
Balita montok tengah mengamati adik-adiknya di sebuah wahana bermain ketangkasan. Kini semua keluarga membooking satu wahana hanya untuk kenyamanan anak-anak mereka.
Nai, Sean, Al, Daud, Kean, Cal, Satrio dan Arimbi sedang asik naik tangga untuk meluncur di perosotan. Banyaknya penjaga yang mengelilingi keluarga itu.
Memonpoli satu wahana bermain menarik perhatian banyak pengunjung. Terlebih Tempat itu dikelilingi oleh bodyguard yang sangat "good looking".
"Mama, Ion bosen," adunya lemah.
Balita itu dari tadi sibuk memperhatikan adik-adiknya bermain. Ia menjaganya laksana pengasuh nomor wahid.
"Kenapa nggak main sama, adik-adik sayang?" tanya Khasya lembut.
"C'mon Bun. this is the baby area. Ion already big!" protesnya kesal.
Terra terbelalak. "Sejak kapan Ion mahir berbahasa Inggris?" Tanyanya dalam hati.
"Baby, kamu bisa bahasa Inggris?" tanya Ita takjub.
"Astaga, kita ini bule. Masa iya anak kita nggak bisa ngomong Inggris!" sela Virgou memutar mata malas.
"Tapi, Te nggak pernah ngajarin," sahut Terra polos.
"Lah, kamu kira otak anak-anak kita itu sama dengan otak anak-anak lain?" tanya Virgou mulai kesal.
Terra tersenyum kikuk. Haidar dan Herman hanya geleng-geleng kepala. Rion masih dengan mulut manyunnya.
"Belajar di yubut, sama suka Darren latih, Ma," sahut Darren mengurai kebingungan ibunya.
Terra lagi-lagi tersenyum lebar. Ia menjadi ibu yang bodoh. Kesibukannya nyaris menyita waktu untuk sekedar menemani anak-anak belajar bersama.
"Ma, Ion mau ke sana ya!" pintanya memelas.
Terra melihat sebuah pertunjukan. Ia pun mengangguk. Lalu menyuruh Budiman dan beberapa pengawal mengikuti balitanya.
Empat pria tampan mengawal satu balita montok menggemaskan. Pipinya yang chabi dan kemerahan membuat semua orang gemas melihatnya.
"Duh, cakep amat sih tuh anak!" puji salah satu pengunjung melihat Rion berjalan.
Satu lomba diadakan di sana. Balita itu mendaftarkan dirinya. Panitia acara pun mengijinkannya ikut lomba. Budiman menjadi wali balita itu.
"Assalamualaikum, shalom selamat siang pengunjung Mall Xx. Kita sudah mendapatkan delapan peserta lomba model. Para balita akan diberikan baju yang harus dia pilih sendiri!" sahut pembawa acara.
"Nak, yang itu, yang merah!" sahut seorang ibu sambil menunjuk pakaian lain.
"Dave, pilih kemeja coklat sama jas warna biru tua itu!" sahut seorang ayah menunjuk pakaian lain yang bukan pilihan putranya.
Rion santai. Ia hanya melihat beberapa pakaian yang menarik perhatiannya. Tetapi pilihannya hanya pada topi cowboy dan kacamata hitam. Rion melihat penampilannya.
Kaos lengan panjang warna abu-abu dipadu celana jeans warna hitam dengan sepatu boot pemberian Daddynya. Ia memasukan asal pakaian ke dalam celananya, menarik sedikit lengannya. Memakai topi cowboy dan memakai kacamata hitam.
"Apa semuanya sudah siap!" pembawa acara sudah mulai menghitung mundur.
Banyak teriakan dari para pengunjung, terutama orang tua peserta. Mereka merasa waktunya terbatas dan pilihan bajunya tidak sesuai dengan selera mereka.
"Minta, waktu lagi!" teriak salah satu pengunjung.
"Maaf, ya Pak, Bu. Kan tadi sudah disepakati bersama!" ujar pembawa acara tenang tak terprovokasi.
"Buktinya Adik ini sudah siap dari tadi!" ujarnya lalu menunjuk Rion yang sudah bergaya.
Akhirnya banyak peserta yang gugur karena menangis. Rion hanya bisa menghela napas panjang.
"Dasal anak kecil!" sindirnya tak tahu diri.
Musik dengan tempo cepat bermain. Rion dan beberapa balita mulai berjalan berlenggok. Budiman memfoto gaya balita itu.
Rion melangkah membuka kacamata dan menaruhnya di baju bagian leher. Meletakkan tangannya sebelah di pinggang, dan satunya mengusap tengkuk, sebuah senyum tipis terpampang. Para juri histeris melihat betapa tampannya Rion.
Semua bertepuk tangan. Terra yang melihat beberapa foto yang dikirimkan bodyguardnya. Tertegun. Ia ingin sekali lari dan melihat pertunjukan itu. Tetapi jika ia lakukan itu. Maka semua orang tua di sini akan berlaku sama dan meninggalkan anak-anak mereka.
Rion datang membawa piala. Semua memujinya. Sedang balita itu hanya tersenyum dengan santai. Seolah biasa saja.
"Tentu Ion menang. Kalo nggak menang belalti julinya buta," sahutnya sombong.
bersambung.
astaga ... Rion
next?