
Sudah dua tahun Raka melakukan treatment therapi-nya. Lusa adalah kepulangannya. Bram dan Kanya mengundang seluruh keluarga untuk berkumpul di mansion mereka. Terra dan anak-anak menginap sudah dua hari lalu.
Tulisan "Welcome Home Raka n Raffhan". Karina memiliki seorang putra lagi, kini usianya sudah sepuluh bulan.
Karena kehadiran putra kecil ini lah, Raka sembuh. Lidya begitu senang mendengar kepulangan Raka.
Semua sudah disiapkan. Ruangan sudah didekorasi cantik seperti keinginan Raka.
Virgou dan Puspita sudah membawa anak-anak mereka menginap di sana. Hanya Herman saja yang datang lusa. Ia tak bisa datang menginap karena pekerjaannya menumpuk.
"Oma, jadi Kakak Raka besok pulang?" pertanyaan berulang-ulang Lidya lontarkan. Seakan dia belum percaya.
"Iya sayang. Besok Kakak Raka akan pulang," jawab Kanya sambil tersenyum.
"Kakak Raka juga sudah sembuh, kan Oma?"
"Iya, sayang," jawab Kanya terkekeh.
Lidya berbinar. Ia sangat senang kakak kesayangannya itu sudah sembuh. Sedang Rion terus dikintili oleh anak buahnya. Kemana balita itu melangkah. Ke sanalah enam bayi mengikutinya. Nai, Sean, Al, Daud, Kean dan Cal, akan mengekori kemana komandannya pergi. Jika Satrio dan Arimbi datang. Maka komplit lah pasukan Rion.
"Kakek. Kita boleh kaloke?" tanya Rion berharap pada Bram.
Melihat wajah cucunya yang penuh pengharapan itu membuat Bram gemas. Ia ingin mengusili cucunya. Ia tampak berpikir lama. Wajah Bram seakan menolak.
"Ata' Ion, ate' powang bait putan?" tanya Nai polos.
Bram melotot mendengar pertanyaan itu. Kanya menyukuri suaminya.
"Makanya, jangan usulin cucu pinter!" ledeknya mencibir.
Bram hanya geleng-geleng kepala. Sedang Terra, Puspita dan Virgou hanya bisa terkikik geli. Haidar masih belum pulang dari luar kota. Sore ini ia baru akan pulang.
Para pengawal Terra tengah mengitari lokasi termasuk Budiman dan Gomesh. Dua pria itu dari kemarin mendapat gerakan mencurigakan di sekitar mansion, melalui ponsel BraveSmart mereka.
Bram akhirnya memasang peralatan karaoke. Sepuluh mik ia nyalakan. Satu lagu anak-anak permintaan Rion didendangkan.
"Siapa yang mau nyanyi?" tanya Rion dengan mik.
"Nai!"
"Cal!"
"Sean!"
"Kean!"
"Al!"
"Daud!"
Semua menyahut namanya. Rion geleng-geleng. Ia mendengkus pasrah.
"Kalian banyak amat sih!"
"Nai dulu ya. Kan ledis pers!"
Terra dan Puspita tertawa mendengar perkataan Rion. Nai pun memegang mik ia memang suka bernyanyi. Bahkan nadanya tepat.
"Pit ... pit ... pit ... puni p,uban pi patas pentin. Pailna pulun pidad pelila ... pobalah penot ... pahan pan patin ... pobon pan pebun pasah pemua!"
"Sekalang, Baby Cal yan nanyi!" suruh Rion.
Cal memegang mik. Bayi itu juga sudah bicara dengan fasih ala dia tentunya. Ayahnya lebih suka berbahasa Inggris dengan kedua putra kembarnya itu. Walau bahasa Indonesia lebih banyak digunakan.
"Lagunya apa Baby?" tanya Bram yang sudah memerah karena menahan tawa.
"Bihat lebuntu!" jawab Cal dengan tenang dan serius.
Lagu diputar. Semua bayi dan ketuanya bergoyang. Begitu juga orang tua dan kakek neneknya. Mereka sudah lemas menahan tawa. Tidak ada yang berani tertawa, karena komandan mereka pasti akan marah.
"Bihat beluntu ... lepuh pelnah puna ... bada pan butih ... balaban pewawah ... beliap pali ... buliat peluas ... pawal pemati ... pesumaba bidah!"
Bram sudah pasrah. Baru dua bayi yang menyanyi sisa empat lagi belum ketua mereka, Rion.
"Waktunya makan siang!"
Bram, Terra, Puspita dan Virgou bernapas lega. Terselamatkan dengan waktu makan siang.
"Oteh, kita beleunti dulu. Nanti kita sambung ladhi!" sahut Rion santai.
"Habis makan bobo, Baby!' titah Virgou tegas.
