
Di lokasi tempat di mana Raka tengah dirayu oleh beberapa polisi juga sang ayah. Tampak sosok pria yang tengah berada di mobil menyipitkan matanya.
"Raka?" pria itu mengenali bocah lelaki itu.
Ia pun langsung keluar mobilnya dan mendatangi Raka yang mengamuk.
"Raka!" panggilnya.
Raka menoleh. Ia pun langsung memeluk pria itu erat.
"Ayah ... ayah ... tolong Raka. Orang itu jahat!" adunya.
Deg!
Jantung Herman berdetak cepat. Pria itu tak menyangka jika Raka memanggilnya dengan sebutan "ayah".
Pria itu ingat kemarin ketika pertemuan terakhir mereka, ketika ulang tahun Darren dan Lidya.
Pria itu sempat melontarkan godaannya pada wanita, ibu dari Raka.
"Raka sini, sama Ayah!" panggilnya saat itu.
Raka menatapnya lalu tersenyum secerah mentari pagi. Pria kecil spesial itu menghampirinya dan duduk dipangkuan pria itu.
"Ayah ... hahahaha!" tawa Raka ketika Herman menggelitikinya. Semua tertawa melihat bahagia melihat Raka yang begitu bahagia saat itu.
"Raka, tenang ya. Di sini ada Ayah," ucap Herman.
Pria itu memandang pria yang sangat ia kenali. Zhainra, ayah kandung anak laki-laki yang kini memeluk erat dirinya.
"Jadi siapa ayah kandungnya?" tanya salah satu polisi yang ikut menenangkan Raka tadi.
"Saya!' sahut Zhain dan Herman bersamaan.
"Om Herman!" protes Zhain kesal.
"Apa!" sentak Herman tak kalah kesal.
Herman tentu tahu semua kehidupan Bram. Dulu mereka satu proyek pembangunan jalan layang terpanjang di kota. Herman selaku penyuplai bahan mentah seperti beton dan tar. Sedang Bram adalah investor dari proyek tersebut. Walau baru belakangan ini setelah perusahaannya turun, ia mengetahui kedekatan Ben, ayah Terra dengan Bram.
Bram tidak pernah akur dengan mendiang Hardi Triatmodjo, ayahnya. Tapi, Bram sangat dekat dengan Herman.
Makanya, ia tahu sekali pria yang kini menatapnya kesal. Pria yang meninggalkan Karina dalam kesedihan yang dalam karena mengetahui putranya memiliki Autism.
"Aku ingin membawanya berobat ke luar negeri. Biarkan aku membawanya Om!" pinta Zhain dengan wajah putus asa.
"Pak, bisa kah kalian bicarakan ini di tempat lain. Ini ruang publik," pinta polisi lagi.
"Baiklah," ucap Herman.
"Raka ikut Papa yuk, naik burung!" rayu Zhain mengajak putranya.
Raka mengeratkan pelukannya pada Herman. Pria itu merangkul bocah spesial itu dan membawanya ke mobil. Bahu Zhain turun. Ia akhirnya menuju mobilnya dan mengikuti mobil Herman. Pria itu menunjukkan lokasi ke mana mereka menuju.
Sedang di mobil lain. Terra yang sedang mengamati gerak Raka tiba-tiba berkata.
"Raka dibawa oleh orang lain dan sepertinya itu Paman Herman!"
"Apa kau yakin, sayang?' tanya Haidar yang duduk di depan. Sedang Budiman masih fokus menyetir. Karina masih terus mengusap air matanya. Hidungnya sampai memerah karena terus-menerus diusap tissue.
"Iya, Mas. Dan sepertinya, Kak Zhain mengikuti mobil itu. Mereka berhenti di restoran cepat saji. Kak, Budiman kita bisa mempercepat jarak jika belok kiri di depan situ," ucap Terra sambil memberi instruksi.
Budiman pun melakukan perintah klien sekaligus majikannya. Ia membelokkan kemudi mobil ke kiri untuk memotong jalur. Mereka sampai ketika melihat Herman membawa Raka ke restoran tersebut dan di belakangnya turun Zhain dengan penampilan acak-acakan.
Mobil Pajero sport milik Terra pun memasuki halaman parkir restoran cepat saji itu. Bergegas mereka turun dan menyambangi tempat di mana Herman membawa Raka.
Bram telah diberitahu oleh Haidar jika mereka berada di lokasi berbeda. Ia pun telah mengirimkan lokasinya pada sang ayah.
Mata ketiganya mengedar. Salah satu pelayan hendak mendatanginya. Haidar bilang ingin bertemu seseorang yang sudah datang duluan.
Mereka memasuki restoran sambil matanya terus mengedar. Suasana sangat ramai, karena memang waktunya makan siang. Terra menemukan mereka di tempat VVIP, dekat kolam.
