
Hari ini adalah hari libur. Terra tengah sibuk membuat kue untuk camilan anak-anaknya. Gadis itu membiarkan ketiga anaknya bermain bersama di pojok ruang yang sengaja di ciptakan untuk area bermain. Tadinya mereka ingin berenang. Hanya saja, cuaca tiba-tiba gerimis, malah turun hujan lebat. Makanya, mereka tidak ada yang bermain di luar.
Hujan sudah berhenti lima menit lalu. Walau masih mendung dan rintik-rintik air menetes dari langit satu-satu.
Terra tengah menyiapkan pie-pie berukuran mini dalam pinggang besar. Membuat minuman hangat, teh jahe madu. Cuaca dingin tentu enak meminum dengan cita rasa hangat. Jahe dan madu bagus buat kesehatan mereka semua. Tak lupa Terra menyisihkan beberapa pie untuk para pekerja di rumah berikut minumannya.
"Non. Di depan ada tamu. Katanya mau ketemu sama, Non," ujar Gina tiba-tiba masuk ke dapur dari pintu samping.
Terra mengernyit. "Siapa Bik?"
"Katanya Pamannya, Non dari mendiang Ibu," jawaban Gina membuat Terra terdiam.
Masalahnya gadis itu tidak mengetahui jika ibunya memiliki kerabat. Setau gadis itu, sang ibu hanya memiliki nenek yang sudah lama tiada setelah pernikahan satu tahun ibu dengan ayahnya, ia pun waktu itu masih dalam kandungan. Ia mengetahui karena ibu yang menceritakan semua dulu.
"Suruh masuk saja, Bik," titah Terra kemudian.
Butuh waktu sepuluh menit untuk menunggu tamu itu datang. Gina telah menyuruh orang yang bertamu itu untuk duduk. Kemudian wanita itu memanggil majikannya.
Terra ke ruang tamu setelah memastikan ketiga anaknya masih sibuk bermain dan makan pie yang baru ia buat. Gadis itu juga menyuruh Gina untuk menyiapkan satu cangkir minuman jahe madu beserta camilannya ke ruang tamu nanti.
Terra ke ruang tamu. Di sana sosok pria berambut putih keperakan duduk dengan tenang. Netra mereka saling beradu. Wajah keriput dengan ulasan senyum terukir. Pria yang berkisar enam puluh tahun itu masih sangat tampan. Pria itu kemudian berdiri menyambutnya.
"Duduk saja, Tuan ...," Terra sedikit canggung memanggilnya.
"Tidak apa. Maaf jika saya terlalu lancang datang ke sini. Perkenalkan nama saya adalah Herman Adian Triatmodjo, kakak kandung dari Ibumu, Aura Sabriana Triatmodjo," pria itu memperkenalkan dirinya.
Terra ternganga. Ia masih shock dengan kenyataan, ketika mengetahui jika ia memiliki seorang paman kandung dari pihak ibunya. Terra menyalim tangan yang terjulur. Herman merasa hangat dengan kelakuan kemenakannya itu.
"Silahkan duduk ... emm ...."
"Panggil Paman, saja," pinta Herman sambil mengulas senyum.
"Paman ...," panggil Terra dengan suara tercekat.
"Boleh Terra peluk?" pintanya lirih.
Herman begitu terharu. Pria lanjut usia itu mengangguk merentangkan tangannya. Terra langsung menghambur ke pelukan sang paman. Gadis itu menangis. Sangat pilu, hingga tak terasa air mata Herman ikut menetes.
"Ibu pernah bilang. Jika beliau memiliki seorang kakak yang sangat baik. Apa itu Paman?" tanya Terra sambil mengangkat kepalanya.
Herman menghapus air mata Terra dengan jemarinya. Kemudian ia mengangguk dan kembali memeluk kemenakannya yang sangat cantik itu.
"Paman kemana saja ... huuu ... uuu!"
"Maafkan Paman ... maafkan Paman, Nak. Ini murni kesalahan kami," ujar Herman meminta maaf.
"Paman jahat, Paman biarin Te, sendirian ... huuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
"Makanya sekarang Paman datang, Nak. Untuk menebus semua kesalahan, Paman."
"Mama!" Tiba-tiba tiga suara berbeda menyeruak.
Herman melihat tiga anak yang begitu menggemaskan. Pria itu menangis ketika mendengar ketiga anak itu memanggil Terra debgan sebutan mama.
"Sayang sini. Kenalin ini Kakek Herman," ujar Terra setelah menghapus air matanya dan mengenalkan Terra.
Baik Darren, Lidya dan Rion hanya bergeming. Mereka takut menatap senyum palsu Herman. Insting mereka terutama Darren begitu kuat, jika pria itu tidak menyukai kehadiran ia dan dua adiknya.
"Sayang?" panggil Terra heran.
Terra menatap wajah Herman yang sedikit tertekuk namun mengurai senyum. Jemari Terra langsung mengepal keras. Rahangnya mengeras. Ia pun langsung menjauhi tubuh pria yang mengaku pamannya itu.
Herman langsung menyadari perubahan sikap Terra. Terlebih wajah gadis itu menunjukan rasa ketidak sukaannya terhadap sikap Herman kepada ketiga anaknya.
"Te ...," Panggil Herman.
"Anak-anak. Kalian bisa kedalam lagi untuk bermain?" titah Terra yang ditanggapi anggukan Darren.
Pria kecil itu mengetahui jika sekarang adalah ranahnya orang dewasa. Darren langsung mengamit kedua lengan adik-adiknya dan berlalu dari sana.
Herman menghela napas berat. Pria itu duduk di sofa dengan perasaan canggung. Karena semenjak tadi gadis itu menatapnya tajam.
"Jadi, apa yang ingin Anda sampaikan? Saya sudah berada di hadapan anda sekarang!"
Begitu tegas, dingin dan datar. Berbeda ketika tadi pertama Terra mengetahui jika ia adalah paman dari ibu kandungnya.
"Te."
"Maaf, saya paling tidak suka dengan orang yang membenci ketiga anak saya!"
Deg!
Sebuah teguran keras dari Terra menyadarkan Herman, jika ketiga anak itu sangat berarti bagi kemenakannya kini.
"Tapi mereka adalah ...."
"Saya tahu. Tapi, anda tidak berhak menghakimi kesalahan yang bukan mereka perbuat!"
Herman tertohok mendengar ujaran Terra. Pria itu merasa tersentil. Terra begitu melindungi ketiga anaknya.
"Maafkan Paman, Nak. Benar-benar minta maaf padamu," ujarnya.
Kemudian pria itu mendatangi Terra lalu bersimpuh pada gadis itu. Perbuatan Herman membuat Terra terkejut.
"Apa yang anda lakukan?" sentak Terra.
"Paman ingin minta maaf padamu. Seharusnya, Paman tidak berbuat seperti tadi. Maafkan Paman," ungkapnya tulus memohon.
Terra tidak enak hati. Gadis itu langsung merngkuh bahu Herman dan memeluk pamannya itu. Herman membalas pelukan Terra. Ia benar-benar menyesal akan tindakan implusifnya tadi.
"Paman ...," Panggil Terra.
Nadanya kembali normal, tidak sedingin dan sedatar tadi. Herman mendongak. Sungguh ia bangga akan didilan adiknya ini.
"Ada yang ingin Paman ceritakan. Tentang kisah Ibumu," ujar Herman kemudian.
Bersambung.
Wah ... Next?