
Sudah nyaris satu bulan Dominic tinggal di Indonesia. Pria itu harus segera kembali ke negaranya. Walau ia mendapat visa pekerja, tetapi perusahaan masih butuh performanya.
"Jac, kapan kau melamar Putri?" tanya Pria itu. "Ayahnya sudah sehat kan?"
"Sudah, Dad. Putri bilang, Ayahnya ingin bertemu dulu denganku," jawab Jac.
"Lalu kau Demian?" tanya Dominic pada putranya.
Demian hanya menghela napas panjang. Ia masih bingung dalam menentukan langkahnya. Ia masih buntu.
"Aku hanya pasrah, Dad. Aku mendekatkan diri pada pemilik hati saja. Aku mencoba ikhlas," jawab Demian.
"Seringlah mendatangi Lidya. Kau harus memikat hati gadis itu terlebih dahulu. Tentang keluarganya, pasti akan mendukung jika putrinya sudah cinta mati sama kamu!" saran pria berusia nyaris setengah abad itu.
"Mungkin, nanti sore aku akan kembali mendatangi seperti biasa, Dad!" jawab Demian.
"Aku ikut!" sahut Dominic.
"Ngapain?" tanya Demian heran.
Dom hanya tersenyum penuh arti. Pria itu bukan saja ingin memeriksa kesehatannya. Pria itu tertarik dengan sebuah toko kue dan barang-barang cetaknya.
"Aku ingin mampir ke sebuah toko kue di dekat rumah sakit," jawab Dominic tenang.
Demian dan Jac menyipitkan matanya, keduanya masih ingin lebih tau lagi. Dominic memilih diam, hingga membuat dua pria itu mencibir ayah mereka.
Sore hari seperti biasa, Demian telah mendaftar kan diri. Tetapi kini mereka tidak mendonorkan darah mereka, karena masih hitungan minggu. Mereka kembali menunggu di ruang praktek Lidya. Tidak adanya Gio, membuat heran Demian. Tapi pria itu memilih diam. Ketiganya kembali masuk ketika nama mereka dipanggil.
"Lidya!" panggil Demian.
Gadis itu merona. Putri juga salah tingkah ketika Jacob tersenyum padanya.
"Tuan Starlight," sapa kedua gadis itu.
"Aku langsung saja pada kalian berdua," ujar Dominic serius.
"Aku tau apa yang aku sampaikan ini bertentangan dengan aturan rumah sakit. Tapi, ini harus diucapkan!' ujarnya tegas.
"Daddy, hanya mengatakan jika dua putra Daddy ini adalah pria yang bertanggung jawab. Mereka akan berusaha membahagiakan kalian jika memutuskan untuk hidup dengannya!" ujar pria itu tegas.
"Putri, Jac memang bukan anak kandungku, tetapi, aku mengasuhnya ketika pria ini baru berusia sepuluh tahun! Aku jaminkan jika Jacob bisa menjadi imammu dan penuntunmu," jelasnya lagi.
Satu titik bening jatuh dari pelupuk mata Putri. Gadis itu begitu terharu.
"Saya hanya gadis miskin, Tuan," sahutnya dengan suara tercekat.
"Jangan katakan itu. Allah tidak melihat miskin dan kaya untuk memasuki surga-Nya!" tegur Dominic tegas.
"Besok, Jac akan menghadap ayahmu. Aku harap, jika kau masih ragu. Putuskan sekarang juga, agar putraku berhenti berharap padamu!" tekan pria itu.
Putri nyaris menangis, sungguh ia memang tidak mau Jacob menyerah untuk mendapatkan dirinya.
"Putri, kesabaran pria itu ada batasannya. Aku juga tidak mau putraku jatuh terlalu dalam hingga ia terluka. Maka itu, aku tegaskan sekali lagi. Jika kau ragu. Hentikan sekarang juga. Karena aku tak mau jika putraku hanya sendirian berjuang!"
Ucapan Dominic begitu tegas dan tak mau main-main. Pria itu ingin kejelasan. Putri harus memastikan jika gadis itu ikut berjuang bersama putra angkatnya.
"Saya mau, Tuan!" jawab Putri tegas.
"Kau yakin?" Putri mengangguk kuat.
Lidya memeluk sahabatnya.
"Lidya!" panggil Dominic.
Lidya menoleh. Air mata mewakili jawaban semua kegundahan pria itu.
"Aku tahu, anakku Demian harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan dirimu Kau adalah mutiara keluarga, aku juga tak bisa memaksamu berbuat sama seperti Putri," ujar Dominic.
"Tapi, Daddy yakinkan padamu, jika Demian sangat mencintaimu. Ia akan membuktikan dia layak untuk menjadi pendamping mu!" lanjutnya.
"Untuk itu, bantulah dia Beri dia dukungan, beri tanda jika kau juga menginginkan Demian, putraku!"
Lidya, menitikan air matanya. Ia memang harus membuka peluang agar pria idamannya itu bisa masuk dalam keluarga.
"Insyaallah, Iya akan membantu Mas Demian," jawab gadis itu sangat lirih.
Dominic tersenyum. Ia sudah melakukan tugasnya. Membantu kedua putranya untuk lebih mudah mendapatkan cintanya. Kini, ia tinggal menyerahkan semuanya pada Sang Maha Pemilik Hati manusia.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga kalian berjodoh hingga Jannah! Aamiin" doanya dalam hati..
