
Hari ini adalah hari aqiqah Arsyad. Putra pertama dari pasangan Gio dan Aini. Mereka berdua sangat bahagia.
Rumah Gio nampak penuh sesak manusia. Sedang Jac dan Putri benar-benar menikmati cuti mereka di kampung halaman suster cantik itu.
Anak-anak duduk dengan rapi, berbaur dengan anak-anak yatim. Samudera, Benua, Sky, Domesh, Bomesh, Harun, Azha, Arion dan Arraya tampak duduk manis di sana.
Sky dan Bomesh berusia tiga tahun sedang Domesh berusia empat tahun dan Benua berusia lima tahun.
Harun lima belas bulan, Azha tiga belas bulan, sedang Arion dan Arraya sebelas bulan.
Acara selesai, anak-anak yatim mulai mengantri mendapat bingkisan.
"Baby!" panggil Kean dengan seringai usil.
Delapan bayi menoleh pada kakak mereka dengan mata bulat dan polos.
"Kalian ngantri sana. Nanti dapat hadiah!" titah Kean setengah berbisik.
"Padiah?" tanya Harun tak mengerti.
"Oh ... tado ya Ata'?" tanya Sky antusias.
Kean mengangguk semangat. Semua berdiri ikut berbaris.
"Subhanallah, Nak!" gerutu Herman geram.
Haidar menggeleng, ia dan Virgou mengeluarkan delapan perusuh itu dari antrian.
"Babies, kenapa kalian ikut antri?" tanya Virgou.
"Tata Ata'Tean talo anpli pita batalan bi tasih tadi!" jawab Bomesh enteng.
Virgou berdecak kesal pada remaja yang saling dorong satu sama lain. Hanya Rion yang diam saja. Bukannya ia tak tahu kelakuan usil adiknya.
"Jaga adiknya!" titah Haidar.
Semua anak yatim sudah pulang. Rumah Gio sedikit lengang. Walau kini di dominasi oleh perusuh yang bertambah. Empat bayi yang belum lancar berbicara dan empat lagi yang sok dewasa.
"Baby Ala, boca pilan ba bowu!" titah Sky pada Arraya.
"Awu!" sahut Arra lalu memacungkan bibirnya.
"No, baby ... ba bowu!" ulang Sky.
"Powu!" sahut Arra mengulang.
"Baby Ala pelum pisa picala denan beunal Sty!" sahut Benua bijak.
"Pa powu!" Azha mengulang perkataan Sky.
"Nah ... peulnal!" sahut Sky gembira lalu bertepuk tangan.
"Uma!" panggil Azha pada Saf.
Bayi itu berjalan tertatih menuju wanita yang sudah sangat besar. Usia kandungannya jalan delapan bulan.
"Baby, kau di mana?" tanya Saf ketika Azha berada di bawah perutnya. Wanita itu tak melihat sang bayi karena tertutup perut besarnya.
Darren mengangkat Azha dan menggendong lalu mencium gemas.
"Edhe!" tunjuk bayi itu ke perut Saf.
"Uma, pisi payina peulapa?" tanya Sky sambil mengelus perut besar wanita itu.
Ternyata semua perusuh ada di dekat Saf sambil menunjuk-nunjuk perut wanita itu.
"Peusaal ya?" seru Benua takjub.
"Teusal!" sahut Arion.
"Dedeknya ada tiga, babies jadi besar," jawab Saf gemas pada delapan perusuh yang mengelilinginya.
Para orang tua membiarkan para bayi yang penasaran dengan perut besar Saf.
Lidya sedang duduk santai sambil mengelus perutnya. Rion duduk di sebelahnya ikut mengelus.
"Kak," panggil bayi besar itu manja.
Lidya mengecup sayang kening adik laki-lakinya itu.
"Ni edhe!" seru Arraya sambil menunjuk perut Lidya.
"Ata' Iya eudat patut beuletus?" tanya Benua khawatir.
Demian sangat gemas. Ia menciumi para bayi hingga tergelak. Mereka geli jika disembur perut bulat mereka.
"Babies ... ayo nyanyi!" ajak Nai.
Gadis itu sudah memasang alat karaoke. Delapan bayi langsung menyerbu mik.
"Jha mo nyi!" pekik anak Dav itu.
"Mau nyanyi apa Baby?" tanya Nai antusias.
"Tong pepet!"
Semua bingung dengan apa yang dibicarakan bayi tampan bermata coklat terang itu.
"Tong pepet?" Virgou berpikir keras.
