
Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Kini, persiapan pernikahan Seruni tinggal satu bulan lagi. Undangan sudah di sebar. Seruni menginginkan pesta pernikahan sederhana.
Sayang, pihak keluarga David yang notabene adalah pebisnis semua tidak setuju jika pernikahan di gelar di rumah gadis itu.
"Maaf, Dik. Dengan anak-anak saja, rumah ini sudah sesak. Belum lagi orang dewasanya," jelas Dav.
"Tapi ...."
"Nak," tegur Gustaf.
"Selama pendekatan, David selalu mengikuti aturanmu. Benar, katanya juga. Rumah ini tak akan cukup menampung semuanya," jelas pria sepuh itu.
Dav pun berdiri dengan wajah lelah. Pria itu sudah cukup pengertian dengan gadisnya. Seruni termasuk keras kepala. Gadis itu memiliki pernikahan impiannya sendiri.
Virgou yang melihat adiknya berdiri hendak meninggalkan rapat keluarga. Langsung ditarik olehnya.
"Duduk, kita bisa selesaikan ini baik-baik!" titah pria beriris biru itu.
Terra dan Haidar yang ikut serta mengangguk. Keduanya setuju, semua bisa di selesaikan dengan cara baik-baik. Herman, Budiman juga Bart ada di sana.
"Bagaimana jika dua kali pesta. Satu pesta untuk mengikuti keinginan Seruni, kemudian lain hari pesta Dav," usul Haidar.
"Maaf, itu sepertinya pemborosan deh, Kak!" sela Seruni langsung menolak.
"Jadi bagaimana ini. Tamuku kau suruh berdiri di mana? Apa semua rumah orang kita bangun tenda??" tanya Dav gusar.
Seruni menunduk. Gadis itu benar-benar takut. Dav sampai mendengkus kesal melihat betapa keras kepalanya gadis pilihannya itu.
"Seruni!" 'panggil.Dav dengan suara keras.
Virgo sampai marah pada adiknya itu.
"Jangan membentak perempuan!"
"Aarrghh!" Dav tak tahan. Ia pun keluar dari rapat keluarga.
Seruni hanya diam. Ia juga bingung kenapa ia begitu keras kepala menginginkan semuanya menuruti keinginannya.
"Jika seperti ini. Saya angkat tangan. Saya juga kurang setuju jika hanya pesta kecil saja. Kami adalah pebisnis. Tidak mungkin kami tidak mengundang kolega-kolega kami!" jelas Virgou sangat tegas.
Bayangan kegagalan dan rasa malu masa lalu masih membuat Seruni takut. Gadis itu masih trauma akibat gagalnya pernikahan karena calon prianya lari meninggalkan dirinya ketika hendak akad.
Gadis itu masih harus membayar utang pernikahan yang gagal itu. Seruni masih takut jika pesta besar nanti akan menjadi malapetaka baginya. Selain rasa malu, ia juga harus kembali membayar. Hadijah melihat kegelisahan murid ngajinya itu.
"Nak, ungkapkan saja rasa kekhawatiran mu. Jangan kau pendam sendiri," ujar Hadijah menenangkan pergolakan hati Seruni.
Dengan napas berat. Akhirnya gadis itu mengutarakan alasan keberatannya. Rasa takut dan malu ketika gagal nikah kemarin menjadi momok mimpi buruknya sampai sekarang. Dav yang mendengar kisah gadis itu langsung masuk. Di sana ia melihat Terra memeluk Seruni yang menangis dan menenangkannya.
"Saya bukan maksud untuk menolak kemegahan ini. Saya hanya takut, jika itu kembali menimpa pada saya. Berapa utang yang harus saya cicil?" tanyanya sambil terisak.
Puspita dan Khasya sampai ikut terharu. Sedangkan para pria mengepal tangannya erat-erat menahan amarah. Herman menatap sepasang suami istri sepuh di depannya. Keduanya juga sedih.
"Ya'i dan Nyai tidak bisa membela Seruni waktu itu. Kebodohan kami, membuat mereka di atas angin. Kami pun pasrah dan membiarkan Seruni menanggungnya sendiri," jelas Gustaf dengan mata menerawang.
"Ya sudah. Kita sudah tahu apa yang menjadi kegelisahan Seruni. Kita ambil jalan tengah saja. Seperti usul Haidar tadi. Kita buat dua kali pesta. Hanya saja yang pertama kita adakan akad dan selamatan saja. Jika sudah Sah. Tak mungkin David meninggalkanmu di pesta perkawinan bukan?" ujar Herman kini menengahi kekisruhan.
"Bagaimana, Dik. Kau setuju'?" tanya David.
Seruni mengangguk. Ia setuju. Akhirnya semua bernapas lega. Dav juga bisa tersenyum penuh kelegaan.
Hari terus berganti. Undangan pun telah disebar. Para tetangga yang mendapat undangan hanya mencibir.
