
Sret! Rion melempar benda itu tepat di samping wajah Gomesh.
"Arrghh!'
Sosok bayangan hitam. Matanya terkena senjata bintang yang dilemparkan Rion. Gomesh terdiam. Pria besar itu menatap bayi yang berusia dua tahun itu.
"Om Latsasa, mindil!" pekik Rion ketika melihat satu lagi serangan.
Set! Brak! Dug!
"Ugh!" satu lawan tertunduk sambil memegang perut.
Gomesh menendang perut lawan itu sangat keras. Sosok berpakaian ninja itu roboh.
Tiba-tiba dari dua arah kanan dan kiri segerombolan orang menyerang Terra dan yang lainnya.
"Heeeaaa!"
Pertarungan tak dapat dielakkan. Baku hantam terjadi. Terra menghajar orang-orang yang menyerangnya. Begitu juga Haidar. Sedangkan Fendi, Dahlan dan Rudi mengelilingi bocah-bocah. Mereka hanya menerjang siapa saja yang menyerang dan mendekat. Pihak musuh terdesak. Padahal yang mereka lawan hanya sekelompok kecil. Tapi mereka seperti tiada artinya terlebih sosok besar di sana hanya melibas semua lawan dengan satu gerakan saja.
"本社に助けが必要だと伝える
Honsha ni tasuke ga hitsuyōda to tsutaeru!" (katakan pada markas. Kita butuh bantuan!) pekik salah seorang penyerang.
Tiba-tiba dari arah yang sama. Pada polisi dan tentara berdatangan. Semua penjahat kocar-kacir menyelamatkan diri. Semua tertangkap. Hingga datang dari arah depan sebuah mobil hitam.
Para kepolisian juga tentara langsung merangsek membuat tameng untuk Terra dan yang lainnya.
Dari mobil hitam keluar sosok pria bertelanjang dada. terlihatlah tatto yang paling terkenal di punggungnya. Pria dengan rambut yang mulai memutih.
"あなたの助けはありません Anata no tasuke wa arimasen!" (tidak ada bantuan untuk kalian!).
"会長!
Kaichō!" (ketua!) seru para anak buah yakuza.
Pria bertatto itu hanya menghela napas. Ia menunduk hormat pada kepolisian dan tentara yang membuat tameng untuk melindungi sosok yang ia ingin temui. Sosok yang selalu memporak-porandakan kegiatan ilegalnya. Salah satu tim IT nya mampu melacak siapa pemilik akun BlackLion, ketika penyerangan sektor D.
Walau dengan begitu dia langsung kehilangan seluruh data. Dan membuat IT nya melakukan harakiri (tradisi bunuh diri ala Jepang). Konokawa-Koi. Salah satu Yakuza yang cukup memiliki nama. Sebelum sektor D terbakar. Ia adalah seorang kaya raya. Tetapi kini ia bangkrut. Tersisa para pengikut setianya yang hanya berkisar dua ratus orang.
Pria yang biasa dipanggil Kawa-kai ini menatap beberapa pasukan ninjanya yang terluka parah. Bahkan kini ia dihadapi hukum berlapis karena menyerang warga negara asing.
"テラを楽しませたいだけです。誰がそれがこのようになると思っただろう
Tera o tanoshima setai dakedesu. Dare ga sore ga kono yō ni naru to omottadarou," (Aku hanya ingin menghibur Terra. Siapa sangka jadinya seperti ini,) keluhnya kecewa pada pasukannya.
Terra maju bersama suaminya. Menatap pria berambut klimis. Pria itu memandang wanita yang menjadi incaran seluruh mafia di dunia. Ia sangat terkejut jika wanita tersebut masih sangat muda dan begitu cantik.
"ああ...それはあなたの名前がテラです。私の名前をコノカワコイと紹介します。
Ā... Sore wa anata no namae ga teradesu. Watashi no namae o konokawakoi to shōkai shimasu.,"
(ah ... ternyata kau yang bernama Terra. perkenalkan namaku Konokawa-Koi.) pria itu memperkenalkan diri sambil membungkukkan badan.
Terra membungkuk tubuhnya juga dengan hormat. Kono-kai tersenyum. Ia sudah kalah lama. Ia hanya penasaran dengan sosok yang namanya menjadi sosok yang menakutkan. bagi kalangan mafia sepertinya.
"私はあなたを尊敬しています。でも娘の金和アドミアと侍と戦ってくれませんか?
Watashi wa anata o sonkei shite imasu. Demo musume no kanawa adomia to samurai to tatakatte kuremasen ka?"