Waktu berlalu. Keadaan Gio makin membaik. Bahkan luka-lukanya sudah benar-benar mengering. Aini melakukan tugasnya penuh dedikasi tinggi.
Flashback.
"Nona ... jangan!" tolak Gio lemah.
Aini hendak membersihkan luka di punggung pria itu. Aini tak perduli. Ia membuka baju pasien, membersihkan luka-luka yang masih bernanah dan memberinya obat dan salep. Gio sedikit meringis. Rasanya begitu perih dan gatal. Matanya memejam ketika tangan terbungkus sarung tangan karet itu mengulas salep di punggungnya.
Aini menatap punggung lebar pria itu. Sekuat tenaga ia menetralkan detak jantungnya yang menggila. Beruntung ada perawat yang menemaninya, hingga ia bisa menetralisir perasaannya.
Selama satu minggu lebih, Aini yang menangani perawatan Gio. Dokter spesialis melihat perkembangan dampak luka yang ditimbulkan.
"Masih sedikit berbekas. Tapi, semua luka sudah sembuh dan mengering sempurna bahkan sudah terkelupas secara alami. Penanganan Dokter Aini baik sekali," puji dokter itu sekaligus menerangkan keadaan Gio.
Sekarang, pria itu sudah tak perlu tengkurap lagi. Aini hanya mengangguk saja. Dari matanya yang menyipit, terlihat jika ia tersenyum. Gadis itu menggunakan masker medis.
"Tiga hari lagi, anda baru boleh pulang," ujar dokter spesialis.
Semua dokter meninggalkan dirinya termasuk Aini. Pria itu sejenak tercenung. Hari pernikahan tuan mudanya sudah terlewat tiga hari lalu. Tetapi, Aini tak pernah ijin satu hari pun. Rio datang menjenguknya. Beberapa rekannya bergantian menjaga pria itu, walau Gio meminta mereka pulang.
"Rio, apa Tuan muda sudah menikah?" tanya Gio heran.
"Tuan muda membatalkan pernikahannya. Mereka tidak mendapat kuota pernikahan dari kantor catatan sipil ataupun KUA," jawab Rio.
"Dibatalkan? Bukannya ditunda?" Rio menggeleng.
"Saya tak tahu pasti, ketua. Tapi, itulah yang saya dengar, jika Tuan muda dan Nona Aini sendiri yang membatalkan pernikahan mereka," jawab Rio.
Gio diam menanggapi. Rio duduk di sebelahnya dan melaporkan semua kegiatan para pengawal selama ketuanya tak ada. Begitulah rutinitas yang harus ia lakukan.
Sedang di tempat lain. Delapan orang tengah mengamati sebuah rumah sederhana yang tertutup rapat.
"Jadi keponakan Dono tinggal di sini." tanya seorang pria berkumis tebal dan berperut buncit.
"Benar, Boss!"
"Kalau begitu, kita tunggu dia. Anak itu harus melunasi hutang pamannya!" ujar pria itu.
"Kita sewa rumah kontrakan dekat sini dulu!" titahnya.
Kedelapan pria itu pun mencari rumah petak untuk mereka sewa. Ketika mendapatkan rumah itu. Mereka beristirahat, sampai lupa untuk mengawasi rumah yang mereka incar. Selain itu, banyak kondisi yang membuat mereka urung menyergap rumah Aini.
Gio sudah kembali bertugas hari ini. Lidya begitu sedih. Ia memeluk pria itu. Gio begitu tersentuh, semua luka yang ia rasakan hilang begitu saja karena pelukan Lidya.
"Terima kasih, Nona!" Lidya mengangguk.
Kini Gio kembali mengawal nonanya bersama Hendra dan Felix. Kali ini, Lidya lembur banyak data rekap pasien yang harus ia kerjakan. Untung ada Putri yang membantunya. Hingga pukul 20.00. baru semua pekerjaan selesai.
Lidya melihat Aini yang kesulitan menggendong Radit. Safitri juga baru keluar dari ruangannya. Gadis itu lalu bergegas menghampiri Aini dan membantu mengangkat dua balita itu.
Hendra datang membantu. Pria itu menggendong Ditya.
"Makasih, Mas ... siapa namanya?" tanya Saf.
"Hendra, Nona!' jawab pria itu.
Safitri mengangguk. Mereka semua berjalan ke halaman parkir.
"Naikan di mobil saya, Mas Hendra!" pinta Saf.
"Bu bidan," panggil Aini tak enak.
"Apa?" sahut Saf galak.
"Sukurin!" sahut Lidya pada Aini.
Putri membantu membuka pintu untuk Ditya yang digendong Hendra. Semua sudah masuk mobil. Lalu kendaraan itu pun bergerak menuju rumah sewa Aini.
Ketika sampai, Lidya melihat pergerakan mencurigakan, tetapi ia mendiamkannya. Ia memutuskan untuk mengikuti Aini hingga rumah sewanya bahkan Putri juga ikut bersamanya. Aini tiba terlebih dahulu.
"Kau namanya Aini?" sebuah suara mengagetkannya.
bersambung.
ah eh ...
next?