"Oh, cuma akad sama selamatan aja toh!"
"Dih ... gayanya doang mobil mewah. Nggak taunya kaum nggak mampu juga!"
"Palingan habis akad trus makan-makan kek kemarin yang gagal itu!"
Sebuah tenda juga sudah didirikan. Dengan warna perak dan biru. Seruni penyuka warna biru, sudah terpasang kokoh di depan rumah. Para tetangga berdatangan ingin membantu. Tetapi, ditolak dengan halus oleh nyai Hadijah.
"Sudah pake ketring, jadi nggak masak-masak seperti kemarin," jelasnya.
Mereka pun.pulang kembali. Masih dengan mencibir. Ada saja tudingan tak menyenangkan mereka lontarkan.
"Wa'alaikumussalam," Seruni tampak terkejut ketika melihat siapa yang datang.
"Eh, Pak Rudi dan Bu Sisma, Mari masuk!" ajak nyai Hadijah ramah.
"Wah .. wah ... wah ... sudah mau nikah lagi aja nih!" sahut keduanya masuk tanpa malu duduk di sofa tamu.
"Alhamdulillah, kalo sudah jodoh mah," sahut Hadijah ramah.
Seruni menaruh dua cangkir teh tawar. Gadis itu masih ingat minuman kesukaan mantan calon mertuanya itu.
"Oh, apa nggak takut kek kemarin ditinggal sama calon?" tanyanya.
Seruni kadang heran. Padahal yang meninggalkannya saat pernikahan adalah putra mereka.
"Oh ya, bagaimana Faisal, udah punya anak sama istrinya?" tanya Hadijah mengabaikan perkataan Sisma.
"Ah ... Alhamdulillah, Nyai. Sekarang saya mau punya cucu dua," jawab Rudi semringah sambil menyeruput teh hangat.
"Wah ... alhamdulilah," saut Hadijah.
"Assalamualaikum!" tiba-tiba Virgou datang membawa beberapa barang untuk keperluan akad tiga hari lagi.
Sisma yang melihat pria bule dengan ketampanan dan pesona luar biasa jadi terbengong. Faisal sangat jauh dibandingkan dengan pria yang datang.
Aura dingin dan datar diperlihatkan Virgou. Tidak ada senyum di bibir pria itu. Setelah menyerahkan barang ia pun berlalu begitu saja.
"Itu tadi, calonnya?" tanya Sasmi dengan mata terbelalak.
"Bukan, tadi itu calon kakak iparnya Seruni," jawab Hadijah.
"Nggak sopan amat. Mentang-mentang bule!" seru Rudi tak menyukai sikap Virgou barusan.
"Masa kamu mau nikah sama pria yang tabiatnya kek gitu?!" serunya lagi memprovokasi.
"Kami ini hanya mengingatkanmu. Walau kita tak jadi ibu dan anak. Sudah kewajiban saya mengingatkanmu," ujar Sasmi menasehati.
"Terima kasih Bu atas nasihatnya," ujar Seruni kini menyahuti perkataan mantan mertuanya.
"Iya, mumpung belum resmi sebaiknya kamu batalkan saja pernikahan mu. Dari pada kamu nyesel!" kini Rudi yang memberi saran.
Seruni menganga, sedang Hadijah langsung beristighfar.
"Mending Ibu sama Bapak urusin anak ibu aja tuh Mega. Kan dia juga mau nikah sebentar lagi. Nggak usah ngurusin saya!" ucap Seruni berani.
"Loh kok kamu gitu. Anak saya mah beda sama kamu Seruni!" sahut Sasmi tak terima. "Dia mah bisa cari jodoh yang baik. Nggak kaya kamu. Apaan tadi itu. Nggak sopan. Ini ada orang lain loh!"
"Oh, lebih nggak sopan mana dari seorang laki-laki yang lari dari pernikahan dan membuat malu seorang gadis?" tanya Seruni kini makin berani.
"Nak!" tegur Hadijah.
"Lalu tanpa minta maaf dan tanpa belas kasih. Anda malah meminta ganti rugi atas batalnya pernikahan yang putra anda buat sendiri!" Seruni sudah tak tahan dengan semuanya.
"Nak!" tegur Hadijah kembali.
Seruni menghela napas panjangnya.
"Saya minta maaf atas ketidak sopanan calon kakak ipar saya tadi!"
"Sekarang hari sudah menjelang sore. Silahkan anda pulang dan mengurusi anak perempuan anda," usirnya.
"Menyesal saya pernah mengenal kamu!" sentak Rudi lalu berdiri. Pria itu tersinggung. "Ayo, Bu kita pulang. Beruntung putra kita tak jadikan ia istrinya!"
bersambung.
Eh ... nggak salah Pak?
mohon maaf atas update yang hanya dua dari kemarin. Othor lagi agak sakit. Jadi besok yaa Othor Update 3 episode.
next?