TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KESERUAN DI PERNIKAHAN



Bagaimana jadinya ketika di hari pernikahan ada dua kubu saling berdiri berhadapan. Bukan apa-apa. Tapi, Demian bersedia menerima tantangan dari remaja tampan di depannya itu. Ia memaksa sang pengantin pria berada di sisinya.


Lidya hanya menatap lesu. Semua pengawal tak ada yang memihak pria yang sudah merambah mimpinya. Gomesh datang.


"Ada apa ini?" tanya raksasa ganteng itu.


Domesh dan Bomesh langsung berdiri bersama yang lain. Bayi itu bingung. Padahal keduanya sudah bersiap akan mempersembahkan beberapa lagu untuk pengantin.


"Ada yang naksir putriku, Lidya!" jawab Herman sengit.


"Siapa yang meninggikan dirinya pantas untuk Tuan putriku?!" sergah Gomesh gusar.


Ia menatap pria tampan beriris biru yang begitu tenang berdiri di bawah terik matahari.


"Baby, jangan sekarang ya. Ini pernikahan sahabat kakak loh!" bujuk Lidya.


Terra, Khasya, Puspita dan Gisel hanya bisa mendesah pasrah akan keposesifan para pria.


"Baby," bujuk Lidya lagi.


Sedang, Putri dan kedua orang tuanya hanya bisa diam dan melihat tingkah para orang kaya itu berbuat semaunya.


Semua tamu dan kolega juga mulai berbisik-bisik ada apa gerangan. Dominic hanya menggaruk pelipisnya. Ia hendak berbicara pada Bart. Tetapi,, pria tua itu malah berdiri menantang putranya.


"Ya Allah ... lawanmu benar-benar luar biasa, Nak!' gumamnya pelan.


Bomesh berbisik pada Sky, lalu ia pun mengangguk setuju. Sky berbisik pada kakaknya Benua, begitu juga pada Domesh. Keempatnya kini melangkah ke panggung kecil dan berbisik pada pemain keyboard.


"Balo .... mamat cian pemuana ... pita pial tan lati-lati pi luan sana ... petenal tan mana paya Bomesh si danten!" sahut Bomesh di depan mik.


"Paya si pampan Penua!"


"Zaya si pemut Domesh!'


"Pimut Ata' Domesh!' ralat Sky.


"Piya matzudna ipu!' sahut Domesh santai.


Safitri memilih mendengarkan bayi-bayi itu berlaga di panggung.


"Ata'Babitli pesimi!" ajak Sky semangat.


Safitri pun naik ke panggung. Ia akan ikut meramaikan suasana. Semua yang di luar akhirnya masuk ke dalam. Rion menatap tajam Demian.


"Ini belum selesai!" tekan remaja itu.


Demian mengangguk. Padahal setengah mati ia menetralkan degup jantungnya. Ia benar-benar buta akan permainan yang diajukan oleh adik dari gadis yang ia cintai itu.


"Selamet ... selamet!' ujarnya lega dalam hati.


Sedang Jac juga bernapas lega. Ia kembali ke pelaminan bersama sang istri. Keduanya akan berganti baju pengantin. Ibu mertuanya sudah memanggilnya.


"Nak, ganti baju sana," titahnya lembut.


"Iya, Ma," sahut Jac.


Pria itu melangkah ke kamar di mana Putri tengah berganti baju. Sedang di atas panggung terjadi kehebohan hakiki. Bomesh menyanyikan lagu berjudul "Halo dangdut" milik Rita Sugiarto.


"Palo .... Palo ... Palo ....!'


"Yan ... yan ... yan ... dipoyan-poyan yan ... but ... but ... but ... Yo pita peuldandut ....!" serunya asik bergoyang pinggul.


"Yan ... didoyan .. didoyan yan ...!" lanjutnya diikuti suara Safitri, Sky dan Benua juga Domesh.


"Pandut ... bandut ... bandut ... sell ... poha!" sahut Bomesh asik bergoyang pinggul.


Virgou yang melihat itu sontak bersorak heboh.


"Goyang mang ... aseeekk!"


Semua menoleh pada pria tampan dengan sejuta pesona itu. Termasuk Demian dan Dominic. Sedang para kolega sangat paham bagaimana sepak terjang pria beriris biru itu.


Terra menjatuhkan rahangnya, terlebih Gisel. Maria hanya menggaruk kepalanya. Sedang Gomesh memilih mematung. Rion juga tak kalah heboh dengan Daddynya. Remaja itu ikut bergoyang. Darren melihat sosok gadis bongsor di atas panggung yang ikut bergoyang bersama anak-anak. Pria itu pun ikut turun bergoyang. Akhirnya bawah panggung jadi penuh dengan keluarga Dougher Young, Pratama dan Triatmojo yang bergoyang mengikuti musik dangdut.


