
Bagaimana jika dua balita itu tengah berembuk untuk memberi kejutan buat orang tuanya. Darren yang ingin ikut pun dilarang oleh dua balita itu.
"Tata Dallen itutin aja. Eundat usyah iput pancul," elak Lidya ketika Darren ingin ikut menimbrung obrolan kedua adiknya.
"Biya ... belnel. Ata' Balen beunda utah iputan!' sahut Rion.
"Bedini syaja. Iya ama Baby tan eundat pahu anta ban huluf. Tata Dallen bantuin itu syaja, bedimana?' tawar Lidya.
"Oteh deh, Kakak mau," ujarnya mengalah.
"Pita ambil peltas pandaan, telus tulis ... eemm ... tulis apa Baby?" tanya Lidya.
"Belpom hom Mama Papa," jawab Rion serius.
"Nah, itu," sahut Lidya.
Darren pun menunjukkan huruf yang harus ditulis Lidya. Gadis kecil itu sudah bisa menulis walau ia belum hafal huruf-huruf yang ada. Dan, siapa sangka. Tulisan itu benar-benar apa yang diucap oleh Rion.
"Trus, apa lagi?' tanya Darren setelah Lidya menulisnya.
"Pita menawi ... bodet-podet!" jawab Rion sambil menggoyang bokongnya.
Darren pun mengerti. Ia mengangguk. Lalu ia ingin memberi ide. Tapi, karena dilarang, akhirnya ide itu menjadi pertanyaan.
"Terus musik buat joget apa?' Lidya nampak berpikir.
Rion pun ikut berpikir. Matanya mengedar. balita yang sebentar lagi berulang tahun itu melihat kecrekan. Ia pun mengambilnya lalu membunyikannya. Darren bertepuk tangan sambil tersenyum. Ia yakin ayah ibunya pasti sangat terhibur.
"Terus hanya itu saja?' tanya Darren lagi.
Dua adik kakak itu saling pandang. Lagi-lagi keduanya kembali berpikir. Sungguh mimik mereka begitu menggemaskan. Dahi berkerut dan bibir mengerucut. Tangan mereka menopang dagu dengan jari telunjuk yang mengetuk pipi tembem keduanya. Darren nyaris tertawa melihat tingkah dua adiknya itu.
"Bajunya yang meriah dong. Seperti ada rumbai-rumbainya, ada bling-blingnya pake hiasan kepala. Kan seru tuh," sahut Darren lagi memberi usul.
"Emm ... bantuin Tata Dallen banan nomon syaja," celetuk Lidya.
"Hmmm ... oteh deh," akhirnya Darren setuju membantu dua adiknya yang ingin menyambut kepulangan ayah dan ibunya nanti.
Mereka pun mulai beraksi. Darren memiliki kertas sisa warna-warni yang berkilauan, untuk tugas seninya. Pria kecil itu mengambil benang panjang. Ia membuat rok dari kertas itu untuk Lidya. Sedangkan Rion dibuatkan ikat kepala. Mereka melewati tidur siang hanya untuk menyiapkan kejutan untuk Terra dan Haidar.
Rion beberapa kali menguap begitu juga Lidya. Tapi, semangat mereka mengalahkan kantuknya. Darren begitu terharu melihat kegigihan keduanya. Ia juga ingin ikut andil untuk membuat kedua orang tuanya terhibur. Maka dengan segenap hati ia pun membantu dua adiknya menjalankan misi.
Rion dan Lidya berlatih gerakan, entah dari mana ide itu bersarang di otak kecil mereka. Rion dan Lidya tampak serius dengan latihannya hingga menjadi sama. Darren pun ikut berlatih bersama mereka. Walau ia yakin hasilnya pasti akan berubah total. Tapi, ia berusaha mengikuti keinginan dua adiknya.
''Biar nggak ngantuk," begitu alasannya.
Benar saja. Usai sholat. Keduanya tak dapat menahan kantuk. Lidya dan Rion sudah kelelahan. Bahkan sangking lelahnya Rion melupakan minum susunya. Romlah yang melihat dot susu Rion masih utuh langsung mencari di mana tuan baby-nya.
Wanita itu sangat iba melihat kedua balita itu tidur di atas sajadah dengan peluh di kening mereka. Darren tak bisa melakukan apa-apa kecuali membiarkan kekacauan yang diakibatkan dua adiknya.
Ketika Romlah ingin membereskan semuanya, langsung dilarang oleh Darren.
"Biar aja, Bik. Biar Mama sama Papa lihat usaha mereka menyambut kedatangan Mama dan Papa."
Romlah pun urung, bahkan ia membiarkan riasan wajah dari nona kecilnya. Lidya melarang untuk menghapusnya.
sepuluh menit kemudian. Terra dan Haidar pulang. Mereka mengucap salam ketika masuk rumah. Keduanya ternganga ketika melihat ruang tengah sedikit porak poranda. Tulisan "Belpom Hom Mama Papa" menyambut kedatangan mereka.
Terra menatap Darren yang tengah duduk di antara dua balita yang tertidur. Terlihat baju mereka yang dihias sedemikian rupa oleh kakaknya. Terra langsung mengerti apa maksud ketiga anaknya, begitu juga Haidar.
"Oh, sayang-sayangnya Mama. Kalian ternyata ingin menyambut Mama sama Papa ya," ucap Terra terharu.
"Iya, Ma, mereka sampai latihan dan melewatkan tidur siang, untuk bisa memberikan persembahan untuk Mama dan Papa," jawab Darren. Ia pun menguap.
"Kamu juga ngelewatin tidur siang, ya?' tanya Haidar pada putranya.
Darren mengangguk. Haidar mengelus rambut sang putra. Sedang Terra sangat hati-hati melepas semua atribut yang menempel di baju dua anaknya.
Terra menggendong Rion sedang Lidya digendong Haidar. Budiman masuk dan disuguhi kata-kata 'Belcom hom Mama Papa", langsung tersenyum lebar.
"Ngerjain PR sekarang, ah. Biar tidur cepet," ucap Darren lalu menuju kamarnya.
Budiman hendak mengambil air minum. Romlah langsung membereskan kekacauan yang dibuat oleh nona dan tuan kecilnya. Tapi membiarkan tulisan yang menempel di lemari kaca. Terra keluar dan cukup terkejut dengan riasan di wajah asisten rumah tangganya itu. Wanita itu langsung tahu siapa pelakunya.
"Maafin, Lidya ya, Bik," ujar Terra sedikit merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, Nya. Ini bisa dihapus, kok," sahut Romlah.
'Andai Nyonya tahu kalau tadi hampir saya buat nangis Non Lidya sama Tuan Baby,' gumam Romlah dalam hati. 'Mungkin saya langsung Nyonya usir."
bersambung.
hadeh ... Lidya ... Rion ... ada-ada aja yaa.
next?