(aku menaruh hormat padamu. Tapi mau kah engkau bertarung samurai dengan putriku Kagumi Kanawa?) pinta Kanawa penuh hormat.
`Mōshiwakearimasenga, kanojo no otto to shite. Watashi wa tsuma o kinjimasu!"(Maaf, tapi sebagai suaminya. Saya melarang istri saya!) tolak Haidar keras.
"それはそれがどのように見えるかです、申し分なく
Sore wa sore ga dono yōnimieru kadesu, mōshibun naku," (begitu rupanya, baiklah.) ujar Kanawa-koi menaruh hormat apa pun keputusan suami Terra.
Mereka sesama bangsa Asia di mana suami menjadi mutlak bagi istrinya.
Polisi menangkap Konokawa-Koi dengan pasal berlapis. Pria berusia lima puluh tahun itu tak memberontak ketika ditangkap. Hanya saja tiba-tiba. Kagumi Kanawa menyerang Terra dengan bilah samurainya.
Tentu samurai adalah senjata tertajam di antara senjata. Rion melihat ibunya akan celaka langsung melempar batu sangat kecil dari tempatnya berdiri.
"Aakkhh!" pekik Kagumi kesakitan.
"Kagumi!" teriak ayahnya melihat putrinya kesakitan.
Semua polisi terdiam bahkan para kaki tangan Kana-kai pun ikut bungkam, setelah melihat aksi Rion melindungi ibunya.
Mata Kagumi tertusuk oleh batu kecil yang dilempar oleh bayi itu. Kana-koi menyumpahi Rion dengan seribu satu kata buruk. Tentu yang tidak dimengerti balita itu.
"Bewani lutai Mama. Pantahin bulu Ion!' serunya lantang tanpa ada ketakutan sama sekali.
Wajah imut menggemaskan, bahkan tingkahnya yang kini sambil berkacak pinggang dengan dagu terangkat. Bukannya takut. Semua menatap gemas balita itu.
Kagumi ditangkap. Matanya terluka dan nyaris buta. Kana-kai melempar kain putih tanda menyerah kalah. Tidak ada lagi klan Yakuza dari Kanawa-koi. Mereka sudah bangkrut dan kini harus menghadapi hukum yang pastinya berat.
Terra langsung memeluk Rion dan menciuminya. Wanita itu sangat bersyukur. Anak-anaknya tidak ada yang terluka. Pihak pemerintahan Jepang langsung meminta maaf.
"Maaf, Nyonya Terra. Kami dari duta besar Indonesia untuk Jepang menjemput anda untuk menemui Kaisar. Baginda ingin meminta maaf secara langsung atas insiden ini," ajak salah satu anggota duta besar.
Mereka menaiki kembali bus pemandu wisata yang tadi mengantar mereka. Hari sudah beranjak malam. Tapi, Kaisar menunggu. Ia akan merasa bersalah jika tidak langsung meminta maaf.
Terra dan keluarga dihadiahi sebuah villa bernilai fantastis di Okinawa, Jepang.
Mereka pulang setelah dihidangkan berbagai macam makanan lezat. Semua makan dengan lahap. Bahkan Rion menyukai sushi. Usai makan. Semuanya pun kembali pulang ke unit Kondominium milik Terra.
Butuh waktu dua jam untuk sampai di kondominium. Mereka pun langsung bergelimpangan di kasur besar, tanpa membersihkan tubuh mereka.
Pagi-pagi Terra sudah bangun, waktu yang sedikit berbeda dengan negara mereka. Membuat sedikit bingung dengan jam ibadah fardhu mereka. Tetapi begitu telah melihat google. Ternyata mereka belum telat untuk shalat subuh.
"Sarapan sudah siap!' ucap Terra, memanggil semuanya untuk makan.
Haidar, Budiman, Gomesh, Fendi, Rudi dan Dahlan pun duduk di meja makan. Anak-anak juga duduk di kursinya masing-masing. Terra melayani mereka semua.
"Terima kasih, Nona," ungkap Fendi.
Ia begitu terharu. Begitu juga Gomesh. pria besar itu baru satu meja makan dengan kliennya.
"Ah, aku merasa berada dalam keluarga," ujarnya terharu.
"Makanlah, Kak. Tapi, berdoa dulu ya," sahut Terra.
Mereka berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Gomesh dan Dahlan adalah Nasrani. Sedang Fendi seorang Buddhis. Terra, Budiman, Haidar, dan ketiga anaknya adalah Islam.
bersambung.
jadi kata siapa jika berbeda itu tak bisa makan satu meja?
next?