
Waktu terus berputar. Bayi Terra kini sudah berusia satu tahun. Rion masih kepala suku bayi-bayi tersebut.
Rion yang sudah besar, tentu bahasanya sudah tidak terbolak-balik seperti masa kecil dulu. Tetapi namanya anak-anak. Balita itu semakin menunjukkan kepintaran juga kegeniusannya.
"Ata' Ion ... Nai bawu ipu!" pinta baby Nai sambil menunjuk tempe goreng.
"Sebental ya, itu masih panas," sahut Rion sabar.
"Al dudha mawu!" sahut Baby Al. Begitu juga Sean dan Daud tak mau kalah.
"Iya, sabal. Ini masih panas, Baby!" sahut Rion mulai meninggi suaranya.
Semua diam, menurut. Rion menunggu asap di makanan sudah hilang. Ia pun meminta ijin pada Bik Romlah untuk mengambil tempe itu.
"Bil Lomlah ... Ion boleh minta tempenya!" pintanya memelas.
Romlah tertawa melihat ekspresi Rion. Wanita yang kini berusia tiga puluh delapan tahun itu mengangguk.
"Makasih, Bik."
Rion mengambil tempe lima potong. Lalu membaginya pada keempat adiknya dan yang satu dimakan sendiri. Mereka pun kembali bermain. Terra belum pulang, wanita itu masih disibukkan dengan pekerjaan. Ia belum bisa memindahkan tampuk pimpinan pada Gabe, kakak sepupunya. Pria itu masih menjadi bayang-bayang Terra. Mengikuti seperti Rommy, kemana pun Terra pergi.
Sedang Gisel, baru masuk semester akhir. Ia kini sibuk mencari bahan skripsi. Walau mata kuliahnya belum habis.
Rion bermain, sedang dua kakaknya belum pulang sekolah. Dengan penuh kesabaran ia melatih adik-adiknya melempar mainan tepat ke ranjang mainan mereka.
"Den Rion, kan ada bola basket di luar. Kenapa malah lempar mainan?" tegur Ani.
"Iya, Bik. Yo, kita ke belakang main bastet!" ajaknya.
Keempat bayi tersebut mengikuti kakak mereka, bagai ekor. Ani tertawa pelan melihat tingkah anak-anak majikannya. Sungguh ia beruntung, Rion, Nai, Sean, Al dan Daud tidak pernah menyusahkan para pekerja di rumah, walau mereka usil.
Nai, berambut merah bergelombang, seperti ibunya. Kulitnya putih bersih. Sean, Al dan Daud adalah fotokopi Haidar. Mirip sekali. Mata tajam, datar dan dingin. Tapi, semua bisa diatasi oleh Rion. Mereka berempat patuh pada kakaknya itu.
Rion mengambil bola basket kecil, lalu melemparnya ke keranjang dan, masuk! Lalu berlarian mengambil bola. Sean diberi bola oleh Rion.
"Ikutin gerakan, Kakak ya!" ajaknya.
Balita itu menekuk sedikit kakinya, lalu menaikkan tangan. Sean mengikuti gerakan kakaknya. Rion menoleh untuk melihat gerakan adiknya. Setelah yakin benar. Ia pun langsung berteriak.
"Lempar!"
Syuut! Bluk! Masuk!
Rion bertepuk tangan meriah sambil histeris kesenangan. Adik-adiknya ikut bertepuk tangan. Adrian, salah satu pengawal merekam momen itu. Pria itu berdecak kagum melihat kehebatan anak-anak yang usianya bahkan belum cukup umur untuk memiliki kekuatan sehebat itu. Bahkan baby paling cantik, Naisyah pun lemparnya tak main-main. Keras dan terarah.
Lelah bermain basket. Makanan sudah siap. Lidya dan Darren baru saja pulang dengan wajah ceria. Lidya masuk siang, jadi bisa pulang bareng dengan kakaknya yang kini sudah kelas enam.
"Ata' udah puwang!" pekik keempat brocil riang.
Mereka berjoget-joget, menggoyang pinggulnya, sambil bertepuk tangan. Lidya dan Darren tersenyum lebar.
"Assalamualaikum!" salam mereka berdua.
"Balaitum palam!' balas keempatnya.
Rion hanya menggeleng kepala mendengar balas sapa para adiknya.
