TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RION SEPERTI BOSS



CEO tampan dengan mata coklat terang. Kulit bersih, hidung mancung, rahang kokoh, bibir tipis. Rambut hitam kecoklatan. Tinggi 188cm dengan bobot 80kg.


Gabriel Dougher Young, pria itu kini berusia dua puluh tujuh tahun. Tubuh kekar dengan dada bidang punggung lebar dan kuat. Gadis mana yang tak tergiur dengan sosok sesempurna Gabe? Sayang, pria tampan dan mapan itu bersifat dingin, datar dan sangat cuek.


Rosena, sekretaris cantik dengan tubuh sangat mengundang jakun pria naik turun itu pun tak mampu menaklukan boss dinginnya itu.


"Apa jangan-jangan, Boss lain nih?" tuduhnya dalam hati.


Pria itu membawa serta Rion hari ini. Entah mengapa, bocah lelaki itu ingin ikut kakaknya ke kantor.


"Ion mau ikut Kak Gabe ke kantor, Mama. Jadi, gantian Mama yang jagain adik-adik ya," ujarnya.


Hari ini kelas Lidya dan Rion libur karena dipakai ulangan kelas enam. Jadi kakak perempuannya itu ikut menjaga adiknya.


"Ata'Ion mawu penama?" tanya Al ingin tahu.


"Kakak mau kerja dulu, ya. Baik-baik di rumah. Oke!" jawab Rion santai, ketika ia hendak pergi.


"Oteh Ata'!" sahut Al sambil memberi hormat.


Terra sedikit cemberut. Gabe pun dengan senang hati membawa Rion bersamanya. Darren sudah berangkat ke kampus bersama ayahnya dan Budiman serta Gio sebagai pengawal.


"Jagain Rion ya!" pinta Terra.


"Awas kalo diajarin yang enggak-enggak!"ancamnya kemudian.


"Siap!" sahut Gabe sambil menggandeng tangan Rion.


Bocah lelaki itu memakai setelan formal jas warna abu-abu dan dasi hitam yang melingkar di kerah kemejanya yang putih. Ia benar-benar berangkat kerja.


"Ion pergi kerja dulu, Mama. Assalamualaikum!'


"Wa'alaikumusalam!" sahut Terra dan Lidya.


Padahal Terra berharap keempat anaknya akan menangis ditinggal oleh Rion. Tetapi, keempatnya malah melambaikan tangan.


"Bati-bati pi balan ya Ata' Ion, antel Babe!" seru Sean dan Daud bersamaan.


Terra manyun. Memang selama ada Rion. Keempat anaknya akan menurut pada apa kata kakaknya itu. Terra akan sedikit kerja keras dalam mengasuh bayi-bayi kembarnya kali ini.


"Mama, Nai banjat peja!" adu Al melihat saudara perempuan hendak memanjat meja televisi.


Terra membelalak.


"Astaghfirullah, Baby Nai!'


Wanita itu pun menurunkan balitanya dari pijakannya. Nai hanya tertawa.


"Nai, mawu bambil bemot pontol, Mama," jelas Nai.


"Kan bisa minta tolong Mama, sayang," ujar Terra memberi tahu.


"Nai mawu bandili ... tata Ata'Ion banan pusahin Mama," jelasnya lagi.


Sedang di tempat lain Rion sedang duduk tenang di dalam mobil bersama Gabe. Pria itu sudah memilki kendaraan dan supir pribadi. Bart juga memberikan beberapa pengawal untuknya. Pengawal Gabe ada di mobil lain yang mengikutinya.


Sampai depan lobby perusahaan. Para pengawal langsung bergegas turun dan membukakan pintu untuk Gabe dan Rion. Dua pria beda usia itu melangkah dengan gagahnya. Semua karyawan berjejer rapi menyambut mereka. Rommy dan Iskandar menunduk kepala hormat.


"Selamat pagi Tuan Gabe dan Tuan Rion," sambutnya.


"Apa jadwal kita hari ini, Rom?"


"Ada beberapa pertemuan dengan para investor dan penanam saham serta tanda tangan beberapa berkas," jawab Rommy singkat.


"Baik, apa ada kejadian khusus?" tanya Gabe lagi.


"Mudah-mudahan tidak ada Tuan," jawab Rommy lagi.


