
Pagi ini, seperti biasa. Terra memboyong ketiga anaknya juga dua asisten rumah tangga ke kantor.
Berangkat bersama Budiman tentunya sebagai sopir dadakan. Namun, pria itu tak keberatan sama sekali. Tentu, karena Terra membayar gajinya sebagai sopir. Sedang bayarannya sebagai bodyguard sudah dilunasi untuk lima tahun masa tugasnya.
Hari ini hanya memeriksa beberapa berkas dan surat kontrak kerja juga surat tender. Rommy yang kini berada di Negara matahari, tengah mengawasi pembangunan perusahaan milik Terra yang bekerjasama dengan Jepang di dua kota yakni Osaka dan Tokyo.
Dua perusahaan raksasa yang ingin menjalin dan membangun perusahan bidang cyber. Negara paling canggih dengan fasilitas teknologinya.
"Nanti libur panjang, Mama akan bawa kalian jalan-jalan ke Jepang," janji Terra.
"Jepang itu negara kan, Ma?" tanya Darren antusias.
Terra mengangguk. Ia sudah meminta pengacaranya untuk mengurus paspor juga visa anak-anaknya untuk keperluan mereka nanti.
"Nanti kita naik pesawat, ya?" tanya Darren lagi.
Terra kembali mengangguk.
"Sepawat?" Rion bertanya.
"Pesawat, sayang," ralat Darren.
"Pewawat," saut Rion.
"Pe," ucap Darren kini ingin Rion mengikutinya.
"Te," saut Rion.
"Te," ujar Darren.
"Pe," saut Rion.
"Tewawat," kali ini Darren salah mengucapkannya, sengaja.
"Hahaha ... Atak Allen wawah. Sepawat ... eh ... pesyahwat," ucap Rion membenarkan ucapan Darren.
Terra sedikit merinding mendengar ucapan Rion.
"Pesawat, sayang," ralat Terra.
"Biya ... bewawat," saut Rion yakin.
Baik Terra dan Darren memilih mengalah. Mereka membenarkan apa yang Rion katakan. Karena jika meralat kata-kata bayi montok itu, pasti akan salah terus.
"Dadhi tita manti, nait pesyahwat, Ma?" tanya Lidya dengan mata berbinar-binar.
"Nggak pake h sayang. Jadi pesawat," ralat Terra.
"Iya, matsutna itu," ucap Lidya.
"Iya sayang. Kita nanti akan terbang seperti burung," ujar Darren dengan gembira.
"Ih ... mba mau belebang paya ubun!' saut Rion menolak.
"Loh kenapa?" tanya Terra.
"Iya dudha eundak mau telebang taya bulun," ujar Lidya mengamini ucapan adiknya.
"Kan seru. Kita bisa liat awan, trus liat ke bawah," ujar Darren penuh semangat.
"Eundak mau. Tatut!" pekik Lidya.
"Piya, bnti batuh lepawah!' saut Rion sambil mengangguk.
"Nggak bakal jatuh Baby, kan nanti ada yang nerbangin. Namanya, pilot," ucap Darren menenangkan mereka.
"Eman nti eunda batalan doyan-doyan, sepelti bulun telebang tan badanna doyan-doyan?" tanya Lidya.
"Nggak, sayang. Pesawat, tidak akan goyang kecuali nabrak awan," jawab Darren lagi.
Terra bangga, sepertinya putranya banyak tahu tentang naik pesawat.
"Tenapa pil ... pil apa tadi?" tanya Lidya lupa.
"Pilot," saut Terra.
"Iya itu. Pilotnya eunda belot bial eunda nabelak wawan?"
Lidya mengangguk mengerti. Rion ikut mengangguk mengikuti kakak perempuannya.
Siang ini, Terra mengajak anak-anak makan siang di sebuah food court, bersama dengan Romlah juga Ani dan Budiman.
Rion dan Lidya antusias ketika menemukan panggung kecil. Di sana ramai anak-anak ingin menunjukkan bakat bernyanyinya. Lidya ingin mengikuti acara itu, Rion juga tak mau ketinggalan.
