspita terbatuk. Sedang yang lain cukup terkejut mendengar permintaan bayi menjelang dua tahun itu.


"Sayang, usia mommy sudah tidak boleh punya adik lagi," sahut Khasya.


"Tenapa?" tanyanya heran.


"Nanti kamu tahu jika sudah besar," sahut Virgou menimpali.


Usia istrinya memang sudah mau menginjak empat puluh. Sedang dirinya nyaris mau tujuh puluh tahun. Tak ada yang tahu usia pria dengan sejuta pesona itu. Ada yang mengira dirinya sudah mau delapan puluh.


"Daddy juga sudah tua sayang," ujar Virgou.


"Penen punya dedet taya Baby Alsyad," ungkapnya.


Virgou menciumi putranya itu dengan gemas. Ia sudah cukup tua jika memiliki anak lagi. Ia takut tak bisa mengurus jika memiliki anak lagi nantinya.


"Pangsit rebus udah siap!" seru Seruni.


Sky dan lainnya antusias. Memang hanya tangan Seruni atau Saf yang cocok di mulut anak-anak selain masakan ibu mereka tentunya.


"Papa Pemian satu saza!" teriak Sky berebut makanan.


"Ini masih banyak baby, jangan takut, oteh!" sahut Seruni.


"Itu punya papa semua!" goda pria tampan itu.


"Dem, jangan menggoda adikmu!" tegur Dominic tak suka.


Sky nyaris saja memarahi pria besar di hadapannya jika saja Demian masih terus menggodanya. Demian hanya mencebik sebal. Tapi, memang ia hanya menggoda salah satu perusuh itu.


"Papa ... bihat sana!" titah Bomesh tiba-tiba sambil menunjuk arah belakang Demian.


Pria itu menoleh arah yang ditunjuk Bomesh. Tak ada apa-apa. Ia kembali memutar leher ke arah bayi itu. Di sana terlihat dua bayi sedang berusaha menghabiskan makanan di mulut mereka. Pria tampan itu menatap piringnya. Kosong.


"Astaga ... aku baru saja dikerjai anak belum lima tahun!" dumalnya gemas.


Dominic tertawa terbahak-bahak. Ia menertawakan putranya.


"Kau berhadapan dengan bocah paling berani dan paling cerdas sejagad raya, nak!" ucap pria itu mengejek.


Demian meletakan piringnya. Bomesh dan Sky pelaku utama pencurian pangsit rebus di piring pria itu tampak tenang.


"Kalian akan mendapat hukuman!" sahut Demian gemas bukan main.


"Lali!" teriak Sky langsung melarikan diri.


Bomesh pun ikut lari. Sayang langkah kaki mereka yang pendek pastinya tak dapat menandingi langkah orang dewasa.


Demian mengangkat keduanya dan menciumi perut bulat mereka hingga tergelak.


"Tau pa'atan meleta!" seru Azha.


"Payo pita pantu Ata' Sty ban Ata' Bomesh!" serunya lagi.


Maka, Arion, Arraya, Harun dan Azha menyerang pria besar itu. Hanya Benua dan Domesh saja yang tidak. Keduanya hanya berdecak.


Terra dan Haidar menatap seluruh keluarganya yang kini mulai ribut. Haidar merangkul pinggang istrinya yang sudah kembali ramping.


"Apa kau bahagia, sayang?" tanyanya berbisik.


"Ya, Te bahagia sekali," jawab wanita itu sambil mengangguk tegas.


"Aku sangat mencintaimu sayang," ujar sang suami mesra.


"Te juga sangat dan sangat mencintai mas," sahut Terra membalas.


Haidar mengecup pelipis istrinya penuh cinta. Keduanya berangkulan mesra. Darren menatap sepasang suami istri yang dulu merawatnya penuh kasih sayang.


