TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PESONA GABRIEL




Gabriel Philip Dougher Young, dua puluh sembilan tahun. Pria itu kini menjabat sebagai CEO PT Hudoyo Group.


Pria lajang ini tengah berhadapan dengan Sriani yang tak mampu mengangkat kepalanya saat pemuda itu menatapnya. Widya sudah berpakaian yang terbaik miliknya. Dress warna hijau selutut berlengan sesiku. Rambut coklatnya ia biarkan tergerai begitu saja.


Gabe terpana menatap gadis yang kini telah menjadi pikirannya. Rona merah menyeruak di pipi Widya, wajahnya tertunduk. Begitu cantik bahkan Sriani ikut terpesona akan kecantikan putrinya.


"Kami berangkat, Bu," pamit Gabe langsung menggandengnya.


Sriani menahan napasnya. Ia membeliakkan mata ketika tangan putrinya disentuh pertama kalinya oleh seorang pria. wanita itu ingin sekali menghardik pria tampan yang menatap putrinya penuh cinta.


"Ada apa Bu?" tanya Gabe dengan menaikan alisnya.


Bibir Sriani bergetar tak mampu berkata-kata.


"Hati-hati di jalan," jawabnya lirih kemudian.


"Saya akan membawa putri anda pulang sebelum jam sepuluh malam. Kami pamit ya Bu," ucap Gabe dengan nada tenang namun penuh penekanan.


Sriani mengangguk. Mengantar dua sejoli itu ke mobil BMW hitam milik Gabe. Wanita itu melambaikan tangannya ketika kendaraan mewah itu beranjak dari depan pintu pagar.


Masuk ke dalam rumahnya, wanita itu langsung duduk lemas. Ia baru bisa bernapas lega. Sedari tadi ia menghela napasnya sangat pelan. Aura arogansi Gabe begitu mencekik lehernya.


"Astaga, aku menyerahkan putriku pada seorang monster berhati lembut dan penuh cinta hanya untuk Widya saja," gumamnya sambil mengambil napas banyak-banyak.


Gabe mengajak Widya ke sebuah mall. Ia mengajaknya nonton film tema romansa. Betapa sepanjang gadis itu menonton film tersebut membuatnya ia sesak napas. Terlebih adegan ciuman panas. Gabe menggenggam tangan Widya erat.


Gadis itu memalingkan wajahnya. Debaran jantungnya makin menggila saat adegan bertambah panas yakni penyatuan di ranjang. Mata dan telinga suci gadis itu telah terkontaminasi oleh adegan dan suara ******* yang terdengar sepanjang adegan.


Widya baru bernapas lega ketika film sudah habis diputar. Lampu menyala terang. Ia buru-buru berdiri, tetapi, Gabe menahan tangannya.


"Sayang," panggil Gabe.


Widya menoleh. Gabe mengedipkan matanya sebelah.


Blush!


Lagi-lagi rona merah menyeruak dari pipi hingga leher dan telinga gadis itu. Pria itu malah terkekeh melihat kekasih merona seperti itu. Ia pun bangkit dari duduknya.


"Jangan buru-buru, sayang. Kita masuk bersama, jadi kita harus keluar bersama," ujar Gabe tenang.


"A- apa, maksudnya," cicit gadis itu masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


Gabe menggenggam tangan gadis itu dan memasukkannya di saku celananya. Tubuh Widya langsung menempel pada tubuh menjulang milik pria itu.


Gabe mengajak gadis itu ke restoran yang telah ia reservasi. Candle light dinner di sebuah rooftop yang telah dihias sedemikian rupa.



Widya terpana dengan suasana romantis. Gabe menggandeng tangan gadisnya ke meja dan menarik kursi untuknya.


"Terima kasih," ujar Widya sambil tersenyum manis..


Gadis itu masih menatap tak percaya dengan suasana ini.


"Apa ini mimpi?" gumamnya terdengar di telinga Gabe.


"Tidak, sayang. Ini bukan mimpi," jawab Gabe lalu tersenyum tulus untuk kekasihnya.


Makan malam telah terhidang. Sebuah steak yang tidak sempat mereka makan waktu itu. Kini, menu steak menjadi makanan favorit Widya. Ia pun sudah mempelajari cara membuatnya.


Mereka makan dengan tenang. Tanpa musik atau apapun. Hanya ditemani semilir angin malam yang membelai rambut Widya. Seperti biasa Gabe membersihkan saus yang tertinggal di sudut bibir gadis itu.


"Sudah pukul 21.00.. Kita pulang?" ajak Gabe.


