
Hari.berlalu, kepolisian telah menghubungi Terra jika makam yang dipinta ternyata ada lahan kosong. Siapa sangka jika letak makam itu tepat di sebelah makam ibunya. Terra menangis tak percaya. Gadis itu akhirnya sadar jika ayahnya memang sangat mencintai ibunya.
"Ayah ... huuu ... ternyata cintamu abadi. Makam Ayah ada di sebelah Ibu," isaknya.
Darren melihat Terra menangis, datang menghampiri. Pria kecil itu sudah sekolah agama di TPA terdekat. Bahkan pria itu juga tidak lagi home schooling. Terra memasukkannya di sekolah negeri dekat dengan TPA nya.
"Mama ...," panggil Darren lirih.
"Mama kenapa nangis? Apa Darren buat salah? Atau adik-adik Darren nakal?" cecar Darren dengan nada penuh penyesalan.
Terra memeluk Darren erat. Sungguh ia ingin ditenangkan. Akhir-akhir ini emosinya sedikit labil. Gadis itu sangat terbebani dengan keadaan. Ia sedikit lelah.
Entah kenapa. Terra tiba-tiba lemas. Tubuhnya seketika merosot. Darren langsung panik. Pria kecil itu tidak memiliki tenaga untuk menahan badan ibunya yang merosot kebawah, ia pun ikutan merosot.
"Bik Romlah. Tolong!" teriak Darren.
Bik Romlah berlari dari area cuci. Lidya yang tengah bermain sabun bersama bik Romlah, ikutan berhambur menuju suara kakaknya.
"Astaghfirullah, Non!" teriak Romlah panik.
"Ani, Gina! Tolong!" teriak Romlah memanggil teman sekerjanya.
Ani dan Gina yang sedang membersihkan halaman belakang berlarian. Mereka sama-sama panik. Kemudian mengangkat tubuh majikannya ke kamar.
Tubuh Terra panas. Wajahnya pucat. Romlah dan lainnya menangis. Terlebih ketiga anak Terra. Mereka menjerit memanggil ibunya.
"Mama!"
Romlah berinisiatif untuk menelfon Sofyan. Karena hanya nomor ponsel pengacara itu yang ada di ponselnya.
"Ha-halo!" teriak Romlah ketika sambungan terangkat.
"Halo ... kenapa Bik? Kenapa pada teriak-teriak begitu?" tanya Sofyan ketika mendengar suara teriakan.
"Non Terra, Tuan ... huuu ... uuuu!"
"Kenapa! Ada apa dengan Terra, Bik!"
"Non Terra pingsan, Tuan!"
"Apa! Ya Tuhan, saya sedang ada di luar kota. Ya, sudah saya akan hubungi Rommy. Bibik dan yang lainnya tenang dulu ya!'
Ponsel terputus. Bik Romlah menoreh minyak angin pada hidung Terra agar, gadis itu siuman. Sayang, berapa kali Romlah melakukan itu. Gadis itu tak kunjung membuka matanya.
Drrtt ... drrtt ... drrtt
Ponsel Terra berdering. Romlah yang ada di dekat nakas langsung mengangkat.
"Tuan tolong. Non Terra pingsan ... huuu ... uuu!" Romlah langsung mengatakan apa yang terjadi tanpa melihat siapa yang menelpon.
Haidar yang memang gelisah sejak tadi, langsung terkejut. Pria itu tak menyangka jika perasaan gelisahnya berhubungan dengan keadaan Terra.
Pria itu langsung menghentikan meeting dan menyerahkannya pada asisten pribadinya.
"Maaf, tiba-tiba saya ada kepentingan mendadak. Saya harus pergi. Meeting akan di lanjutan oleh Bobby!' ujarnya kemudian bergegas meninggalkan ruangan.
Dalam perjalanan menuju mobilnya. Ia menelpon Bram, ayahnya.
"Hallo, Assalamualaikum Pa. Haidar ninggalin meeting. Terra tiba-tiba pingsan!" lapornya.