"Darren sangat bangga memiliki kalian berdua sebagai orang tua. Kalian adalah orang tua terbaik yang pernah ada di muka bumi ini," ujar pria itu menyanjung Terra dan Haidar.


Perlahan ia mendekati keduanya. Lalu memeluk mereka.


"Sayang," panggil Terra sedikit terkejut.


Haidar pun sama. Tapi melihat putranya yang memeluk, ia pun membalas pelukan itu.


"Darren sayang kalian berdua. Kalian adalah segalanya bagi Dar dan semua adik-adik," ujar pria itu tulus.


"Papa dan mama juga sangat sayang kalian semua. Kalian ada napas dan jiwa kami," balas Haidar tak kalah tulus.


Bart dan Bram menatap hal itu dengan pandangan haru.


"Ini semua berkat cucumu Terra, dad. Dia lah pemersatu keluarga dan didukung oleh tingkah konyol semua keturunan kita," ujar Bram haru.


Bart tersenyum bangga, ia sangat setuju perkataan mertua dari cucunya itu. Bahkan sosok Virgou yang menjadi momok menakutkan bisa berbaur dan bercanda dengan para bayi.


"Allah melimpahkan banyak cinta pada dua tangan cucuku. Terra dan Lidya. Andai Lidya tak memiliki kekuatan itu. Mungkin kita tak akan pernah berkumpul seperti ini!" Bram mengangguk setuju.


"Andai Virgou adalah sosok seperti tujuh belas tahun lalu ... mungkin kita sudah berada dalam tanah selamanya," cicit Bram sedikit ngeri.


"Ah ... aku pastikan itu. Tapi, menurut Leon. Virgou pernah menyatakan ketidak sediaannya membunuh kami," sahut Bart.


"Oh ya? Apa itu?"


"Ia mengatakan, istilah darah lebih kental dari air. Itu lah yang menyebabkan Virgou tak membunuh kami, padahal kau tau bagaimana kami menghancurkan dirinya sejak ia masih belia," jelas Bart panjang lebar.


Bram berdecak kagum ketika menatap Lidya yang kini bergayut manja pada sosok monster itu.


"Pelukan Lidya memang sangat kuat. Aku saja sampai tak bisa bernapas ketika dipeluk olehnya," ujarnya.


Dua pria renta itu mengingat pertama kali ketika bertemu dengan gadis kecil itu. Ada senyum ketika mengingat betapa usilnya Lidya yang kini menurun pada beberapa adiknya.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Tiba-tiba Herman datang menyela percakapan. Bart merangkul pria itu. Herman sudah ia anggap putranya sendiri. Kini ia juga iri. Virgou lebih mempercayai Herman di banding dirinya.


"Hanya mengenang masa lalu," jawabnya.


"Hei, katakan. Bagaimana kau menjinakkan monster itu?" tanya Bart sambil mengarah pandangan pada pria sejuta pesona itu.


"Ah ... aku dibantu Lidya dan Terra tentunya, walau aku tak tau pasti, atas dasar apa Virgou mempercayaiku. Padahal aku sama jahatnya dengan mu, dad!"


Bart berdecak sebal. Bram juga menunjukkan aksi tak percaya pada ucapan besannya itu.


"Sudah katakan saja. Biar kami bersuhu padamu," paksa Bram.


"Hais ... aku benar-benar tak tau. Tapi, jika kalian mau tau, sebenarnya Virgou lebih manja dengan istriku," jawab Herman setengah berbisik.


Sangking asiknya mereka berbincang. Tiba-tiba.


"Hayo ... kenapa kalian bergosip tentang aku!"


Ketiga terkejut bukan main. Herman pun langsung kesal pada pria sejuta pesona itu.


"Kau ingin membuatku cepat mati!" teriaknya tanpa filter.


"Ayah!" tegur Khasya dan Puspita.


"Spasa yan bitin tate pati?" tanya Harun dengan nada tak suka.


bersambung.


ah ... kan ngomong sembarangan di depan bayi ...


next?