Mereka langsung ke sana. Ketika membuka pintu dengan cara menggeser. Mereka melihat Zhain yang duduk dengan kepala tertunduk. Sedang Herman tengah menyuapi shabu-shabu pada Raka dengan telaten.
Tadinya Karina ingin langsung berhambur memeluk Raka, namun langsung ditahan oleh Terra.
Karina tertunduk, ia sangat malu. Bagaimana bisa Terra yang baru saja menjadi bagian dari keluarga merkea sangat memperhatikan kondisi putranya. Sedang ia yang sudah menjadi ibu dari Raka, tidak mengerti akan kondisi putranya.
"Kalian?" Herman melihat ketiganya.
"Duduk!" titah tegas keluar dari mulut pria itu.
Mereka menurut. Haidar menatap nyalang pria yang sedikit takut-takut makan itu.
"Jangan kau lihatin seperti itu!' peringat Herman.
Ia masih telaten meniupi daging yang baru saja diangkat dari pot panasnya. Lalu setelah meletakkan lidahnya ke daging dan tidak berasa panas. Ia pun menyuapinya ke Raka. Bocah lelaki itu makan dengan lahap.
"Paman, biar Terra ...."
"Diam dan cepat pesan makanan, suruh pelayan menambah meja!" titah Herman lagi.
"Pa ...."
"Aku bilang diam!" desis Herman dengan mata menyipit.
Haidar kalah intimidasi dari sosok pria yang menjadi paman dari istrinya itu. Terra menjalankan perintah pamannya.
"Suruh juga pengawalmu masuk!" titah Herman.
Budiman yang ada di luar ruangan akhirnya masuk. Beberapa pelayan menambah meja. Dan menghidangkan makanan.
"Ayah, Raka mau udang besar!' pinta Raka antusias.
Pria kecil itu belum menyadari keberadaan ibu, paman juga Terra di sana. Dalam penglihatan anak itu adalah pria yang ia panggil ayah saat ini. Dan Raka merasa nyaman dengannya.
Karina yang mendengar Raka memanggil Herman dengan sebutan Ayah, jadi terkejut begitu juga Haidar. Siapa sangka, candaan pria itu ditanggapi serius oleh Raka.
Bahkan Raka kini mengklaim jika Herman adalah ayahnya.
"Raka mau udang besar?" tanya Herman memastikan.
Raka mengangguk kesenangan. Pria itu langsung memesan makanan yang Raka inginkan.
Karina sangat sedih. Bahkan sampai detik ini, Raka belum merespon dirinya.
Hatinya teriris sakit saat menatap Zhain yang dari tadi diam menunduk sambil memakan makanannya. Sungguh, ia ingin mencakar wajah pria yang dulu sangat dicintainya itu. Berkhayal mengarungi hidup hingga ajal menjemput. Siapa sangka pernikahannya hanya bertahan selama tiga tahun. Ia dan Zhain baru dikaruniai putra setelah dua tahun pernikahan mereka.
Raka lahir dengan berbagai keanehan. Hingga ketika usia Raka satu tahun, keanehan Raka makin menjadi. Mereka pun langsung ke rumah sakit untuk bertanya. Ternyata Raka mengidap Autism.
Zhain memilih pergi, tak mau peduli. Bahkan, pria itu tak bertanggung jawab atas kehidupan materi putranya itu. Karina sangat membenci pria di hadapannya itu.
Terra duduk di sebelah Haidar dan Karina, sedang Budiman duduk di sebelah Zhain. Hanya diam yang diusung oleh mereka.
Hingga tiba-tiba pintu tergeser. Bram masuk dan hendak memanggil cucunya dengan binaran mata lega. Namun urung ketika melihat kilatan mata Herman.
Herman mengkodekan Bram untuk duduk di sebelah Budiman. Pria itu menahan emosinya ketika melihat Zhain ada di sana.
"Tahan emosimu. Makanlah!' titah Herman tak bisa dibantah.
Bram menurut. Satu hidangan lobster pesanan Raka datang. Bocah itu tertawa sambil bertepuk tangan.
Herman kembali menyuapinya. Bahkan Raka ikut menyuapi Herman..
"Ayah ... aaa!'
Herman membuka mulutnya dan menelan makanan yang disuapkan Raka. Bocah itu tertawa senang.
Hati Bram menclos tak percaya. Biasanya Raka akan selalu tahu jika ia datang. Tapi, kali ini. Cucunya tak melihatnya sama sekali.
Dalam pandangan Raka. Hanya Herman yang ada. Bahkan Terra yang begitu dekat dengan bocah itu teralihkan. Raka tak melihat siapa pun kecuali Herman. Pria yang ia panggil Ayah.
bersambung.
eeemmm ...
next?