TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TERKUAKNYA KEBENARAN



"Tunggu sebentar. Mana Budi?" tanya Herman mencari sosok itu.


"Bud!' panggil Herman.


"Saya, Tuan?' sosok yang dipanggil datang.


"Kenapa kau mengasingkan diri?" tanya Herman dengan pandangan tak suka.


"Apa kau bukan bagian dari keluarga ini?'' Budiman hanya menunduk.


"Duduk!" titah Herman.


Pria tampan itu pun mengambil kursi lalu meletakkannya dekat Haidar dan duduk di sana. Ia kembali menjadi pendengar yang baik.


"Bram?" si empunya nama menoleh.


"Mas," sahutnya.


"Bisa jelaskan?'' ujar Herman menatap tajam pria besar yang kekuasaan bisnis pria itu melebihi dirinya. Bram hanya menghela napas.


"Aku dan kanya memang menyembunyikan fakta jika Zhain mengirim uang setiap bulannya untuk, Raka. Aku dan Kanya langsung tahu jika itu uang dari Zhain karena jumlahnya sama ketika dia masih suami putriku," jelas Bram.


"Aku dan Kanya langsung memutuskan hubungan putriku dengan Zhain. Kau tahu kan jika selama nyaris setengah tahun Karina depresi?" Herman mengangguk.


"Karina, nyaris membunuh Raka dan dirinya sendiri. Ia tak kuat menahan cobaan berat ini sendirian. Suami yang ia elu-elukan pergi menceraikannya. Aku dan Kanya akhirnya memberikannya kesibukan, sambil terus menenangkannya," jelasnya lagi.


"Sebentar. Karina, apa kau dan suamimu ini sudah bercerai secara sah?"


Karina diam. Zhain juga diam. Herman kesal dibuatnya.


"Karina?"


"Bercerai secara lisan," jawab Karina.


"Aku tak pernah mengatakan talak atau cerai padanya. Tapi, aku meninggalkannya begitu saja," jawab Zhain.


"Itu sama saja kau menceraikan Karina, Zhain!" tukas Haidar sedikit sebal.


"Tapi, aku kan masih ngasih nafkah lahir setiap bulannya. Sedangkan dianggap cerai jika aku selama tiga bulan tak menafkahi istriku," jawabnya lagi.


Herman garuk-garuk kepala. Terra yang tak mengerti langsung tanya google. Aksinya dihentikan oleh Herman.


"Kau pikir Google itu ustad apa?'


"Tapi kan banyak artikel Islam yang benar di sini, Paman," jawab Terra.


"Kalian sudah sebelas tahun tak bersama. Ikatan kalian bisa dibilang abu-abu. Alias tidak ada kejelasan," ujar Herman lagi.


"Kalian sama-sama egois. Bram di sini kau jauh lebih salah!' tuduh Herman.


"Kok aku sih, Mas?!" ucapnya tak terima.


"Ya, kau bukannya menenangkan putrimu dan menarik Zhain dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin," jelas Herman menohok hati Bram.


"Kau langsung mengambil sikap, memutuskan tali silaturahmi antara ayah dan anak juga suami dan istri!' lanjutnya.


Bram menunduk.


"Kau juga salah Zhain. Sebagai lelaki, kau mestinya bertanggung jawab atas putramu. Ingat Raka adalah buah cinta kalian!"


Zhain tertunduk. Ia tahu ia yang sangat bersalah atas semua ini.


"Kenapa kau malah menculik Raka. Bukannya kau mendatangi Karina dan berbicara baik-baik?"


"Itu ... karena ... karena ... hhhh ... aku salah Paman, aku memang hanya menginginkan Raka sembuh tanpa andil ibunya," jawab Zhain lemah.


"Kenapa?' tanya Herman.


"Karena sepertinya mereka tidak berniat untuk menyembuhkan putraku," jawab Zhain.


"Jangan sembarangan kamu. Aku sudah membawanya ke therapist tiap bulannya!' seru Karina tak terima.


"Satu bulan sekali therapy mana cukup?" tanya Zhain lagi.


"Lalu kenapa baru sekarang kau ingin Raka sembuh?" tanya Herman.


"Sudah tiga bulan sebenarnya Paman. Aku mencari informasi tentang Raka di seluruh rumah sakit. Apa benar putraku mendapat perawatan. Aku hanya tidak mau dituduh sebagai pahlawan kesiangan oleh mereka," jelas Zhain.


"Lalu?"


"Ternyata tidak ada satu rumah sakit pun yang mendata Raka sebagai pasien therapist mereka," lanjut Zhain.


"Tidak, masalahnya kenapa baru sekarang?'' tanya Herman lagi.


"Karena tiga bulan lalu aku baru mengetahui jika, bibit Autisme berasal dari keluarga ku dan aku yang membawanya," jawab Zhain lemah.


"Tuh kan ... benar kataku ... kau lah biang penyakitnya!"


"Karina!' sentak Herman.


"Kenapa? Hiks ... kenapa kalian juga menyalahkan aku ... hiks!"


"Siapa yang menyalahkan mu, Karina?" tanya Herman lagi.


"Kalian tidak mengerti bagaimana perasaan ku selama ini. Mendapatkan Raka menjadi putraku ... aku ...."


"Apa itu keinginan Raka juga? Apa kau bisa memahaminya selama ini?" tanya Herman menyerang Karina.


Wanita itu terdiam.


"Apa kalian mengerti Raka selama ini?' tanya Herman menaikkan satu oktaf suaranya.


Terra mengelus punggung pamannya. Menyabarkan pria tua itu.


"Sekarang aku baru tahu, kenapa Raka hanya ingin Lidya yang berada di saat dia sakit," lanjut pria itu miris.


Jleb!


Perkataan Herman menusuk jantung Karina, Bram, Zhain dan juga Haidar.


