TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TUNTUNAN BARU GISELLA



Ambar sebagai seorang wakil presiden direktur mengundurkan diri. Suaminya sudah menginginkan dia untuk di rumah saja. Terra pun mempersilahkan Ambar mengundurkan diri. Sebuah pesta perpisahan kecil-kecilan diadakan untuk wanita yang telah mengabdi di perusahaan Terra selama lima tahun.


"Bu Ambar. Ini dari perusahaan sebuah reward atas dedikasi Mba untuk memajukan perusahaan ini," ujar Terra menyerahkan sebuah plakat penghargaan dan satu kunci mobil.


Ambar bahagia, ia sedih karena dirinya harus berpisah dengan pekerjaan yang membesarkannya. Meninggalkan teman-teman yang selama ini mendukungnya. Terutama Terra. Sosok pimpinan yang sangat mengerti sebuah dedikasi.


"Terima kasih, Nona," ujar Ambar tulus.


Perut Terra yang sudah mulai besar itu menghalangi pelukan keduanya. Baik Terra dan Ambar tertawa.


"Besar sekali, kembar ya?' Terra mengangguk.


"Berapa?" Terra menunjukkan dengan jari.


"Masha Allah," sahut Ambar takjub.


"Baiklah sekalian saya akan mengangkat Pak Aden Gemilang Suharja," sahut Terra.


Semua divisi setuju. Kinerja Aden juga sangat baik. Pria itu pantas menduduki jabatan itu.


"Pak Nandar, buka lowongan pekerjaan untuk sekretaris dua orang juga satu asisten pribadi," ujar Terra pada Nandar kepala HRD.


"Baik, Nona!" sahut Nandar langsung menanggapi perintah Terra. Rommy juga senang atas kenaikan pangkat Aden.


Waktu pun berlalu dengan cepat. Para karyawan pulang. Aden masih berkutat dengan pekerjaannya. Ambar baru menyerahkan enam puluh persen pekerjaan. Besok baru semuanya. Job desk-nya juga sudah disesuaikan. Aden belajar dengan cepat.


"Kak, ayo pulang. Pekerjaan itu bisa nanti. Jangan dikuasai sama pekerjaan, Kak!" ajak Terra sekaligus menegur.


"Baik, Nona. Ini juga sudah selesai," sahut Aden kemudian tersenyum.


Pria itu telah mematikan komputer setelah mengamankan seluruh data. Ia pun menutup laci. Memeriksa kembali, kemudian merapikan jasnya lalu mengambil kunci mobilnya. Ia berjalan bersama Terra juga Rommy. Budiman menyusul. Terra menggandeng Rommy karena sudah mulai sulit berjalan cepat karena terhalang perut. Menaiki lift khusus.


Mereka berjalan hingga halaman parkir. Budiman langsung membuka pintu mobil untuknya. Terra masuk perlahan dan duduk dengan nyaman. Haidar tak bisa menjemputnya. Ia sedang ada pertemuan dengan petinggi perusahaan dari benua Australia. Tak lama berselang. Mobil itu pun membelah jalan ibukota.


"Kak, nanti kita beli dimsum di mall B, Ya. Terra udah pesan," ujar Terra.


"Baik, Nona," sahut Budiman lalu membelokkan mobilnya menuju mall B.


Terra turun dengan hati-hati dibantu Budiman. Mereka pun mendatangi restoran. Mengambil dan membayar pesanan. Karena banyaknya pesanan, Terra dibantu oleh beberapa karyawan yang membawa dimsum tersebut.


Setelah pas baru lah mereka kembali pulang ke rumah. Butuh waktu dua puluh menit baru mereka sampai.


Terra turun disambut ketiga anaknya. Mereka heboh sendiri jika ibu mereka berjalan, terutama Rion.


"Mama, pati-pati! Panan balan pesyat-pesyat!' peringatnya.


"Iya, Mama. Hati-hati," peringat Darren khawatir.


Terra begitu terharu dengan perhatian ketiga anaknya. Ia sangat menyayangi semuanya.


"Pedet payi ... panan matal yaa," ucap Rion sambil mengusap perut ibunya.


"Antar Mama ke kamar, sayang," pinta Terra.


Anak-anak langsung mengantar ibu mereka ke kamar. Romlah membagi dimsum yang tadi dibeli majikannya. Ia tadi sudah diminta oleh Terra membagikan pada pasukan pengawal. Perhatian Terra membuat kesan tersendiri. Sudah satu tahun lebih mereka bekerja untuk Terra. Bahkan sebentar lagi ulang tahun Lidya dan Darren.


Setelah membersihkan diri. Terra membaringkan tubuhnya kehamilan ini membuatnya kesulitan. Empat janin yang dikandungnya benar-benar membuatnya kualahan.


"Mama, minum dulu, Ma," ujar Darren sambil menyodorkan satu gelas air minum.


Terra terharu. Ia pun meminum air pemberian putranya hingga tandas.


"Makasih, sayang," ungkap Terra dengan senyum penuh haru.


"sama-sama Mama," sahut Darren tulus.


Begitu merasa mendingan, Terra bangkit dari ranjangnya. Ia keluar dari kamar bertepatan dengan kedatangan suaminya. Haidar menciumi anak-anaknya. Lalu mencium perut Terra.


"Assalamualaikum!' sebuah salam terucap.


"Wa'alaikum salam," sahut Budiman.


Pria itu mengernyit. Gisel datang bersama David dan Gabe. Senyum Budiman melebar ketika kedatangan Gisel.


Gadis itu hanya tersenyum dengan rona merah di kedua pipinya. Dua orang lainnya memutar mata malas..


"Selamat petang, Nona, Tuan-tuan," sapa Budiman.


"Petang juga Kak Budi," balas mereka.


Ketiganya masuk. Semua menyambutnya dengan gembira. Hari ini ada perayaan kecil. Gisella Elizabeth Dougher Young memasuki kehidupan baru. Tadi pagi ia baru saja melafadzkan kalimat syahadat. Gadis itu sudah lama tertarik dengan agama yang dianut oleh Terra bahkan sebelum ia mengenal Terra.


"Selamat datang ya sayang. Istiqomah. Akan banyak rintangan menghadangmu nantinya," ujar Terra.


Gisella mengangguk. Ia selalu yakin dengan keputusannya. Semua keluarga mendukungnya. Tidak ada larangan dan paksaan. Mereka selalu memberikan keluasan anak-anak mereka untuk menentukan pilihan. Selama mereka bertanggung jawab.


"Inshaallah, minta doa juga dukungannya, ya, Kak," ujar Gisel tersenyum.


"Tentu sayang," ujar Terra mengelus kepala adiknya itu.


Budiman cukup terkejut mendengarnya. Ia bahagia akan keputusan gadis itu. Ia pun makin tak ragu memantapkan hatinya.


'Empat tahun lagi, Nona. Tunggu aku ya. Aku yakin kau adalah jodohku," gumam Budiman.


bersambung.


Alhamdulillah


next?