TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HUKUMAN DAN DUKA



Solomon kini terduduk di kursi pesakitan. Ia dituduh dengan pasal pencurian dan penyiksaan serta penyalahgunaan jabatan dan juga kasus malpraktek.


Ternyata banyak mantan pasiennya yang melaporkan oknum dokter ini.


Sedang rumah sakit milik dari Demian Starlight ini langsung mengalami perombakan besar. Seluruh direksi dan jajaran juga kini masuk bui dengan tuduhan penyalah gunaan wewenang.


"Lidya, apa kau sudah mengumpulkan semua bukti untuk menyeret mereka yang bermain ketika kau melakukan konseling gratis?" tanya Haidar.


"Sudah, Pa. Iya sudah berikan pada pengacaranya Grandpa Bart," jawab Lidya.


Hari ini, Haidar, Herman dan Virgou harus pulang. Mereka sudah cukup lama meninggalkan pekerjaan mereka. Terutama istri-istri mereka. Para pria itu sudah kangen dengan pelukan wanita yang mereka cintai.


"Gio, kau lindungi secara penuh Nona mu!" titah Herman pada pria yang ada di hadapannya.


"Baik laksanakan Tuan!" sahut pria itu lalu membungkuk hormat.


"Kami pulang dulu ya, Nak," ujar Sriani.


Gabe, Widya dan anak-anak mengantarkan mertua dan semuanya. Mereka saling berpelukan. Bart, Frans dan Leon tak ikut mengantar, mereka harus ke perusahaan pagi-pagi sekali.


"Papa pergi ya, assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam!" sahut Lidya.


Ketiga pria dan satu wanita itu pun meninggalkan bandara menuju pesawat pribadi milik Bram. Pria itu juga masih tinggal. Ia akan pulang dua hari lagi.


Hari pun berlalu. Lidya kini duduk di kursi sebagai saksi untuk kejahatan Solomon. Pria itu hanya bisa tertunduk. Pengacara pria itu juga bungkam dengan semua jawaban gadis itu.


"Nona, apa benar jika anda melihat saudara terdakwa menyiksa Nyonya Valerie?" tanya pengacara menjebak.


Valerie dan Antonius hadir di persidangan. Wanita itu juga memberi kesaksiannya.


"Keberatan yang mulia, pengacara terdakwa mengalihkan berita acara!" sahut pengacara dari Lidya.


"Keberatan diterima!" sahut hakim lalu meminta pengacara terdakwa untuk tidak mengubah jalur BAP.


"Baik lah. Saya hanya memastikan saja, jika apa yang dikatakan penyiksaan itu hanya asumsi seorang dokter jiwa. Toh, kita tahu, jika Nyonya Valerie tidak benar-benar gila dan sebagian perawat mengatakan jika Nyonya Valerie sering menyakiti diri sendiri," sahut pengacara itu.


"Tuan apa ingin bukti lain, tentang penyiksaan itu benar atau tidak?" tanya Lidya ingin tahu.


"Apa anda bisa buktikan itu?" tanya pengacara Solomon.


Solomon tersenyum miring. Tentu saja argumen Lidya akan terbantahkan, semua video membuktikan jika Valerie menyiksa dirinya sendiri.


"Yang mulia, apakah saya boleh memberikan bukti sekarang secara nyata?" pinta Lidya pada hakim..


Hakim yang berusia enam puluh tahun itu begitu penasaran bukti apa yang diberikan pada Lidya. Terlebih, jika bukti itu dihadirkan secara langsung.


"Silahkan Nona Dougher Young!" jawab hakim mempersilahkan.


"Baik, terima kasih yang mulia!"


Lidya mengedarkan pandangannya. Ia kemudian membuat sebuah review dadakan.


Semua ternganga mendengar review gadis bertubuh mungil itu. Antonius bergidik ngeri melihat kegeniusan Lidya.


"Kita misalkan begini saja. Maaf, untuk anda Nyonya berbaju hijau bisa ke mari," pinta Lidya.


Wanita itu memandang hakim. Pria tua itu mengangguk mengijinkan. Wanita itu pun berdiri.


"Nyonya maafkan dan ijinkan saya memperlihatkan sesuatu yang anda sembunyikan," ujar Lidya.


Sebuah memar yang sudah mulai menghitam. Wanita itu tergagap. Ia sedikit takut, tetapi sentuhan Lidya menenangkannya.


"Ini adalah pukulan yang dibuatnya sendiri!" kata Lidya melanjutkan review-nya.