"Potong bebek angsa," sahut Rion.
"Aahh!"
Semua bersahutan tanda mengerti. Nai mencari lagu itu setelah dapat Azha bernyanyi.
"Nton epet nsa ... asat i buali ... nya nta sasa ... asa pat pat ali ... lon ili ... lon nan ... lalalalalalala ... lon ili ... lon nan ... lalalalala!"
Virgou menyembur, ia tersedak. Sedang yang lainnya nyaris terbahak. Bart menyembunyikan wajahnya di meja. Herman sampai lari karena menahan kentutnya.
Sedang para wanita hanya tersenyum lebar mendengar nyanyian ala baru dari bayi mereka.
Seruni memilih bersama Maria dan Puspita menuju dapur membuat kudapan sore. Tampak Azha akan kembali bernyanyi.
"Oton pepet sasa ... lasa ... bi luali ... ponya nta tasa ... lasa babat pali ... bolon lilili ... olon panana ... lalalalalalala ... tolon bilili ... nlon cenana .... lalalaalalaalaaa!"
Para remaja sudah bergulingan di lantai menahan tawa mereka. Dav kaku wajahnya. Terra memeluk suaminya yang juga memeluknya, bahu mereka bergerak tanda menahan tawa. Sedang yang lain memilih tak mendengar lagunya walau wajah mereka memerah karena menahan tawa.
"Astaghfirullah ... astaghfirullah!" sahut Demian beristighfar.
Ayahnya di Eropa sangat antusias melihat rekaman para bayi rusuh itu. Ia akan datang dua minggu lagi.
"Ala au nyi!" pinta bayinya Terra.
"Nyanyi apa Baby?" tanya Nai dengan napas tersengal karena menahan tawa.
"Ihat buntu!" jawab Arra semangat.
Nai memasang lagu "Lihat kebunku". Lagu berjalan, Nai membantu adiknya memulai lagu.
"Ihat bubuntu ... nuh nan uma ... nda an ntih ... nan da an elah ... e iap lali ... ulilam mut na ... emal ... lelati ... emuana ndah!"
Tubuh gembul bayi cantik itu bergoyang ke kanan dan ke kiri. Nai gemas hendak mengigit paha montok bayi itu.
"Nan idit!" pekik Arra marah di depan mik.
Bayi melempar mik itu kesal. Semua nyaris tertawa melihat kemarahan lucu Arra.
"Arra!" tegur Rion.
Arraya terdiam. Banyak yang menatap pawang bayi itu takjub. Sedang Arraya sangat kesal karena ada yang mengganggunya ketika sedang serius.
"Tata' Ion ... Ala ndat syuta!" cebik bayi itu kesal.
"Iya baby ... maafin Kak Nai ya," Arra mengangguk.
"Nyanyi lagi?" bayi itu menggeleng.
"Ape'!" keluh bayi itu sok lelah.
Demian sampai gemerutuk gerahamnya. Darren ingin menciumi bayi itu. Dav pun sama.
Kini giliran Benua bernyanyi. Bayi itu menyanyikan lagu "Bebek-bebekku".
"Bebet-pepet tu ... mali temali ... bitut lah atuh ... te tebun pipi ... pisama banat ... sesutaan mu ... pacin yan benut oy ... bayo biseulbu ... wet ... wet ... wet ... wet ... wet ... wet sunduh lamaina ... wet ... wet ... wet ... wet ... wet ... wet ... peulsyuta lia!"
Semua bayi bergoyang dan ikut bernyanyi bersama. Para orang tua akhirnya ikut juga bernyanyi lagu tersebut.
"Ayam-ayamku ... mari ke mari ... ikutlah aku ... ke kebun bibi!" Rion mengubah liriknya.
"Di sana banyak kesukaanmu ... mari ke mari oh ayo disembelih!" lanjut Kean juga merubah liriknya.
Para bayi bingung. Semua terkikik geli.
"Tok petok ... tok petok ... sungguh ramainya ... tok petok ... tok petok ... kita makan ayam goreng!"
"Tot ladhunya bedithu syih!" pekik Benua kesal.
"Pial Penua yan banyi ladhunya!" lanjut bayi itu lagi sebal.
"Payam-payam tuh ... eh ... bebet pa'a payam syih?" tanyanya lupa lirik.
Semua tertawa terbahak hingga membuat Benua marah bukan main. Sedang Bomesh dan Domesh hanya menggeleng.
"Dasal ... anat teusyil!" sungutnya berdecak.
bersambung.
aha .... anak-anak ...
next?