TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AKSI



Darren dan Lidya pergi berbulan madu bersama pasangannya masing-masing. Terra dan Haidar sedih melepas kepergian dua anaknya sekaligus melangsungkan hidupnya ke jenjang yang lebih serius.


"Sayang," panggil Haidar setelah melepas Darren dan Lidya pergi.


"Iya," sahut Terra sambil menenggelamkan tubuhnya ke pelukan sang suami.


"Kita akan cepat mendapat cucu langsung dari dua anak kita," ujar Haidar dengan pandangan menerawang.


Terra pun tersenyum lebar. Ia juga tak sabar menanti momen di mana ia menjadi seorang nenek.


Sementara itu Rion yang sedang menjalankan tugas ayahnya. Ia membaca pergerakan jurnal bisnis yang tertera di layar. Beberapa berkas juga ia pelajari.


"Mending aku pergi ke Eropa bantu Grandpa dan Daddy Leon ya!" gumamnya pelan.


"Jadi biar Sean dan Al di sini," lanjutnya bermonolog.


"Apa maksudnya Tuan muda?" tanya Bobby menanggapi gumaman Rion.


"Ya, Om. Ion kepikiran untuk pergi dan membantu perusahaan di Eropa. Biar Sean dan Al yang gantiin posisi Ion di sini," sahut remaja itu.


"Tapi, Tuan Pratama sudah memutuskan jika Tuan muda Sean dan Tuan muda Al yang pergi ke Eropa!" sahut Bobby menjelaskan.


"Tapi, yang Dougher Young kan Ion!" sahut Rion tak mau kalah.


"Sebaiknya, anda bicarakan hal ini pada Tuan Haidar!" sahut Bobby juga tak mau kalah.


Rion mencebik. Ia kembali membaca berkas-berkas untuk ia pelajari lagi. Sungguh pikirannya kini bercabang. Ia sedikit heran dengan ayahnya itu. Kenapa justru memilih Sean dan Al pergi membantu perusahaan kakek dari pihak ibunya dibanding dirinya yang keturunan asli.


Sementara itu di perusahaan Terra Sean menelpon Al yang berada di perusahaan Virgou. Dua saudara kembar itu memastikan mereka untuk ke Eropa.


"Al, kamu udah siapin semua berkas untuk kita bawa ke Eropa?" tanya Sean.


"Udah ... aku udah pelajari semua sistem bisnis di Eropa. Lagi pula perusahaan Grandpa juga sudah besar kita hanya perlu mempertahankan saja," jawab Al di seberang telepon.


"Ya, udah. Ntar tinggal siapin baju-baju kita. Di sana jauh lebih mudah buat kita untuk mengeksplor kemampuan kita. Setahun, kita bisa memegang penuh kendali bisnis," ujar Sean dengan mata berkilat.


Remaja itu sudah menyusun rencana dan program bisnis yang ia bawa ke Eropa. Ia akan menunjukkan bakat jika bangsa Asia tak dapat di remehkan.


"Kita juga harus bisa ambil hati para pemegang saham!" sahut Al antusias.


"Pemegang saham terbesar ya Grandpa, Daddy Leon, Daddy Frans, Daddy Virgou juga Mama!" sahut Sean lalu terkikik geli.


"Eh, kalau Kak Rion yang mau pergi gimana?" tanya Al tiba-tiba.


"Ya, biar saja. Kita ikut Kak Ion. Lagian aku bosan di sini. Kita masih dianggap anak bayi sama Daddy!" keluh Sean.


"Ayah apa lagi. Beliau paling nggak setuju kita pergi ke Eropa. Padahal Satrio juga pengen ikut kita!" sahut Al sengit.


"Eh, udah dulu. Daddy datang. Bye Sean, assalamualaikum!" sahut Al.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Sean memutus sambungan telepon.


Sean pun kembali pada pekerjaannya membantu Aden. Ia menjadi wakil kepala di perusahaan ibunya, Terra.


"Om, sepertinya kita harus melakukan ricek pada divisi perkembangan teknologi. Calvin kemarin mencurigai adanya pembengkakan jumlah pembelian suku cadang!" ujar Sean pada Aden.


Aden sudah mencatat semuanya.


"Jhenna. Minta pada Tuan Rommy. Kita harus bergerak cepat membersihkan masalah ini!" tukas Aden memberi perintah.


"Baik Tuan!" sahut Jhenna.


