TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
VIRGOU 2



Setelah kepergian Selena. Virgou masuk ke dalam mansionnya. Belum begitu rapi. Tapi, ia cukup puas dengan segala letak dan susunannya.


Lampu-lampu kristal menggantung di setiap ruang. Dari ruang tamu, ruang keluarga juga ruang makan. Pinggiran list atap berukir dengan cat warna emas. Lantai dari batu pualam berwarna hitam dengan corak alami, berharga fantastis.


Tangga sedikit melengkung ke atas. Pria itu berencana akan melapisi karpet merah dari pintu masuk hingga kamar utama di lantai dua yang akan ia tempati.


Pria itu menuju lantai dua di mana kamar utama berada. Membuka pintu seperti pintu utama terbuat dari kayu jati dengan ukiran di pinggirannya. Di sana terpasang ranjang ukuran big size dengan pilar terbuat dari kuningan asli. Pria itu sudah merancang semuanya.


Langkah tegapnya menuju balkon. Pria itu membuka pintu kaca dengan cara menggesernya. Udara langsung masuk menyapu wajah tampannya.


Virgou menghirup udara rakus. Ia sudah memfantasikan dirinya sedang bercint* dengan gadis yang kini telah menjadi targetnya.


"Aku akan membuatmu melenguh penuh kenikmatan di bawah kukunganku, Terra," ucapnya penuh keyakinan.


Otaknya mulai kotor membayangkan hal yang tidak-tidak dengan gadis itu. Tiba-tiba dalam pikirannya terlintas sesuatu.


"Ah ... aku lupa, apa kabar anak-anak dari mendiang Ben?" ia bertanya pada dirinya sendiri. "Apa mereka masih hidup setelah kecelakaan itu?"


Virgou mengusap dagu dengan tangannya. Pria itu tengah berpikir, apa yang terjadi. Ia tak pernah ingin tahu, dengan nasib ketiga anak biologis rivalnya itu.


"Mungkin mereka sekarang berada di salah satu panti asuhan. Atau sudah diadopsi oleh orang lain," ujarnya kemudian.


"Ah ... apa peduliku tentang mereka, yang penting tujuanku adalah Terra," lanjutnya bermonolog.


Ia kembali menyeringai. Wajah penuh dengan rencana licik. Ia akan menggunakan segala macam cara untuk menjerat gadis itu.


"Dia baru berusia delapan belas tahun. Usia dengan tingkat labil yang sangat tinggi," ucapnya lagi.


"Kemarin ia sudah menjadi CEO. Aku dengar, perusahaan itu masih dikendalikan oleh asisten dari mendiang Ben, Rommy."


Tiba-tiba Virgou tertawa penuh ejekan pada gadis itu.


"Seorang remaja mana bisa mengalahkan pesonaku. Aku sudah malang melintang di dunia bisnis. Ia pasti kesulitan mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Belum lagi segala intrik di dalamnya. Ia butuh diriku untuk mengajarinya," lagi-lagi ia bermonolog.


"Tentu dengan mendesah nikmat di ranjang bersamaku!" lanjutnya kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


Ia sangat puas dengan rencananya. Pria itu lupa awal perjumpaan dengan gadis itu. Bagaimana Terra tidak terpedaya dengan pesonanya.


Sementara di tempat lain. Seorang gadis tampak bersin berkali-kali. Hidungnya hingga memerah karena selalu bangkis.


"Ah ... kenapa bersin-bersin sih?" tanya Terra, kemudian ia bersin lagi.


Tak lama ia pun menggeleng. Gadis itu tak percaya akan mitos jika ia bersin maka ada yang berpikiran atau merencanakan sesuatu yang buruk padanya.


"Pasti ini karena udara. Ya, dari kemarin mau hujan. Tapi, tidak pernah jadi," ujarnya menenangkan pikiran buruknya.


"Te, nanti kita akan harus datang menghadiri makan siang dengan Tuan Matsuyama dari Jepang. Beliau juga ingin membantu membangun usaha bersama dengan Hudoyo Cyber Tech di negaranya," jelas Rommy.


"Kenapa hidungmu memerah?" tanyanya kemudian.


"Te, bersin dari tadi Kak," jawabnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya penuh kekhawatiran.


"Iya, Te, baik-baik saja," jawab Terra kemudian bersin kembali.


"Jika kau tidak enak badan. Kita bisa batalkan makan siang ini," saran Rommy dengan nada cemas.


Terra menggeleng. Ia nyatakan dirinya baik-baik saja.


"Baiklah. Siapkan dua meja. Untuk Matsuyama San dan juga untuk anak-anak," titah Terra kemudian.


"Oh ya, Matsuyama San tau, Te membawa tiga anak kan?" tanya Terra memastikan.


"Iya, Mereka juga membawa istri dan anak mereka. Tuan Matsuyama sangat senang bisa berbisnis tanpa meninggalkan anak dan istri mereka," jawaban Rommy membuat Terra senang.


Kembali ke mansion Virgou. Pria yang baru saja membayangkan hal tak senonoh pada gadis bernama Terra tengah berbaring terlentang di ranjang.


Pria itu seperti orang gila meneriaki nama Terra berulang-ulang. Hanya dengan menyebut nama gadis itu, membuat inti di tubuhnya menegang.


"Sialan kau Terra. Hanya dengan menyebutkan namamu aku begitu terangsang!" pekiknya.


Kemudian ia bangkit. Ia butuh pelepasan sekarang. Sayang wanita tadi ia usir begitu saja. Andai ia tahan lebih lama, mungkin bisa membantu melepas hasratnya secara cuma-cuma.


Namun sejurus kemudian ia menggeleng. Ia ingin merubah image jadi orang baik-baik. Ia pun melangkah ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Ya, aku harus menahan semua syahwatku jika ingin bermain cantik tanpa cela," ujarnya bermonolog.


bersambung.