TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DRAMA RION



"Mama bitak pa'a-pa'a?" tanya Rion dengan nada khawatir.


"Baby ...," Terra begitu terharu ketika ia dilindungi balita montok itu.


"Wayo ... bawan Ion!" tantang Rion pada Darren.


Ditariknya Terra di belakang tubuh bayi montok itu. Dengan wajah garang, ia menatap kakaknya yang tadi berhasil memasukkan pukulan pada ibunya.


"Atak Allen bahat! Mama ti putul-putul!" sentaknya tak suka.


"Itu tidak sengaja Baby. Kan kita latihan, kalau bertanding ya, harus mau kena pukul," jelas Darren pada Rion.


Rion terdiam. Ia pun menoleh pada ibunya. Terra tersenyum lebar.


"Oh betibu," ucapnya mengerti.


"Oteh ... Ion mo wawan Om Pudi!' tantangnya.


Budiman terkejut mendengar namanya disebut Rion. Terra menahan tawa, begitu juga yang lainnya. Sedang Raka dan Darren bertepuk tangan.


"Ayo Baby!" teriak Raka memberi semangat.


Budiman berdiri. Belum lah pria itu bersiap. Rion sudah menerjangnya.


"Biyaaatt!"


Bug!


Sebuah tendangan keras mendarat di kaki kekar Budiman. Jelas saja yang kesakitan Rion. Tenaga bocah tentu beda dengan orang dewasa kan?


Terra menatap Budi horor. Pria itu pun pura-pura terjatuh dan mengaduh. Padahal Rion sudah mulai mau menangis karena kakinya sakit.


"Auw!" Budiman bergulingan.


Raka yang melihat itu langsung melompat menerjang bodyguard tampan tersebut.


"Smetdon!" teriak Raka.


Brug!


Tubun Raka menimpa Budiman yang tergeletak. Rion yang melihat Budiman tak berdaya pun ikut melompat dan berteriak.


"Psetpon!"


Brug!


"Aduh!"


Kini Budiman benar-benar keberatan dengan dua tubuh yang menimpanya. Darren juga ikut menimpa tubuh besar bodyguard itu. Anak-anak tertawa tengah menyiksa Budiman dengan berat badan mereka.


"Ampun Tuan. Tolong," ucap Budiman memohon, tentu saja. pura-pura.


Siapa sangka, Lidya sudah terbangun. Gadis kecil itu melihat ada orang kesakitan langsung berhambur mendatangi Budiman.


"Tulun dali om Budi!" teriak Lidya.


Darren pun turun dari tubuh bodyguard itu, disusul Raka. Tinggal Rion saja yang belum. Bayi montok itu masih dendam dengan kakinya yang sakit akibat menendang kaki pria dewasa itu.


"Baby, tulun dali badanna Om Budi. Tasyihan itu tan satit," pinta Lidya memohon.


"Embak bica. Pati Ion buda atit!' seru Rion tak terima.


Mendengar Rion sakit membuat Budiman langsung duduk dan memangku Rion.


"Mana yang sakit Tuan Baby?" tanyanya khawatir.


Rion mencebikkan bibirnya dan menunjukkan telapak kakinya yang sakit akibat menendang terlalu keras.


"Bini ...," manjanya.


Lidya langsung menghampiri. Terra dan lainnya hanya menyaksikan drama yang diciptakan Rion.


Budiman meniup kaki bayi menggemaskan itu. Memang sedikit memerah. Sebenarnya kaki Budiman yang ditendang Rion pun masih berasa perih.


"Apa masih sakit, Tuan Baby?' tanya Budiman lagi.


"Embak adi," jawabnya sambil menggeleng.


"Om Budi yan nendang Baby?" tanya Lidya serius.


"Baby, kamu nendang Om Budi terlalu keras, sayang," sela Terra.


Tiba-tiba Rion menangis. Terra membelalakkan mata. Lidya ikut menangis begitu juga Raka.


"Mama bahat ... huuwwaaaa!" teriak Rion sambil menangis.


Terra bingung.


"Potona Om Pudi mendang Ion ... huwwwaa!' pekiknya lagi.


Terra hanya bisa menghela napas panjang. Budiman sibuk minta maaf, sedang Bram dan Haidar hanya tertawa melihat kelakuan bayi lucu itu.


Terra harus meluruskan pikiran bayinya. Ia menghampiri Rion yang menangis. Rion ngambek, ia buang muka ketika disampiri Terra.


"Baby," panggil Terra.


Rion memeluk pria yang tadi difitnahnya, erat. Budiman nyaris terkikik karena ulah Rion.


"Baby nggak mau sama Mama?" tanya Terra.


Rion yang mendengar tidak mau sama Mama, langsung melepas pelukannya dari Budi dan meraih tubuh Terra. Merasa bersalah, bayi montok itu membenamkan kepalanya di ceruk leher ibunya.


"Baby nggak boleh ngomong gitu ya!' peringat Terra dengan lembut, "kan yang salah Baby, bukan Om Budi."


"Nona."


Budiman hendak menimpali. Tapi, tatapan Terra dan gelengan kepala gadis itu membuat bodyguard tampan itu akhirnya diam.


"Baby tau salahnya apa?" tanya Terra dengan nada lembut.


Bayi montok yang cerdas juga tampan itu mengangguk dalam dekapan ibunya.


"Sekarang, minta maaf sama Om Budi," titah Terra.


Rion pun melepas pelukannya. Sejenak ia menatap ibunya, seperti meminta kekuatan.


"Seorang laki-laki harus berani meminta maaf jika ia salah. Nah, Rion kan salah. Jadi Rion harus minta maaf," ujar Terra panjang lebar.


Bocah satu tahun lebih empat dua bulan itu menundukkan kepalanya. Ia menghadap Budiman dan menatap mata pria itu.


"Om Pudi mamapin Ion, ya," ucapnya lirih.


Budiman mengangguk.


"Iya, Tuan Baby. Om maafin," ucap Budiman.


"Mapasi," saut Rion.


"Makasih, Baby," ralat Budiman, lupa embel-embel tuan.


"Po embak pate Puan?" tanya Rion menyelidik.


"Tidak apa-apa Baby!' sela Terra.


"Oteh," saut Rion akhirnya.


"Hei sudah-sudah! Ayo sekarang, ini minuman dan camilan kalian!"


Anak-anak berhamburan mendengar kata camilan. Paling kencang adalah Raka dan Lidya. Darren hanya berjalan sambil menuntun Rion menuju oma Kanya dan tante Karina.


Sedang Terra kini kembali berlatih. Haidar yang kini menantangnya.


"Awas kau jika menyentuh menantuku, Haidar!" ancam Kanya.


Terra hanya tersenyum senang. Ternyata ancaman juga tidak berasal mulut ibunya. Tapi, bayi yang barusan menciptakan drama.


"Papa Bidal! Wawas ya!'


Haidar pun hanya bisa menggaruk keningnya. Terra pun tertawa terbahak-bahak.


bersambung.


Hadeh ... Rion ...


babang Budiman, kau tak apa kan ditindih ama tiga anak itu?


bang coba othor yang nindih ... eh 🤭