TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HELLO TWIN



Kelahiran Aaima membuat senang semua orang. Persembahan sembilan perusuh yang berakhir dengan keributan di panggung, membawa kesan tersendiri pada Putri, Jac dan keluarga.


Bagaimana Rion dengan hanya suaranya saja mampu menenangkan keributan yang terjadi pada sembilan perusuh itu.


"Baliana butan tamu yan banyi ... tamu padhi udah bempar mit loh!" tegur Sky tegas.


"Balia pawu nyi!" teriak bayi cantik itu.


"Ai yan nyi!" teriak Arion juga.


Terjadilah tarik menarik mik oleh tiga bayi. Melihat saudaranya tengah berseteru Arraya ikut merebut mik. Mereka saling berteriak. Para ibu tak bisa menenangkan bayi.


"Babies!"


Mendengar suara kakak panutan mereka, semuanya diam dan menunduk. Rion menatap sembilan perusuh itu satu persatu. Benua, Domesh, Sky, Bomesh, Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana menunduk dalam. Bibir mereka mencebik menahan tangis.


"Nyanyi nya udahan aja ya, kalo berantem!" seru Rion lagi.


"Hiks ... hiks ...!" para bayi mulai menangis.


"Mamapin pita Ata' Ion ... pati yan eundat mawu talah tan babies, Baliana, Alion tsama Alaya!" ujar Benua membela diri.


"Sty utah lalan tot pial Baby Baliana eundat banyi, tan padhi mit na tipuan!" sahut Sky dengan bibir mancungnya.


Bariana, Arion dan Arraya juga Harun menangis. Keempatnya saling berpelukan. Rion hanya menghela napas panjang. Ia mendatangi adik-adiknya yang baru satu tahun itu.


"Nanti, jangan gitu lagi ya?" peringat Rion.


Keempatnya mengangguk. Rion gemas lalu mencium semuanya. Para ayah membiarkan remaja itu menangani semua adiknya.


"Sayang," panggilan Jac membuyarkan lamunan Putri.


"Kamu melamun?" tanya pria itu.


"Putri hanya mengingat kejadian kemarin di mansion Tuan Virgou, bang," jawab wanita itu.


Aaima sudah tertidur di boksnya. Bayi baru berusia satu minggu itu mulai menampakan bobotnya.


Rambut sedikit pirang mirip Jac yang memang rambutnya tak pirang, sedang matanya juga sama, hitam sama dengan Jac.


"Aku yang susah payah mengandung, ngidam, kurang tidur ... pas lahir, nggak ada satupun yang mirip aku," ujar Putri sambil menjawil pipi merah putrinya.


"Aku ingin, sifatnya seperti kamu, sayang. Pintar, berani dan menjunjung tinggi persahabatan," sahut Jac lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Ah, masih lama ya?" ujarnya serak.


Putri membeliak. Menatap suaminya horor. Tampak Jac menahan hasratnya. Waktu sudah bergulir malam. Semua telah nyenyak tidur. Sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai anak itu saling menatap.


"Sayang," panggil Jac dengan suara serak.


Putri adalah seorang perawat. Bahkan ia sangat tahu bagaimana pelajaran tentang hubungan badan pasca melahirkan dan memuaskan sang suami tanpa harus melakukan penyatuan.


"Abang," panggilnya lalu mengalungkan lengannya di leher sang suami.


"Tapi ini ...."


Mulut Jac bungkam oleh mulut istrinya. Putri memulai mengaplikasi pelajaran yang pernah ia terima. Memuaskan suami pasca melahirkan.


Waktu berlalu. Tak terasa, hari Lidya melakukan persalinan telah tiba. Wanita itu kini dalam rengkuhan Terra. Lidya tak mau lepas dari pelukan wanita yang telah merawat dan melimpahkan kasih sayang padanya semenjak ia batita.


"Mama ...," rengeknya.


Terra menahan air matanya. Wanita itu mengeluarkan semua kasih sayangnya agar kesakitan putrinya itu tak begitu berasa.


Safitri juga sudah berada di bulan lahirannya. Tapi, ia belum merasakan apa-apa. Jadi wanita itu masih bisa menangani kelahiran bayi Lidya.


"Sayang, kasihan mama. Sama, mas dulu sini,' ujar Demian.


"Sebentar lagi," rengek wanita itu manja.


Terra tak mempermasalahkan hal itu. Ia akan terus memberi ketenangan pada putrinya. Lidya mendesis. Kontraksi palsunya datang lagi.


"Aaarrghh!" erangnya pelan.


"Sayang," sahut Terra dengan suara tercekat.


Haidar, Herma, Virgou, Dav dan Budiman, juga Gomesh tampak duduk lemas di sana. Darren mengambil cutinya karena hal fokus karena memikirkan adiknya, begitu juga Rion yang tak berhenti menangis.


Bart dan Bram duduk dengan pandangan kosong. Sedang Kanya bersama Seruni, Gisel, Puspita dan Khasya terus berdoa.


"Kenapa kalian lemas seperti ini?" tanya Dominic gusar.


Semuanya hanya menatap sengit pria yang baru datang itu. Dominic hanya menghela napas panjang.


Putri, Aini sudah bekerja kembali. Keduanya sering datang ke ruang rawat di mana Lidya berada. Bahkan Putri kini menjadi perawat Lidya yang mengurusinya. Walau sahabatnya itu menolak karena hanya ingin Terra dan Saf yang menyentuhnya.