Bram shock mendengarnya. Pria itu langsung menyuruh Haidar membawa Terra ke rumah sakit yang baru saja mereka akuisisi.
"Iya, makanya ini Papa telepon Mama. Biar nolong Bik Romlah untuk menenangkan anak-anak," ujar Bram menenangkan.
"Iya, Pa. Aku udah di mobil, langsung menuju rumah Terra. Assalamualaikum!"
Haidar langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu salam balasan dari ayahnya. Sedang di tempat lain. Bram tengah berusaha menelpon istrinya.
Sayang. Sepertinya, ponsel sang istri tidak aktif atau sedang di luar jangkauan. Bram berpikir jika ponsel Kanya tengah dimainkan oleh Raka, cucunya. Bram tak hilang akal. Pria setengah baya itu menelpon putrinya, Karina.
Ponsel terhubung, namun belum diangkat. Sampai tiga kali sambungan baru terangkat. Itu pun yang mengangkat asisten Karina, yang menyatakan jika Karina tengah mengadakan rapat jurnal antar divisi. Bram menghela napas. Karina tidak bisa diganggu. Berarti Kanya tengah menemani Raka.
Bram menulis pesan singkat pada Haidar jika Kanya tidak bisa membantu, karena tengah menemani Raka.
"Kau harus kuat, Nak!" ujar Bram bermonolog.
Sedang di rumah Terra. Haidar sampai lebih dahulu. Pria itu langsung berlari. Mendapati ketiga anak yang menjerit memanggil ibunya yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Semua pekerja juga menangis panik.
Tak lama, Rommy datang sendiri. Pria itu menyerahkan semua urusan pada asisten pribadinya, Aden. Rommy juga sama paniknya dengan Haidar, terlebih mendengar jeritan anak-anak Terra.
Haidar langsung memeluk Lidya. Gadis kecil itu merajuk meminta gendong dengan isakan pilu. Sedang Rommy memeluk Darren menenangkan pria kecil itu. Rion berada dalam gendongan bik Romlah.
Menatap Terra yang memucat. Badannya panas. Haidar menelpon dokter pribadi keluarga untuk datang memeriksa gadis itu. Haidar tak bisa membawa Terra ke rumah sakit seperti saran Bram.
Dokter datang memeriksa. Suhu Terra sudah mulai turun. Bahkan ia sudah siuman lima menit sebelum dokter datang.
"Bagaimana Dok?' tanya Haidar.
"Pasien hanya kelelahan, sepertinya, ia menanggung banyak beban. Saya sarankan jika pasien tidak boleh berpikiran berat dan berlibur untuk menenangkan diri," jelas dokter panjang lebar.
Haidar mengangguk. Dokternya pergi setelah memberikan resep. Rommy mengambil resep itu dan langsung pergi ke apotik untuk menebusnya.
"Ma!" panggil Darren dengan masih terisak.
"Sayang ... sini," panggil Terra.
"Mau Mama!" Rion menggeliatkan tubuhnya ingin bersama Terra.
Romlah menurunkan Rion ke sisi Terra. Darren juga kini berbaring dan langsung memeluk Terra. Pria kecil itu menangis tersedu-sedu.
Lidya pun ingin ikut memeluk mamanya. Haidar duduk di pinggir ranjang setelah menurunkan Lidya.
Ketiga anaknya menumpuk di atas tubu Terra sambil menangis.
"Ma ... jangan tinggalin kami. Kami nggak bisa hidup tanpa Mama ... huuuu ... uuuu!"
"Mama ... Iya syayang Mama. Danan tindalin Iya ... huuu ... uuu !"
"Mama ... Ion lope Mam .. huuuu!"
Terra menangis. Ia merasa bersalah pada ketiga anaknya karena membuat khawatir. Haidar mengusap air matanya. perlahan ia mengecup kening Terra.
"Jika ini terlalu berat kau rasa. Berbagilah. Ada aku di sisimu," ucap Haidar.
Terra mengangguk. Ia menangis dan sangat berterima kasih pada semua yang telah menolongnya hari ini.
bersambung.
berbagilah Te ... kamu hanya manusia biasa.