Widya mengangguk. Mereka kembali bergandengan tangan. Kini, pria itu merangkul kekasihnya erat. Satu kecupan ringan di labuhkan di pucuk kepala Widya. Gadis itu hanya memejamkan matanya. Ia selalu tersenyum sepanjang perjalanan.


hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka sampai di rumah. Gabe mengantarkannya hingga depan pintu rumah. Sriani senang, pria itu menepati janjinya. Membawa pulang Widya sebelum pukul sepuluh malam.


"Selamat malam, Ibu. Terima kasih telah mengijinkan putrinya saya bawa untuk makan malam," ujarnya.


Kedua wanita itu melambaikan tangan. Widya langsung masuk kamarnya. Sriani menatap pijar bahagia di wajah anak gadisnya. Air matanya tiba-tiba menitik.


"Sudah seharusnya kah, aku melepaskannya, Pak?" gumamnya sendu.


Ia masuk dan mengunci pintu. Menatap lamat foto keluarga. Menatap wajah pria yang telah berpulang di saat Widya berusia sepuluh tahun.


"Anak gadis kita sudah dewasa, Yah." ujarnya dengan tatapan menerawang.


Sriani dapat melihat jelas jika foto mendiang suaminya tersenyum tulus. Wanita itu mengusap sedikit matanya yang berembun.


"Aku berhasil menjaganya. Pria itu adalah pria yang begitu berani, begitu kuat dan begitu mendominasi. Apa kau yakin, Pak?" tanyanya kepada foto yang menampakkan wajah suaminya.


Jantung wanita itu berdebar begitu cepat. Berbeda dengan para pria terdahulu yang datang ke rumahnya. Mereka hanya mengaku sebagai teman putrinya. Bahkan terkesan main-main saja.


"Gabe berbeda, ia hanya menunjukannya dengan sikap. Begitu tegas jika ia tak main-main dengan tujuannya. Kita relakan putri kita Pak?"


Sriani mengangguk sendiri. Ia pun sudah yakin dengan apa yang akan ia lakukan pada Putrinya. Sebuah senyum terulas lagi di bibir wanita itu.


Gabe baru saja sampai rumah Terra. Pria itu sudah tak tahan untuk curhat pada adiknya itu. Terra sudah menunggunya bersama Haidar.


Begitu ia masuk, pria itu berhadapan dengan ketua gengster bocah, Rion.



"Habis dari mana pake baju bagus?" tanya Gabe bingung.


"Baru dari main di mall sama adik-adik," jawab Rion cuek.


Pria kecil itu pun masuk kamar di mana empat adiknya berada. Gabe hanya menggeleng saja. Lalu menatap wanita yang kini sudah menunjukkan perutnya.


"Te ...," panggilannya dengan wajah bahagia.


"Kemari, ceritakan. Bagaimana kencanmu, hari ini?" tanya Terra langsung pada intinya.


"Aku bahagia, Te. Widya adalah gadis yang kucari selama ini," jawab pria itu senang.


"Katakan, apa kau sudah menciumnya?" tanya Haidar.


"Hais ... apa selalu harus begitu?" tanya Gabe tak begitu menyukai sentuhan fisik ketika awal berkencan.


"Loh, kenapa, toh dia pacarmu!" seru Haidar tak percaya jika Gabe tidak pernah berciuman.


"Dia wanita pertama. Aku akan menyentuhnya ketika aku sudah mengikatnya secara sah," sahut Gabe kesal.


Haidar hanya melongo. Ia baru kali ini mendapat pria dengan sejuta pesona belum pernah pacaran.


"Apa sekaku itu dirimu?" ledek Haidar.


"Aku bukan play boy macam ...."


Gabe tak melanjutkan perkataannya. Haidar langsung tersindir. Memang, Terra bukan cinta pertamanya. Bahkan pria itu sudah berciuman, juga bukan dengan istrinya.


"Grandpa antusias dengan pilihanmu, Kak," tukas Terra menggubris suaminya.


Haidar mengerucut. Tetapi, selanjutnya pria itu memeluk mesra sang istri dan menaruh dagunya di bahu Terra.


"Ya, doakanlah dalam waktu dekat. Aku bisa menggiringnya ke altar," sahut Gabe begitu antusias.


"Ya, rencanakan itu secepatnya. Sebelum Grandpa datang ke sini dan langsung menyambangi rumah kekasihmu!" celetuk Haidar. "Kau tau kan jika ia juga sangat ingin kau segera menikah!"


Gabe mengangguk. Ia sudah menulisnya. Pernikahan adalah prioritas utamanya saat ini.


"Widya ... aku mencintaimu," gumamnya.


bersambung.


aish ... ganteng banget sih babang Gabe 😍😍😍😍


Next?