"Wa'alaikum salam, Baby. Bukan Balaitum palam!" ralatnya.
"Ayo, cuci tangan, tunggu Kak Darren dan Kak Lidya baru makan, ya," titah Ani lagi.
Romlah dan Gina membantu anak-anak mencuci tangan mereka dengan cepatnya. Karena jika lama, semuanya jadi basah karena main air.
Semuanya duduk di kursi khusus mereka masing-masing. Para bayi memakan makanan khusus bayi. Susu mereka juga tidak ketinggalan. Rion pun juga.
Lidya dan Darren turun, mereka sudah mengganti baju mereka. Keduanya duduk di meja. Sebelum makan mereka membaca doa. Mereka pun makan dengan diam. Ani, Romlah dan Gina menyuapi empat bayi yang belum bisa makan sendiri.
Usai makan siang, meminum susu. Semua anak wajib tidur siang. Rion memutuskan tidur bersama keempat adiknya. Ia berjanji akan mendongeng siang ini.
Ketika di tempat tidur. Rion mulai mengarang bebas. Balita itu sebenarnya bisa membaca sedikit.
Tetapi, karena ceritanya di buku itu-itu saja. Ia pun berkreasi dengan khayalannya.
"Pada zaman dahulu ... hidup lah seekor kancil yang baik hati. Setiap hali, ia membantu pak tani menanam sayul mayul di kebun. Ketika panen, kancil akan dibeli hadiah makanan kesukaannya, yakni ayam goleng mentega."
"Selain ayam goleng mentega. Kancil juga suka makan sayul soup udang atau soup daging. Ia juga suka minum susu ... hoooaamm nym nym ...."
Rion menguap dan ia pun tertidur bersama keempat adiknya, yang lebih dahulu tertidur.
Sore menjelang. Rion membantu bik Ani dan bik Romlah memandikan keempat adiknya. Ia juga mandi. Begitu selesai mereka sudah wangi dan bersih. Lalu duduk di ruang bermain. Menunggu ayah ibu mereka pulang.
Malam pun datang. Semua orang mulai merebahkan diri di ranjang mereka. Termasuk Haidar dan Terra. Malam ini kembali Rion tidur dengan adik-adiknya. Mendongeng untuk mereka.
"Pada jaman dulu. Hiduplah seolang petani yang jahat. Kancil yang baik hati dan telah menolongnya menanam semua tanaman, tidak dibeli imbalan. Kancil diusil dali kebun pak tani. Kancil sedih, ia menangis, begitu sedih sampai hujan tulun denan delasnya.
Ketika hujan tulun Kancil beldoa, memohon pada Tuhannya.
"Tuhan. Hanyutkan semua tanaman pak tani!"
Tuhan mendengal doa olang-olang pelaniaya. Kebun pak tani habis dibawa banjil .... hhoooaaammmm!"
Rion tak melanjutkan ceritanya. Terra dan Haidar salin pandang. Lalu tertawa tertahan. Haidar mengecup satu persatu anak-anaknya. Mengelus kepala mereka.
"Baby, dari mana kamu dapat cerita seperti itu?" tanyanya gemas pada Rion yang telah terlelap.
Terra hanya tersenyum lebar. Beruntung ia merekam semua kisah Rion dalam ponselnya. Betapa ekspresi balita itu begitu serius ketika bercerita. Keduanya sampai keram pipi juga perutnya akibat menahan tawa mereka.
"Jadi anak yang saleh dan soleha ya sayang," doa Terra tulus lalu mengecup semua anak-anaknya satu persatu.
"Aamiin," sahut Haidar mengamini.
"Ih, gemes amat sih ama mereka. Apa lagi ketuanya ini. Gemes banget!" ujar Terra sampai geregetan hingga giginya bergemelutuk.
"Bisa nggak sih, dia gini terus?" tanya Haidar bodoh.
"Suatu saat, dia pasti besar dan menggantikan kita yang sudah tua," sahut Terra.
Haidar mengangguk. Sebagai orang tua, ia ingin selalu ada untuk anak-anaknya. Makanya sesibuk apa pun dirinya. Pria ini akan mendahulukan putra dan putrinya. Begitu juga Terra.
bersambung.
Waktu pasti berlalu ... dan anak-anak akan pergi dengan kehidupan mereka yang baru.
next?