Ruangan dengan luas 300x500m². Belum lagi ada ruangan khusus yang kini digunakan oleh Virgou dan lain-lain untuk menunggu. Ada empat tempat tidur sedang dan ruangan ber-AC. Sangat mewah dan eksklusif.


"Assalamualaikum," Saf masuk dengan Sisca.


"Uma!" panggil Lidya manja.


Baru lah Terra bebas. Punggung wanita itu sudah seperti mau patah, bokongnya juga terasa panas karena duduk terlalu lama.


"Mama kecapean ya?" ledek Saf dengan senyum usil.


"Aarrghh!" lagi-lagi Lidya mengerang pelan.


Saf mengelus perutnya. Tampak bayi sudah bergerak menyusuri jalannya.


"Ini sudah bukan kontraksi palsu lagi," ujar Saf ketika meraba perut adik iparnya itu.


"Apa ada tanda-tanda melahirkan sudah terlihat, Uma?" tanya Demian cemas.


Saf memutar mata malas. Tentu saja pertanyaan itu sangatlah mudah. Tanda akan melahirkan adalah seringnya ibu hamil kontraksi.


"Ya, dia akan melahirkan," akhirnya Saf menjawab pertanyaan Demian.


"Biar cepat, kita ke ruang bersalin yuk," ajak Saf.


Lidya dipakaikan baju OK. Begitu juga Demian.


"Iya mau sama daddy!" rajuknya. "Nggak mau sama Mas!"


Virgou langsung berdiri dan mendatangi wanita yang bertahta dalam hatinya itu.


"Daddy di sini, sayang," ujarnya lembut.


Haidar mendengkus kesal, Budiman berdecih, sedang Demian hanya bisa menghela napas panjang.


Bart, Bram dan lainnya hanya menggeleng saja melihat para pria cemburu.


"Hais ... ayo ikuti mereka!" ajak Dominic kesal.


Semua beranjak ke ruang bersalin. Lidya akan melakukan persalinan normal.


"Kita jalan pelan-pelan saja ya," tuntun Saf.


Lidya pun berjalan pelan, sambil napas embus, isap. Terkadang ia berhenti karena kesakitan, Virgou nyaris berteriak dan memarahi janin yang membuat wanita hatinya kesakitan itu.


"Ck ... sayang, kalau mau keluar, keluar saja, jangan bikin mommymu sakit!" serunya geregetan.


"Daddy!" tegur Lidya dan Saf sambil terkekeh.


"Ck ... lebay," ledek Haidar kesal.


Padahal ia juga berharap dua janin dalam perut putrinya itu tak membuat Lidya kesakitan.


Budiman, Demian dan Dav tak berhenti meneteskan air mata. Bahkan Gomesh tampak sesenggukan melihat nona mudanya berkali-kali mengerang.


"Nona, yang kuat nona ... huuuu ... uuu ... hiks!"


Maria bersama anak-anak di mansion Herman. Mereka akan menunggu lahirnya para kembar.


"Aaarrghh!" teriak Lidya lagi.


Tubuhnya merosot, Virgou menangkapnya lalu menggendongnya Ruangan bersalin masih sepuluh meter lagi. Ia dan Saf berjalan cepat karena Lidya mulai mengerang dan kemungkinan pecah ketuban.


Benar saja, baru masuk, ruang persalinan baju pria dengan sejuta pesona itu sudah basah karena ketuban Lidya.


"Buka baju OK mu!" titah Virgou.


Demian bergeming bingung.


"Cepat!' sentak Virgou marah.


Demian cepat membuka baju OKnya. Virgou langsung memakainya. Ruang persalinan ditutup. Demian hanya memandang pintu dengan kosong. Haidar membawa menantunya.


"Sudah, biarkan daddy mu menangani istrimu," ujarnya menenangkan, 'kita berdoa saja di sini."


Semua diam menunggu. Di dalam terdengar teriakan kesakitan juga tangisan Lidya. Terra menangis mendengar putrinya kesakitan seperti itu.


Kanya memeluk menantunya. Semua juga menangis. Haidar meminta semua wanita pulang dan mengurusi anak-anak.


"Ya sudah, biar bunda dan lainnya pulang. Tolong kabari kami jika sudah lahir," ujar Khasya.


Khasya, Gisel, Seruni dan Maria pulang di antar oleh Gio. Pria itu juga sangat mengkhawatirkan nona mudanya.


Setelah kepergian para wanita, tinggal Kanya yang ada bersama Terra menenangkan menantunya itu.


"Ma ... Iya ma," isak wanita itu.


"Berdoa semoga baik-baik saja, sayang," ujar Kanya menenangkan.


Haidar di tenangkan oleh Bart dan Bram. Tak lama terdengar suara tangisan bayi begitu kencang. Lalu tujuh menit kemudian kembali tangisan bayi terdengar.


Semua masih menunggu. Virgou keluar dengan wajah basah karena air mata. Ia menangis terisak. Haidar memeluknya.


"Tolong katakan apa yang terjadi pada putri kita!"


"Kita sudah menjadi seorang kakek dari dua cucu laki-laki!" jawab Virgou sambil terisak.


Semua pun berpelukan sambil menangis. Demian langsung masuk, ia akan meng-adzani kedua putranya. Sedang Dominic bahagia luar biasa karena mendapat dua keturunan secara langsung.


bersambung.


welcome twin ...


next?