
"Paman akan menikah minggu ini," ujar Herman memberi tahu kemenakannya.
Pria itu datang bersama asisten pribadinya. Pria itu juga membeli chip pelindung data juga BraveSmart ponsel. Sedang asistennya ia belikan ponsel khusus data.
Terra cukup terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh pamannya itu.
"Wah, siapa gadis yang beruntung itu?" tanya Terra dengan semringah.
"Namanya, Khasyana Pandewi Burhan," jawab Herman dengan senyum mengembang.
"Ciee ... Paman bucin nih ye," ledek Terra.
"Ck ... kek kamu nggak aja," sahut Herman salah tingkah.
Terra manyun. Ia memang bucin dengan suaminya. Tiba-tiba ia meraba perutnya yang masih rata. Belum ada tanda-tanda ia akan mengandung benih sang suami.
"Nggak apa-apa, nabung dulu banyak-banyak. Kita puasin pacaran. Lagian Rion masih manja banget," jelas Haidar saat mereka memulai sesi panas mereka.
"Sudah jangan pikir apa-apa. Jika sudah waktunya, kamu akan kerepotan sendiri kok," ujar Herman seakan tahu kegelisahan kemenakannya.
"Oh ya, nanti bantuin Paman ya. Buat persiapan pernikahan. Khasya itu yatim piatu. Dia sekarang bertanggung jawab dengan tiga puluh anak yatim-piatu. Pengelolanya dulu melarikan diri dengan membawa uang dari donatur," jelas Herman lagi.
Terra langsung mengangguk. ia sangat antusias sekali. Lagi pula, ia juga sudah lama ingin memiliki panti asuhan. Sepertinya niat baiknya itu akan segera terlaksana.
"Baik, Paman. Sebisa mungkin Te akan bantu, aunty Khasyana," jawab Terra.
Haidar mengijinkan istrinya untuk membantu, pernikahan pamannya. Terra ingin sekali bertemu dengan calon bibi nya ini.
Hari sabtu, Herman mengajak Terra dan anak-anak untuk datang melamar Khasyana. Haidar ikut serta. Sedang keluarga Herman yang ada di Australia akan datang ketika hari pernikahan Herman.
Terra menggenggam tangan pamannya yang dingin. Berkali-kali ia mengelus bahu sang paman, untuk menenangkan kegugupannya.
Mereka sampai di sebuah bangunan cukup besar. Pemandangan asri dengan tanaman hias berjejer. Anak-anak yatim-piatu tampak berbaris berjejer hingga ujung di mana Khasyana berdiri menunggu.
Terra terpesona dengan kecantikan gadis yang akan dipinang pamannya.
"Cantik sekali," pujinya spontan.
Herman mengangguk menyetujui, jika hari ini Khasyana sangat cantik dengan balutan kebaya modern warna dusty pink.
Anak-anak menyambut mereka. Terra dan Haidar mengucap salam yang langsung dibalas salam oleh anak-anak.
Darren menggandeng Lidya dan Rion. Mata mereka berbinar melihat teman-teman sebaya kakak mereka. Walau ada yang lebih tua. Mereka langsung mengerumuni Rion. Budiman mencegah tangan-tangan yang hendak mencubit pipi gembul bayi itu.
"Aduh, adik kecil. Kau lucu sekali, ganteng lagi," puji salah seorang gadis kecil seusia Darren. Rion langsung malu-malu dipuji seperti itu. Ia pun meneriaki memanggil ibunya.
"Mama!"
Terra menoleh. Ia pun mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak. Mengajak berkenalan.
"Hai, coba Baby, tanya nama kakak cantik siapa?"
"Ata' pantit manana spasa?" tanya Rion malu-malu.
"Nama Kakak Anwiyah. Panggilannya Wiwi," jawab gadis kecil itu sambil pura-pura mencubit gemas pipi gembul Rion yang memerah.
"Ata' Wiwiw!" Rion malah menirukan bunyi sirine.
Bukannya marah, Wiwi malah tertawa.
"Ibu, boleh nggak adiknya Wiwi cium?" ujarnya meminta ijin.
Terra menggoda Rion.
"Baby, Kakaknya boleh cium nggak tuh?"
Rion salah tingkah. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya. Bayi itu malu.
"Ih, gemeus," ucap Wiwi sambil menggeretakan rahangnya karena gemas.
"Halo Tata Wiwi, nama Iya, Bidiya," Lidya belum bisa mengeja namanya.
Herman telah masuk ke dalam bersama Haidar. Sedang Terra masih memperkenalkan anak-anaknya. Usai berkenalan. Mereka pun masuk.
Terra duduk di sebelah pamannya sambil memangku Rion. Sedang Lidya dipangku oleh ayahnya. Darren duduk bersama Budiman..
