TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BEREBUT PERHATIAN



Kabar tentang Terra Arimbi Hudoyo sudah menyebar di penjuru kampus, banyak dosen mulai menarik perhatian gadis itu.


Terra memang pendiam, tapi, ia sopan pada orang lebih tua termasuk para dosen. Gadis itu tak pernah menampik apa pun perintah dosen jika itu perihal pendidikan atau tugas kuliah.


Kecerdasan Terra juga tidak diragukan lagi. Gadis itu memilih mempercepat semesternya agar cepat selesai.


Karena banyaknya teman pria kini mulai berebut perhatiannya,.membuat Terra makin pusing. Padahal jelas-jelas ia sudah mengatakan jika dirinya telah memiliki kekasih.


Namun, karena memang tidak ada satu pun yang percaya. Maka semua pria terus mengejar perhatian Terra.


Sehingga gadis itu memutuskan untuk menghubungi Haidar, kekasihnya.


"Pacar kamu, Pak Haidar, dosen killer itu?" tanya salah seorang pria setengah tidak percaya.


"Pria kulkas di kampus adalah pacar Terra. Jangan bercanda kamu!" teriaknya tak percaya.


Terra masih berusaha menghubungi, Haidar. Sayang, ponsel kekasihnya itu tidak aktif. Hal itu membuatnya kesal bukan main.


'Mas Haidar pasti sibuk banget. Sampai nggak aktif nomornya,' keluh Terra dalam hati.


"Ck ... mungkin khayalan dia kali bisa pacaran sama Pak Haidar!" sela Arina salah satu rival Terra.


Terra tak menanggapi, baginya percaya atau tidak orang lain perihal hubungannya dengan Haidar bukan masalah untuknya.


Gadis itu melanjutkan makannya. Es lemonnya habis. Padahal Terra tak sedang memberi sinyal pada siapa pun masalah es limunnya habis. Tapi, sontak semua pria memberinya air dalam kemasan.


Terra mengambil air mineral dalam kemasan gelas yang terdekat dengan jangkauannya, lalu mengucap terima kasih sambil tersenyum. Hal itu membuat pria yang diambil air pemberiannya senang bukan kepalang. Sedang yang lain hanya bisa mengigit bibir mereka, kecewa.


Terra menyunggingkan senyumnya. Mungkin jika gadis lain akan memanfaatkan keadaan. Tapi, sayang, Terra bukan gadis seperti itu.


"Eh, Te nanti kamu gabung di anggota kami, ya. Soalnya kan kamu sederajat sama kita-kita anak orang kaya," tiba-tiba segerombolan gadis cantik menyeruak di antara kerumunan cowok-cowok ganteng.


Terra menyipitkan mata. Ia ingat sekali, tentang segerombolan gadis-gadis cantik ini. Menamakan diri mereka "Sguad Riches Girls" pernah memandang rendah Terra.


"Sayangnya, gue bukan anak orang kaya. Tapi, gue emang kaya," seloroh Terra sombong.


Sebenarnya hati Terra merasa ngenes dengan perkataannya sendiri. Ia tak ingin menyombongkan diri.


"Sok amat lu. Kalo bukan bokap lu yang punya perusahaan, apa iya lu bisa kaya!' sentak Gloria salah satu anggota geng cewe cantik tersebut.


Terra makin pusing. Keahlian bicaranya yang memang minim, karena dirinya lebih suka bertindak dari pada bicara ini. Akan kalah telak jika diajak berdebat. Terra lebih suka mengulas buku.


"Ya emang sih. Tapi gue nggak mau gabung ama grup kalian, gimana tuh?" ujar Terra malas.


"Salah. Yang bener adalah gaya berpikir kalian yang menentukan kualitas kalian masing-masing. Kalau soal gaya. Orang ngutang juga bisa gegayaan kek kalian," semprot Terra tajam.


Terra berdiri, makanannya sudah habis. Menatap gerombolan orang yang masih enggan membubarkan diri.


"Kalian bisa minggir?!" pinta Terra dingin.


Seperti laut terbelah. Mereka membuka jalan untuk Terra. Gadis itu berlalu begitu saja. Sedikit berlari karena bel masuk berbunyi. Hari ini kembali ada kuis dadakan. Semua mahasiswa maupun mahasiswi di kelas mengeluh kecewa pada dekan mereka.


"Duh, kasih kita waktu buat belajar sebentar, Bu!" pinta salah satu mahasiswi.


"Baik. Saya akan kasih waktu sepuluh menit untuk membuka buku!" ujar Bu Islah tegas.


Jika Haidar adalah dosen killer pria. Sedangkan Bu Islah Hairunissa adalah dekan killer versi cewe.


Banyak protes keluar dari mulut pada mahasiswa. Hal itu membuat dekan killer itu marah bukan main.


"Jika kalian keberatan. Silahkan keluar dari kelas saya!" bentaknya.


"Dan jangan harap mendapat nilai dan mengulang tahun depan!" ancamnya.


Semua diam, duduk di bangku masing-masing. Membuka buku mereka dengan wajah kusut, takut dan pucat. Mereka tentu tidak mau di D.O. gara-gara tidak ada nilai bukan?


Kertas tugas dibagikan. Ketika mendapatkan kertas masing-masing banyak hembusan kecewa terdengar dari para mahasiswa juga mahasiswi yang ada di kelas.


Otak Terra yang encer kayak air ledeng itu, tentu tidak berkeberatan dengan adanya kuis mendadak tersebut. Hanya diberi waktu sepuluh menit untuk membaca. Sejurus kemudian gadis itu dengan tekun mengerjakan kuisnya.


Sebenarnya Terra mampu menyelesaikan kuisnya dalam waktu tidak sampai delapan menit. Tapi, gadis itu sengaja tidak langsung menyerahkan lembar tugasnya pada dekan. Ia masih meneliti jawabannya apakah ada yang salah.


Hingga bel berbunyi, dekan meneriakkan agar para mahasiswa dan mahasiswi mengumpulkan kertas kuis mereka.


Setelah selesai mengumpulkan, mereka keluar satu persatu dari kelas, begitu juga Terra. Gadis itu akan segera pulang untuk menyiapkan pesta ulang tahun Rion minggu ini.


Islah tinggal sendiri dalam kelas. Wajahnya antusias ketika membaca jawaban dari salah satu mahasiswi yang digadang-gadang kecerdasannya itu.


"Benar-benar otak jenius. Kuis ini dua tingkat di atasnya. Tidak ada satu pun yang salah," pujinya sambil tersenyum.


"Terra harus bergabung di tim riset aku. Aku pastikan gadis itu menurut," ujar ya yakin. "Haidar. Kita akan bersaing nanti!"


bersambung.


wah ada apa ini??