TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SIDANG DARREN



Sampai rumah. Terra terduduk setelah menurunkan anak-anak Rasya dan Rasyid juga Ari dan Ara. Mereka semua masuk kamar karena semua kelelahan.


"Sayang," panggil Haidar.


Rion dan Lidya terlebih Darren pun ikut duduk. Nai, Sean, Al dan Daud baru datang dengan satu kendaraan yang disupiri Hendra.


"Ma ... kami lupa Ibu ... hiks ... hiks," ujar Nai penuh penyesalan.


"Maafin kami, Ma. Mestinya kami ingat kalau Ibu itu tadi ikut salah satu mobil kita," ujar Sean penuh penyesalan.


Bahkan Hendra juga merasa bersalah. Ia sempat memutar kembali mobilnya yang sudah separuh jalan. Sampai sana Safitri sudah tak ada.


"Ma," panggil Daud.


"Ibu bakal benci kita nggak ya?" tanyanya takut.


Al dan Sean diam. Keduanya menunduk. Darren yang mestinya lebih peka dengan gadisnya, tadi lupa karena masalah yang baru saja ia timbulkan..


"Tadi ketika di jalan, Mama sudah telepon dan meminta maaf. Saf, tak mempermasalahkan hal itu. Ia maklum kita kelelahan. Ia sendiri lupa jika datang ke tempat itu ikut dengan kita," sahut Terra walau dengan mata menerawang.


"Sudah, jangan pikirkan itu lagi. Papa yakin, Safitri bukan anak kemarin sore yang langsung ngambek karena semua lupa padanya. Jika dia marah, ya terima saja. Toh, kita memang salah," sahut Haidar.


"Nanti, kita boleh ke Ibu nggak Ma. Buat minta maaf?" ujar Nai meminta ijin.


"Ya, sudah. Besok kalian bisa mendatangi Ibu kalian dan meminta maaf ya. Mama juga akan mendatangi dia nanti," ujar Terra.


"Sekarang, kalian bebersih dulu dan istirahat. Gantung baju kalian dan langsung taruh di laundry, jangan buat Bibi yang mencuci!" titah Terra.


"Iya, Ma!" sahut keempatnya kompak.


Mereka semua naik ke kamar mereka..Tinggal Lidya, Rion dan Darren.


"Kalian juga, naik dan istirahat lah!' titah Terra.


"Iya, Ma," sahut ketiganya.


"Darren!" panggil Haidar.


"Mas," peringat Terra.


"Biar dia istirahat dulu, ya," pinta wanita itu lembut.


Haidar akhirnya mengangguk. Darren mencium pipi pria itu.


"Darren akan menjelaskannya Pa. Sebentar ya, Darren mandi dan ganti baju dulu," pinta pria tampan itu.


Kemudian ia pun. naik ke atas sebelum Haidar menjawab. Pria itu hanya menunggu penjelasan putranya perkara Tania Mulyadi tadi.


"Pa, Mama yakin jika Darren tak sejauh itu," ujar Terra menenangkan suaminya.


"Iya, sayang. Papa tau, tapi jika tak diingatkan. Papa takut Darren terjebak dan tak bisa keluar dari wanita iblis itu," jelas Haidar cemas.


"Banyak laporan miring yang melibatkan wanita cantik itu. Dia sebenarnya pintar, tapi terlalu ambisius dan triknya kotor. Ia akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan, termasuk masalah tidur tadi," jelasnya lagi.


"Apa tidak bisa dilaporkan pada satuan pebisnis?" Haidar menggeleng.


"Ketua satuan sudah tidur bareng bahkan kumpul kambing satu tahun dengan wanita itu," jawabnya.


Terra menganga.


"Papa kurang jumlah untuk menggeser kedudukan ketua. Lalu banyaknya pebisnis kotor yang menikmati tubuh indah Tania, jadi Papa kalah suara," keluh pria itu lagi.


"Apa perlu bantuan BraveSmart?" tanya Terra.


"Dan membuat ponsel putra kita di petisi banyak orang?" Haidar menggeleng tak setuju.


Terra terdiam. Memang keberadaan ponsel canggih anaknya kini terancam petisi para pebisnis dan oknum culas, baik dari pemerintah juga kalangan rakyat biasa. Mereka merasa diawasi. Semuanya akan mudah disetir jika masyarakat diberi dan dibubuhi cerita palsu.


"Sayang, masyarakat lebih suka cerita hoax yang hanya mendukung pejabat tertentu. Padahal ponsel ini membantu mereka untuk negara lebih maju dan terkendali. Bahkan pihak asing akan berpikir dua kali untuk macam-macam pada negeri ini," keluh Terra menanggapi.