Semuanya menatap Virgou dengan pandangan memohon. Virgou nyaris menyerah ditatap sedemikian rupa. Tetapi Terra tidak. Wanita itu tegas dengan peraturan.
Semuanya hanya bisa menurut. Tidak ada yang membantah jika Terra yang berbicara. Maka semuanya makan siang. Darren baru pulang sekolah.
"Assalamualaikum!" ujar Darren memberi salam.
"Wa'alaikum salam," semuanya membalas salam.
Darren mencium punggung tangan semua orang dewasa satu persatu.
"Ayo, ganti baju, sudah itu turun dan makan bersama," ajak Terra sambil menggandeng anaknya itu ke lantai dua.
Setelah ganti baju, mereka berdua turun lalu duduk di ruang makan. Meja besar dengan dua belas kursi. Sedang ada sepuluh kursi khusus bayi di sana. Lidya masih memakai kursi itu karena tubuhnya yang mungil. Semuanya pun makan setelah membaca doa.
Usai makan seperti perintah. Semua anak-anak harus pergi tidur setelah sebentar bermain. Rion kembali berdongeng. Virgou yang memintanya. Pria itu penasaran setelah Terra memposting rekaman video Rion yang mendongeng.
Mereka pun tidur di ruang tengah. Bram menggelar tiga kasur di sana. Mereka semua ingin mendengar Rion mendongeng.
"Pada jaman dahulu. Ada dua anak pelempuan cantik belnama Mawal merah dan Mawal putih.
Mawal melah sanat cantik, baik hati dan tidak sombong. Belbeda dengan Mawal putih. Mawal putih suka sekali belbohon. Makanya hidungnya panjan kalau belbohon.
Suatu hali. Mawal melah dan Mawal putih beuljalan-jalan di pusat kota. Meleka beuldua tiba-tiba beultemu penihil jahat."
"Huaahahahaha!" Rion menyerakkan suaranya.
Para orang dewasa nyaris meledakkan tawa. Tetapi mereka tahan. Rion pun meneruskan ceritanya.
"Spasa yan palin cantik?"
"Itu ... itu Mawal melah!" jawab Mawal Putih.
Kalena jawabannya beulnal, makanya hidungnya tak panjang. Penihil itu pun mulai binun, keduanya cantik. Penihil beultanya ladhi.
"Spasa yan palin bait!"
"Mawal Melah!" jawab Mawal Putih.
Ladhi-ladhi hidun Mawal Putih tidak panjang kalena jawabannya beulnal. Penihil makin binun. Maka meleka dibawa oleh penihil.
Hooaaamm!!" Rion mengantuk tetapi ceritanya belum usai. Ia masih ingin melanjutkan ceritanya.
"Mawal Melah dan Mawal Putih di bawa ke sebuah gudang gelap dan bawu. Mawal Melah dan Mawal Putih ketakutan meleka menanis.
Huuuu ... huuu ... hiks ... hiks ...!"
Mimik Rion yang sedih pura-pura itu membuat semuanya lagi-lagi menahan tawa. Virgou sampai terbatuk dibuatnya. Kanya sakit perut, sedangkan Bram mukanya sudah pasrah. Terra apa lagi.
"Hoaaammm ... Penihil beuldili sambil berlacak pindan.
"Hei ... kamu! Saya mau makan kamu!" teuliaknya.
"Ampun huuuu ... ampuni kami penihil cantik!" kata Mawal Melah sambil tersedu.
Penihil telus teltawa. Tiba-tiba, Mawal Putih memiliki ide. Ia melihat penihil itu beuldili di pinggil kuali yang panas.
"Penihil. Taukah kamu, kalau aku bicara jujur maka hidunku akan panjang!"
Beulnal saja. Hidun Mawal Putih panjang. Penihil pun kagum.
"Katakan padaku, apa aku cantik?"
"Iya, kau sangat cantik!"
Hidun Mawal Putih panjang. Penyihil takjub. Ia senang jika Mawal Putih beulkata jujul. Penihil ... hoaaaammm ... teulus beultanya. Hingga ia telcebul di dalam kualinys seundili ... hoooaammm ... zzzz ... zzzz!"
Rion tertidur. Cerita pun selesai. Semua orang dewasa menghapus air mata mereka.
"Hiks ... kamu lucu sekali, Nak .. hiks!" puji Puspita terisak.
"Jangan besar dong!" ujarnya lagi.
Semua mengangguk.
"Kalau nggak besar-besar, kapan kita punya cucu, cicit!" seru Virgou tertahan dengan muka kesal.
Kanya, Terra dan Puspita merengek. Ingin mereka bisa memutar waktu atau setidaknya menghentikan waktu. Agar momen ini terus ada.
bersambung.
Ah ... Rion dari mana lagi ceritamu itu?
next?