Haidar memulai kata-kata mewakili pamannya.
"Jadi kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Khasyana untuk diperistri oleh paman kami Herman Triatmodjo," jelas Haidar langsung.
Khasyana yang duduk hanya didampingi anak-anak asuhnya, tersenyum dengan wajah merona..
"Sebenarnya, saya sedikit malu. Saya hanyalah gadis tanpa tahu siapa kedua orang tua saya. Mereka meninggalkan saya begitu saja. Lalu saya di titipkan oleh orang yang menemukan saya di panti ini. Saya diasuh oleh pemilik panti sampai meninggal dunia. Lalu beralih ke anaknya. Panti ini sedikit bermasalah karena ada di lahan sengketa. Jujur saya mengatakan langsung kesusahan saya. Agar Tuan Triatmodjo dan sekeluarga tidak kaget dan bisa langsung menilai saya," jelasnya panjang lebar.
Terra sedikit shock mendengar penjelasan dari calon istri pamannya itu. Ia pun melirik pria yang duduk di sebelahnya.
Herman membisikkan sesuatu pada Haidar. Suami Terra itu nampak mengangguk. Terra ingin mencuri dengar, tapi benar-benar ia tak bisa mendengar bisikan pamannya. Ia sedikit mengerucutkan bibirnya.
Herman hanya menggosok buku tangan kemenakannya. Terra akhirnya menyandarkan tubuhnya ke lengan kekar pria itu, manja.
Khasyana dapat melihat betapa akrabnya keluarga calon suaminya itu. Ia jadi terharu. Membayangkan jika ia benar-benar berjodoh dengan keluarga yang penuh kehangatan itu.
"Paman saya, bilang. Beliau tak mempermasalahkan status sosial dan masalah panti. Beliau hanya ingin jawaban dari, saudari Khasyana, soal yang lainnya bisa dipikirkan kemudian," jelas Haidar lagi.
Dengan semburat merah di wajah, gadis itu mengangguk.
"Bismillah, saya terima lamaran dari Mas Herman," jawabnya.
"Alhamdulillah," semua mengucap hamdalah.
"Bu, jadi sebentar lagi kita akan punya Ayah?" tanya salah seorang anak laki-laki.
"Benar, Nak. Sebentar lagi kalian akan memiliki Ayah," jawab Khasyana.
"Alhamdulillah ya Allah ... huuuu ... uuu ... akhirnya kami punya Ayah," ujarnya sambil menangis kemudian ia sujud syukur.
Herman terharu. Ia menikah dan akan langsung memiliki tiga puluh anak. Pria itu memiliki niat akan mengadopsi seluruh anak-anak panti ini sebagai mahar pernikahannya dengan Khasyana.
Mereka pun makan siang bersama. Masakan sederhana telah terhidang. Sayur asem, ikan asin, tahu tempe goreng juga kerupuk. Mereka makan dengan lahap.
Bahkan Rion minta tambah. Bayi itu kini disuapi oleh Wiwi. Gadis kecil yang sangat baik hati dan lembut. Lidya juga disuapi olehnya. Ia tampak seperti kakak dan ibu secara bersamaan.
Terra begitu terharu. Darren juga sudah berkumpul dengan saudara barunya yang lain. Pria kecil itu bercakap-cakap.
"Anwiyah adalah mutiara tempat ini, Te," ucap Khasyana.
Terra menoleh gadis yang sebentar lagi akan menjadi bibinya. Haidar, Herman dan Budiman nampak tengah mengobrol dengan anak-anak yang lain di ruang tamu. Sedangkan. yang lainnya tampak membersihkan meja dan piring kotor. Tadinya Terra ingin membantu. Tapi langsung dilarang oleh Khasyana.
"Sudah tugasnya anak-anak." katanya tadi.
"Wiwi kenapa, Aunty?' tanya Terra penasaran.
"Anak itu datang dengan bersimbah darah, ia ditemukan di pinggir jalan. Ayah ibunya meninggal di tempat karena kecelakaan," jelasnya.
Terra menitikkan air mata. Merasakan kepedihan gadis kecil itu. Ia juga membayangkan bagaimana ketiga anaknya melihat secara langsung kecelakaan di depan mata mereka.
Khasyana menceritakan butuh bertahun-tahun untuk memulihkan kondisi Anwiyah. Terra bersyukur, ketiga anaknya pulih lebih cepat.
"Sekarang dia lah yang menjadi semangat kami untuk meraih kebahagiaan di sisa hidupnya," jelas Khasyana.
"Maksud Aunty?'
"Anwiyah menderita kanker hati stadium akhir."
bersambung.
ah ... Wiwi ...
next?