Terra akhirnya mendaftarkan dua anak balitanya ikut lomba. Mereka mendapat urut nomor sepuluh.
Karena masih lama. Terra membawa mereka untuk makan terlebih dahulu. Benar saja, selesai makan, nomor urutannya sudah di angka delapan.
Ternyata banyak peserta gugur karena menangis ketakutan ketika berada di atas panggung.
Kini giliran Lidya bernyanyi, gadis kecil itu berduet dengan adiknya, Rion.
Musik mulai. Terra menyiapkan kamera ponsel untuk merekam aksi kedua anaknya.
Budiman telah menyuruh tim untuk segera mengamankan lokasi karena pasti akan ramai.
"Ladu ini buat Mama," ucap Lidya dengan wajah imutnya.
"Apa yan tu belitan untut Mama, untut Mama telsyayan ...
Tat tu militi syesyuatu belhalda untut Mama telcinta ..." Lidya mengalunkan suara merdunya.
Terra menitikan air mata haru. Benar saja. Mendengar anak kecil bernyanyi dengan suara celat namun tidak mengubah not, membuat semua orang tertarik dan menonton.
Semua pengawal menjaga ketat panggung. Mereka tak segan-segan mendorong orang-orang yang berusaha maju ke dekat panggung.
"Banya imi pu manyi tan, badu pinta tu puntut Mama. Banya bebuah labu sebelana ... ladu pinta tu puntut Mama ...," Rion menyanyikan kelanjutan lagu itu.
Dan ... grrrrr! Tawa membahana seantero mall. Mereka tertawa mendengar celotehan salah dari mulut bayi montok itu.
"Ih ... lucu amat sih ... boleh cium nggak Bun?" pinta salah satu penonton gemas.
Terra tentu melotot tajam. Memberi kode pada Budiman untuk memperketat pengamanan pada dua balitanya yang sedang bernyanyi.
Budiman menyuruh tim makin mengetat penjagaan panggung.
Musik kembali berbunyi. Kali ini Rion yang bernyanyi.
"Lapa ban tu beli tan puntut Mama, puntut Mama belpayan. Tat tu limiti pesatu belada tuntut Mama pelcinta ...."
"Hanya ini ... tu manyi tan. Ladhu cinta tu untut Mama. Hanya syebuah ladhu sedelhana. Ladhu cinta tu untut Mama ...," Lidya bernyanyi sambil menatap Terra penuh dengan cinta.
"Banya mini, pu manyi tan ... ladhu cinta pu puntut Mama ... banya besuah ladhu beledana ... ladhu cinta pu puntut ... Mama ...," Rion dan Lidya bernyanyi bersama.
"Ladhu ... cinta tu untut ... Mama ...!" Lidya menyanyi lagu terakhirnya.
"Balobu Ma!" ucap Rion.
"I love you Mama!" ralat Lidya.
Terra menangis haru, sambil memegang ponsel. Riuh tepuk tangan meneriaki penyanyi di panggung. Meminta menyanyikan lagi.
Lidya dan Rion merentangkan tangannya. Terra menyerahkan ponselnya pada Budiman. Ia langsung merangsek masuk dan dibiarkan oleh tim pengawal.
Terra memeluk kedua anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Darren ikut memeluk. Gadis itu mencium pucuk kepala ketiga anaknya satu persatu.
"Lagi dong ... lagi!" teriak para penonton.
Ternyata mereka gemas dengan suara Lidya dan Rion. Terra meminta maaf tidak melanjutkan bocah itu bernyanyi.
Suasana makin ricuh. Budiman dan tim langsung mengamankan Terra dan tiga anaknya. Budiman menggendong Lidya, Terra menggendong Rion, dan Dahlan menggendong Darren.
Mereka melesat meninggalkan mall yang kini juga mulai dibubarkan para petugas sekuriti.
Mereka masuk mobil. Terra kapok membawa mereka ke mall. Tapi, melihat keceriaan dua anaknya tadi, membuat Terra senang.
bersambung.
duh ya ... ada-ada aja tingkah dua bersaudara itu.
next?