"Ayo kawan-kawan gembira bersama ... ayo kawan-kawan berjoget bersama. hilangkan semua keluh kesah yang ada ... dengan lagu yang gembira ...!" sahut Safitri juga menyanyikan lagu itu.


"Ayo Dek Dokter. kita joget bareng!"


Lidya memerah mukanya menahan malu. Tapi, gadis itu akhirnya tak tahan untuk gila bersama dengan para saudaranya, ia tak peduli dengan anggapan Demian setelah ini. Gadis itu pun naik ke panggung.


"Halo ... halo ... halo! ... yang ... yang ... yang, digoyang-goyang yang ... dut ... dut ... dut ... yok kita berdangdut ... yang ... digoyang ... digoyang yang ....!" Lidya menyanyikan lagu dengan begitu genit dan bergoyang pinggul.


Terra menjatuhkan lagi rahangnya. Selama ini, ia melihat sosok putrinya yang lembut dan begitu kalem. Tak disangka, justru kini melihat sisi liar Lidya. Demian terperangah begitu juga Dominic.


"Dangdut ... dangdut ... dangdut ... asek ... dangdut!" seru Safitri.


Virgou mengambil dompet, ia menyawer para biduan dengan uang seratus ribu.


Aini datang bersama dua adiknya menggunakan motor. Ia melihat bawah panggung yang ramai. Gio menghampirinya.


"Dek," sapanya sangat pelan.


Aini tersenyum, kedua adiknya sudah berlari ke bawah panggung. Gadis itu menatap dua rekannya yang asik bergoyang centil di sana.


"Ya Allah ... aku harus sembunyi!" cicitnya ketakutan.


Gadis itu menoleh ke sana kemari. Ia tak ingin kedua rekannya tau dia ada di sini. Gio terkekeh melihat kepanikan gadis itu. Sayang, Safitri sudah meneriaki namanya.


"Dek Dokter Aini, naik ke atas panggung!"


"Ya Allah!"


Aini menutup matanya. Ia menakup dua tangannya di dada memohon.


"Saudara Gio, harap bawa gadisnya ke atas panggung!" titah Saf dengan sangat enteng.


Gio menarik tangan gadis berhijab itu. Aini bersikeras, ia menggeleng memohon pada pria itu.


"Ah, dia nggak asik. Sudah, jangan dipaksa," sahut Saf cemberut.


Darren terkikik geli melihat wajah bidan cantik itu. Entah, dari tadi tatapannya tak lepas dari sosok beriris abu-abu itu.


"Banti ladhuna!" teriak Bomesh.


Lagu berhenti, ternyata bayi itu bosan dengan lagunya. Ia berbisik, ingin menyanyikan lagu lain.


"Setalan ... pamu-pamu tulun!" titahnya pada semua orang dewasa di atas panggung.


Safitri gemas bukan main. Ia mencium pipi bulat bayi tampan itu, sebelum turun panggung.


"Pecuali, Ata'Babitli syama Ata'Iya!" titah bayi itu arogan.


"Astaga, dia memerintahku!" sahut Lidya juga gemas.


Semua orang kembali duduk. Budiman sudah merekam aksi heboh semuanya. Ia juga diam-diam menikmati acara tadi.


"Kita mau ngapain Baby?" tanya Lidya.


"Bawu pain dlama!" jawab bayi itu.


Rion senang bukan main. Ia duduk menyimak jalannya drama yang dimainkan oleh adik-adiknya itu. Benua yang menjadi naratornya.


Sepasang pengantin kini sudah kembali di pelaminan. Wajah Putri merona, bibirnya sedikit bengkak. Tadi, sang suami menciumnya, jika saja sang ibu tak masuk, mungkin bukan hanya ciuman yang mereka lakukan tapi lebih.


"Bada puatu hali ... piduplah syelolan latu yan syanat syantit peulmana Babitli ... latu ipu bunya adit yan judha syantit peulmana Pidya. Judha memiliti adit-adit yan pampan dan beultasa ... meleta beulmana, panelan Bomesh, Samudela, Domesh, Pitya dan Ladit!"


"Di seubelan keulajaan latu Babitli, ada lajan yan sanat pampan dan dadah peulnama laja Ion dan laja Dallen ... meuleta jatuh cinta pada latu Babitli!"


"Terus Kak Iya gimana?" tanya Lidya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ata'Iya pama Panelan Pemian ajah!" sahut Sky enteng.


bersambung.


ah ... suka-suka mereka deh.


next?