"Kalian hanya sekedar sayang saja. Sebenarnya aku juga heran. Kau itu kaya raya, Bram. Tapi kau tidak mengusahakan kesehatan cucumu," praduga Herman.


"Itu tidak benar ... aku ...."


"Apa!"


Haidar juga menunduk. Ia juga tidak mengusahakan kesehatan putra kakaknya itu. Tiba-tiba Herman teringat akan saran Frans tempo hari ketika ulang tahun Darren dan Lidya.


"Kau tahu. Frans yang notabene adalah keluarga baru di tempat ini begitu perhatian pada kesembuhan Raka. Ia memberiku rekomendasi salah satu rumah sakit di Eropa. Mereka menangani anak dalam gangguan syaraf seperti autisme bahkan downsindrom!"


Semua diam. Kepala mereka menunduk. Budiman masih setia dengan semua cerita yang ia dengar. Ia membenarkan semua perkataan paman dari majikannya.


"Aku tau kenapa kalian selalu tidak mau membahas kesehatan cucumu. Itu karena kalian malu memiliki Raka!" tuduh Herman langsung.


Bram meneteskan air mata. Ia ingin menyangkal tuduhan itu, tapi bibirnya kelu, karena hatinya membenarkan tuduhan Herman.


"Ternyata kalian mengincar kemenakanku, karena kalian tidak bisa mendapatkan ketulusan dari orang lain kecuali dari Terra," ujarnya sombong.


"Untung Terra cinta mati sama putramu," lanjutnya.


"Ih ...," Terra hendak menyangkal.


"Apa?" tantang Herman.


Terra mengerucutkan bibirnya. Ia memang cinta mati sama suaminya itu. Sedang Haidar tersenyum, ia juga cinta mati sama Terra, istrinya itu.


"Kau tahu, ketika Lidya memelukku. Semua luka yang disebabkan oleh mendiang ayahku tiba-tiba sembuh," jelas Herman.


"Terima kasih, sayang. Kau menemukan Lidya," ucapnya pada Terra.


"Bukan Te, yang nemuin Lidya, Paman. Tapi, Lidya yang mendatangi. Te, merasa beruntung," jawab Terra.


"Sekarang begini saja. Aku serahkan masalah pernikahan Karina dan Zhain pada mereka sendiri. Kau jangan ikut campur mengompori, Bram!' peringat Herman.


"Karina. Belajarlah seperti Lidya ... ingat. Raka tidak ingin dilahirkan seperti itu. Ia juga mau hidup normal," jelas Herman.


"Apa autisme bisa sembuh?' tanya Karina lemah.


"Bisa!'


Baik, Herman juga Zhain menjawab serempak.


"Pamanku memiliki riwayat autis dan dia sembuh setelah dibawa ke rumah sakit di luar negeri. Ia berobat ketika usianya lima belas tahun dan sembuh sekitar sembilan atau sepuluh tahun," jawab Zhain.


"Lama sekali," jawab Karina lesu.


"Jika kau keberatan menunggu. Biar aku yang menunggunya. Aku yang akan mendaftarkan!' seru Zhain semangat.


"Karina ... Karina ... kau masih malu dengan penyakit anakmu," tuduh Herman lagi.


"Biarkan Raka bersama Zhain untuk berobat jika kau tidak menginginkan kesembuhan Raka!' ujar Herman lagi.


"Tapi, jika Karina ikut Zhain. Perusahaan bagaimana?' tanya Karina lagi.


"Kau memikirkan perusahaan dari pada kesembuhan putramu?' tanya Herman tak percaya.


"Kau tau. Jika kalian benar-benar sudah bercerai dipersidangan. Zhain bisa mengambil hak asuh Raka jika perkataanmu seperti tadi!"


Karina menunduk. Ia meruntuki dirinya yang berat meninggalkan perusahaan dari pada kesembuhan putranya.


"Baiklah, aku mau Raka sembuh," ujar Karina yakin.


"Kau serius?" tanya Zhain.


Karina mengangguk ia sangat yakin dengan keputusannya. Zhain bernapas lega.


"Apa kau ikut, Zhain?' tanya Bram.


"Ya, kami bisa bergantian menjaga Raka di sana. Kami bisa saling menguatkan nanti. Kita bisa kan jadi saudara. Aku tidak masalah tidak tinggal seatap lagi denganmu, asal Raka sembuh, kita bisa mengupayakan bersama-sama. Bagaimana?' tanya Zhain memberi penawaran.


"Mestinya kalian menikah kembali. Sepuluh tahun itu lama loh?' saut Herman.


Keduanya menunduk malu dengan rona merah di pipi. Herman berdecak kesal.


"Hais ... kau membuatku patah hati, Karina!' sungut Herman.


'Bukan hanya Tuan Triatmodjo saja yang patah hati. Saya juga,' gumam Budiman dalam hati.


bersambung.


Readers ; yaah othor ... kok malah balikan sih! kan kasian Budiman!"


Othor : Tenang .. Om Pudi eh Budiman sudah othor siapkan jodohnya. sebenarnya emang cerita awal othor udah buat konsep jika Karina bakal balikan sama mantannya. Karena usia Karina yang jauh di atas Budiman.


Readers; jadi jodoh om Pudi siapa Thor?


Othor; yaaa othor sendiri jodohnya Budiman. heheheh ...


Readers; ah ... othor!


Othor ; tenang ... tenang ... sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Sedang masa tugas Budiman juga lima tahun ... mau berapa umur Karina jika mesti nungguin Budiman. Masa nggak kasian. Ntar Karina nya karatan nunggu kelamaan 🤭.


Soo stay tune sama cerita ini ... kadang-kadang othor kan suka kasih kejutan yang tidak terduga.


so


next?