"Sudah lah. Tak usah dipikirkan. Makanya, Papa meminta Al untuk tidak lagi memproduksi BraveSmart ponsel. Tapi ponsel pelindung dan chip saja yang diperbanyak," ujar Haidar.


Terra mengangguk. Terlebih internet kini mudah di akses di manapun. Keberadaan ponsel rahasia itu makin mudah tercium.


"Ah ... belum jadi istrimu saja, kamu sudah lupa. Bagaimana kalau sudah istri ya?" gerutu gadis itu ketika di telepon.


"Memang kau mau jadi istriku?" tanya Darren dengan senyum lebar.


Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk dan bergulingan di sana. Pria itu bahagia sekali mendengar suara gadis cantik itu.


"Ya mau lah ..


eh ... nggak ah, entar kamu lupa lagi kalo punya istri!" sahut Saf lalu memutus sambungan teleponnya.


Darren tertawa sambil menatap ponselnya. Di layar utama foto Terra masih terpampang di sana. Tetapi, ketika mengunci foto Safitri lah yang muncul. Darren memfotonya tadi secara diam-diam.


"Jadi?"


Suara Haidar membubarkan lamunan Darren. Pria itu duduk di depan ayah dan ibunya, ia pun menceritakan kejadian sesungguhnya.


"Alhamdulillah jika kau tak jadi bekerjasama dengan Tania. Papa sedang mengumpulkan beberapa kolega penting yang ingin mencoret gadis itu dari jajaran bisnis. Gadis itu sangat memperburuk citra bisnis. Ada beberapa kolega Papa yang terjerat dan diceraikan istrinya gara-gara gadis itu. Kini mereka menyesal, sayangnya mereka itu sudah bangkrut," jelas pria itu panjang lebar.


"Lalu kenapa kau membohongi Safitri jika kau rugi dua miliar gara-gara drama yang ia lakukan?" tanya Haidar lagi.


"Darren cuma bercanda, Pa," jawab pria itu.


"Lalu sudah kau buat gadis melambung, malah kau meninggalkan dia seorang diri di lapangan parkir," ujar Haidar sebal.


Darren diam. Ia mengakui kesalahannya. Tapi, mendengar jawaban gadisnya tadi, ia yakin jika Safitri bukan gadis manja yang langsung ngambek dan uring-uringan.


"Ya, sudah. Besok kamu sama adik-adik ke tempat dia dan minta maaf ya," Darren mengangguk.


"Ya, sudah istirahat sana," titah Haidar.


"Makasih, Pa. Ba bowu," ujar pria muda itu lalu memeluk ayahnya manja.


"Ish ... udah mikirin cewek masih manja," cibir Haidar.


"Biarin. Papa suka kan?"


Haidar memencet hidung mancung adik ipar yang menjadi putranya itu. Darren hanya meringis. Terra tersenyum melihatnya. Setelah Darren pergi ke kamar. Terra merangkul lengan suaminya.


"Pa, mandi yuk," ajaknya.


Haidar menatap istrinya penuh minat. Wanita itu tersenyum manja lalu mengecup pipi sang suami.


"Cepetan ya, Pa. Mama tunggu," ujar Terra usil lalu melepas rangkulannya dan pergi ke atas menuju kamarnya.


"Sayang ... tunggu!"


Pria itu mengejar istrinya dan menggendongnya ala pengantin hingga Terra terpekik tertahan. Keduanya pun masuk kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.


Sedang di tempat lain. Sepasang pengantin baru tampak berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Safitri menghukum keduanya berdiri selama dua jam lebih. Gio mungkin sudah terbiasa, tapi Aini?


"Ibu," rengek Aini.


"Ah, masih ingat Ibu? Tadi ke mana aja ya?" tanya Saf menyindir.


"Bu," kini Gio yang memohon.


Saf akhirnya menghela napas. Ia memeluk Aini dan mencium nya. Aini menangis.


"Ibu, kaki Aini pegel," rengek seorang istri yang masih gadis itu.


"Iya, maaf ya. Nanti Ibu kasih obat gosok buatan ibu sendiri dan minta suamimu yang gosokin ya," ujar Saf lembut.


"Makasih Bu," sahut keduanya.


Saf meminta keduanya duduk dan menunggu. Setelah memberi obat gosok. Gio menggendong istrinya ke mobil karena sedikit bengkak kakinya. Saf agak bersalah, tapi rasanya itu hukuman pantas untuk mereka yang lupa akan seseorang yang mencintai mereka dengan tulus.


bersambung.


hahaha ...


next?