Mereka berjalan menuju lift khusus. Semua karyawan kembali bekerja. Tapi banyak yang langsung menghela napas lega setelah kepergian Gabe.


"Astaga, gue mau pingsan liat tatapannya Pak Boss!" ujar salah satu karyawan wanita.


"Ih, gue mah kesengsem sama Tuan muda Rion. Duh, kecil-kecil gitu gantengnya udah kelewatan!" seru salah satunya.


Semuanya terdiam, lalu melanjutkan pekerjaan mereka.


Gabe, Rion, Rommy dan Iskandar sudah sampai pada ruangan Gabe. Pria itu menyuruh Rion duduk di kursi yang telah disiapkan.



Dengan penuh karisma. Bocah lelaki itu tampak serius duduk di kursinya. Gabe, Rommy dan Iskandar sampai gemas melihatnya.


"Nah, Baby. Kamu baca artikel ini, lalu nanti kamu tulis bagaimana pandangan kamu tentang ini. Oke!" titah Gabe memberi satu berkas berisi tiga lembar kertas.


"Oteh!" sahut Rion enteng.


Rommy dan Iskandar meninggalkan dua pria beda usia itu. Gabe membaca berkas yang akan ditanda tangani. Lalu membaca arsip data di komputer. Semua nampak serius dalam pekerjaannya.


"Tuan, maaf. Rapat investor dan penanam saham akan dimulai," ujar Rommy mengingatkan.


"Oh iya," pria itu pun berdiri.


"Ayo, Baby, bawa serta apa yang kau tulis tadi!" ajaknya pada Rion.


Bocah lelaki itu pun berdiri dan membawa kertas yang ia tulis. Kembali Gabe menggandeng Rion. Iskandar dan Rommy mengikutinya.


Asisten Rommy membukakan pintu untuk ketiga atasannya. Tiga pria tampan beda usia memasuki ruangan. Semua mata memandang mereka terutama pada Rion.


Gabe duduk dan memangku Rion. Tidak ada yang protes. Mereka pun mulai disibukkan dengan layar proyektor yang menampilkan grafik pangsa pasar dan harga saham.


"Begitu perkiraan yang bisa kami uraikan. Keuntungan dan kestabilan pasar membuat kami yakin jika para investor dan penanam saham tidak akan rugi," ujar Rommy mengakhiri reviewnya.


Semua nampak mengangguk puas. Mereka tak segan menanamkan saham ke perusahaan yang sudah merangkak naik secara berkala itu. Para penanam saham pun juga tak sungkan menggembungkan nilai modal mereka.


"Baik, sekarang kita akan lihat sudut pandang dari seorang anak laki-laki yang belum genap delapan tahun, untuk mengurai pendapatnya!' ujar Gabe.


Rion menatap pria dewasa yang memangkunya. Gabe mengangguk menguatkan keyakinan bocah lelaki itu.


Rion pun turun dari pangkuan Gabe. Seketika rasa kebas pun terasa di kaki pria tampan itu. Ia nampak memijat pahanya yang kesemutan dengan sembunyi-sembunyi.


Rion mengambil mik dan langsung memperkenalkan dirinya.


"Halo, selamat pagi menjelang siang. Nama saya Rion Permana Hugrid Dougher Young. Di sini saya akan memaparkan pendapat saya tentang flying internet!"


Gabe dan Rommy mengabadikan review pria kecil itu dengan senyum lebar. Para penanam saham dan investor menatap Rion penuh kekaguman. Betapa ditail dan telitinya ia mengajukan review. Padahal ia hanya anak berusia tujuh tahun.


"Sepertinya, itu saja hasil pendapatan dan pengamatan saya. Terima kasih!" ujar Rion mengakhiri perkataannya.


Semua bertepuk tangan sambil berdiri. Gabe sangat bangga akan pandangan adiknya itu. Videonya langsung tersebar di grup chat familly Dougher Young.


Haidar:


(That's my son!)


Virgou :


(Bravo Dougher Young!)


Terra:


(Oh ... my baby like realy Boss!)


Bart :


(My grandson very smart and genius. How can he said perfectly!)


Dan banyak chat yang memuji kepandaian Rion. Itu lah tujuan Gabe membawa Rion. Ia ingin semua tahu betapa berkualitasnya seorang Dougher Young walau di usianya yang masih belia.


bersambung.


yaaa bedaaa laaah ...


next?