"Saya ahli kejiwaan. Beliau memiliki sindrom Self-injury adalah perilaku menyakiti dan melukai dirinya sendiri, yang dilakukan secara sengaja. Ini merupakan salah satu bentuk dari gangguan perilaku yang terkait dengan sejumlah penyakit kejiwaan!" jelasnya panjang lebar. "Atau bisa juga disebut Self-Harm yang artinya sampai menyakiti diri sendiri!"


"Kenapa Nyonya ini sampai melakukan Self-Harm? Karena ketidaktahuan diri mengenai bagaimana cara mengatasi rasa emosi negatifnya, kurangnya pemahaman tentang emosi yang dia rasakan, kesulitan mengekspresikan emosi membuat individu tersebut akhirnya melakukan self-harm dan menjadikannya sebagai jalan keluar!" jelasnya lagi.


"Apakah saya benar, Nyonya?" tanya Lidya.


"Ya, anda benar Dokter, saya memang tengah mengalami situasi sulit dalam hidup saya beberapa tahun ini dan saya tidak tau harus apa. Saya putus asa Dok!" ujarnya dengan wajah pasrah. "Saya sampai ingin mengakhiri hidup saya dengan cara yang menyakitkan, hingga saya benar-benar merasa puas."


"Apa anda ingin sembuh?" tanya Lidya.


Wanita itu tampak ragu melihat gadis kecil berhijab di depannya. Kemudian perlahan ia pun mengangguk.


Hakim terpana merasakan kekuatan yang dimiliki oleh Lidya. Ia baru kali ini merasakan aura yang begitu besar ketika gadis bertubuh mungil itu memberikan treatment dan healingnya. Bahkan ia pun merasakan detak jantungnya sangat normal.


Bukan hanya hakim yang merasakan tetapi seluruh ruangan merasakan aura healing tersebut.


Pengadilan ditunda. Semua bukti mengatakan jika Solomon bersalah. Bahkan, Lidya bisa membedakan mana pukulan yang dipukul oleh diri sendiri dengan dipukul oleh orang lain.


Gio, Juan dan Hendra berikut pengawal lainnya melindungi nona mereka dari para wartawan yang begitu banyak.


"Nona, dari mana anda mendapat kekuatan itu?" tanya wartawan.


"Nona, anda bukan penganut ilmu hitam dan voddo, bukan?"


"Nona, apa benar tangan anda adalah tangan Tuhan?"


"Untuk pertanyaan pertama saya tekankan. Bahwa saya tidak memiliki kekuatan apa pun! Semuanya atas kuasa Tuhan! Kedua, saya orang beragama! Saya tidak mengikuti aliran sesat manapun termasuk Voddo terakhir. Tangan saya adalah tangannya manusia biasa, hanya titipan yang bisa diambil oleh Tuhan kapan saja! Terima kasih!"


Lidya menyudahi konferensi persnya. Para wartawan mesti terdorong keluar karena begitu kuatnya penjagaan Lidya. Bahkan ketika Valerie dan Antonius keluar pun para wartawan tak mampu menyerbu mereka karena pengawalan Antonius juga sangat ketat.


Kini baik Lidya dan Valerie menunggu keputusan hakim untuk menghukum Solomon dan kasus lainnya. Lidya hanya memberi kesaksian pada kasus Valerie saja. Sedang untuk konseling yang dicatut bayaran pada pihak management rumah sakit, Lidya hanya memberi pernyataan tertulis jika dia tak menarif bayaran sepeserpun, bahkan konseling itu ia biayai sendiri atas inisiatif para narasumber kemarin yang mengikuti seminar.


Sehabis persidangan, gadis itu kembali ke rumah sakit. Ia harus melakukan konsulnya. Ada delapan orang yang butuh penanganan serius.


"Dok, Nona Amolia telah meninggal dunia tadi pagi," sahut salah seorang asistennya memberi kabar.


Lidya terhenyak. Gadis itu pun menanyakan di mana jasad Amolia disemayamkan.


"Mari ikut kami, Dok!" ajak perawat itu.


Lidya mengikuti. Gio dan lainnya berjalan mengiringi nona mereka. Ketika sampai pintu tempat di mana Amolia disemayamkan. Terdengar tangisan memilukan dari dalam ruangan..


Amolia tampak tenang dan cantik di peti matinya. Gadis itu tersenyum bahagia. Tampaknya ia tak lagi merasakan kesakitan.


"Dok, Amo ... pergi Dok ... hiks ... hiks!"


Lidya menahan semua kesedihannya. Ia menatap wajah gadis yang kemarin memeluknya terakhir kali.


"Selamat jalan Amo ... surga tempatmu," ujarnya lirih.


bersambung ...


selamat jalan Amolia.


next?