Padahal Aden dan Jhenna adalah suami istri. Tapi, jika di kantor. Mereka begitu profesional sekali. Tak ada kata-kata mesra ketika sedang bekerja. Aden memiliki dua putra dan satu putri dari istrinya itu. Kini ketiga anaknya sedang menempuh pendidikan SD dan SMP. Sedang Rommy memiliki dua putri dan dua putra. Dua kelas tujuh dan delapan. Sedang dua putranya masih berusia tujuh dan sepuluh tahun.


"Iya, Baby. Kita adakan rapat divisi!" jawab Aden cepat.


Sean langsung membawa beberapa berkas yang diperlukan. Remaja itu pun menuju ruang rapat dan mempersiapkan meja presentasi. Sean sudah terbiasa cekatan, ia tahu apa yang harus ia kerjakan.


Sementara di tempat Satrio. Remaja itu tengah membujuk ayahnya untuk mengikuti Sean dan Al ke Eropa.


"Nak, jika kau pergi, lalu perusahaan Ayah bagaimana?" tanya Herman pada putranya.


Ia meminta pengertian pada sang putra. Dimas, Dewa dan Dewi masih terlalu dini untuk terjun langsung membantu ayahnya.


"Dimas baru bisa membantu ayah sekitar tiga tahun lagi," ujar pria itu. "Apa lagi menunggu Dewa dan Dewi besar masih lama, mereka baru kelas lima SD!"


Satrio diam. Padahal ia sangat ingin memiliki ilmu lebih dengan ikut Al dan Sean ke Eropa.


Sebenarnya Sean tak ingin berpisah dengan semua saudaranya. Tapi ketika Nai, Arimbi dan Daud memilih pendidikan berbeda dengannya.


Sean mengusulkan Kean dan Cal juga Satrio ikut ke Eropa. Mereka tak pernah terpisahkan sedari mereka bayi.


Terra sudah sampai di rumahnya dari tadi. Sebentar lagi hunian itu akan sepi karena dua personil putranya akan pergi membantu perusahaan di Eropa.


"Anakku sebentar lagi tambah sedikit!" keluh Terra.


"Mama ... Mama!" panggil Arion dan Arraya.


Bayi berusia delapan bulan itu sudah mau merambat dan menaiki boks mereka. Terra menciumi dua bayi kembarnya. Dirinya sudah tak bisa memiliki anak lagi. Dokter menyatakan Terra memiliki riwayat jantung yang cukup mengkhawatirkan. Jadi, Terra langsung di steril.


"Ya, nanti rumah ini sepi ketika anak-anak menikah dan membentuk keluarga baru," sahut Haidar lalu mengangkat dua bayinya.


Terra sedih bukan main. Ia mengira bisa memeluk semua anaknya hingga ia tua. Tapi, ia sadar jika mereka nantinya memiliki kehidupan sendiri-sendiri.


"Baba!" panggil Arion.


"Papa sayang, bukan Baba!" sahut Haidar.


"Babamu enak sekarang. Ia cuti selama Darren juga cuti!" lanjutnya.


Terra pun turun ke dapur. Ia akan memasak untuk makan siang. Beberapa pengawal tengah mengawasi halaman belakang. Walau pun semua anak sudah besar dan mulai berkurang. Mereka diwajibkan untuk terus menjaga keselamatan Terra dan keluarga.


"Robert!" panggil Haidar sambil menggendong dua anaknya.


Pria yang bernama Robert datang. Ia membungkuk hormat. Arion meminta gendong pria itu.


"Bagaimana, dengan kamera sebelah pojok sana, apa sudah diperbaiki?"


"Sudah Tuan!" sahut Robert.


"Oh ya Tuan. Saya juga mau ajukan cuti tiga minggu. Saya akan menikah!"


"Alhamdulillah ... akhirnya ada juga yang mau denganmu," seloroh Haidar.


Robert terkekeh. Pria itu telah mendapatkan tambatan hatinya. Memang semua pengawal kini tak lagi diikat masa dinas. Mereka masih setia ikut dengan keluarga Haidar. Selain sisi kemanusiaan dan perhatian yang mereka dapatkan. Terra juga menganggap semua pekerja adalah bagian keluarga.


"Sayang ... Robert minta cuti tiga minggu. Dia mau menikah!"


"Alhamdulillah ... akhirnya Kak Robert laku juga!" sahut Terra bahagia.


bersambung.


Alhamdulillah ... semua sudah mendapat jodohnya ... tinggal othor!


next?