
Hari berlalu waktu berganti. Virgou pulang membawa segudang oleh-oleh untuk ketiga anaknya. Dengan pesawat jet pribadi miliknya, ia dan Puspita pulang kembali ke negara istrinya.
Setelah berkeliling negara A, selama empat hari. Ia pun mengajak Puspita mengunjungi keluarganya di Eropa. Bart sangat antusias dengan kedatangan keduanya. Mengajak sepasang suami istri itu berkeliling. Menggunakan fasilitas nomor eksklusif. Puspita sangat terperangah dengan kekayaan suami juga kakek dari mantan atasan yang kini menjadi adik iparnya itu.
Puspita sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Terra. Ia dilarang Virgou, suaminya. Sebagai istri ia pun menurut. Terra sebenarnya keberatan, karena Puspita merupakan satu-satunya marketing terbaiknya.
Makanya begitu pulang, mereka membawa oleh-oleh yang banyak untuk anak-anak juga keluarga sang istri. Bart menitip salam untuk semuanya. Ia akan datang lagi ketika Rion berulang tahun tiga bulan mendatang.
"Kita ke rumah orang tuamu dulu, ya," ujar Virgou setelah mereka di mansion.
"Besok ya. Hari ini aku lelah," ucap Puspita dengan wajah lelah.
Virgou tersenyum. Ia mengelus dan mencium kening sang istri mesra.
"Iya, sayang. istirahat lah," sahutnya sambil tersenyum.
Puspita langsung berbaring, ia sudah membersihkan diri dari tadi. Virgou pun membersihkan dirinya. Usai membersihkan diri, ia kembali ke ruang kerjanya.
Mengecek semua pekerjaan yang tertunda selama perjalanannya berbisnis di negara A dan keliling Eropa, kemarin.
Hingga menjelang dhuhur, baru ia berhenti. Pria itu membangunkan sang istri.
"Sayang, bangun. Sudah dhuhur. Ayo shalat dulu," ajaknya membangunkan sang istri.
Puspita menggeliat. Ia masih lelah. Tapi, kewajibannya sebagai muslim juga harus dilaksanakan. Wanita itu juga harus memasak makan siang untuk suaminya.
"Ah, tidurnya kelamaan ya, Mas?' tanyanya menyesal. "Aku belum masak untuk makan siang."
"Udah ngga apa-apa, Maid udah masakin udang bakar untuk kita makan," jawab Virgou lalu menarik tangan istrinya agar bangkit dari ranjang mereka.
Mereka pun mulai berjamaah, setelah berwudhu terlebih dahulu. Usai shalat mereka pun ke ruang makan yang ada di lantai satu.
Para maid menyambut mereka berdua dengan membungkuk hormat. Hanya Puspita yang tersenyum sambil mengucap terima kasih ketika para pelayan menyajikan makanannya.
Salah satu pelayan sedari tadi mencuri pandang pada pria tampan yang duduk di kepala meja makan.
Pesona pria itu benar-benar membuatnya terpukau. Selama ia bekerja di mansion. Baru kali ini ia melihat secara jelas pria yang menggajinya itu.
Ketika kakek tuannya itu ada di sini berikut para pamannya. Ia tidak begitu jelas melihatnya. Tapi ia yakin jika tuannya tampan. Karena semuanya yang menginap di mansion kemarin juga tampan-tampan.
Kemudian ia pun menatap istri sang majikan. Bibirnya tersenyum sinis. Membandingkan kulit istri majikannya yang cenderung kecoklatan. Sedangkan dirinya berkulit putih bersih.
"Cis ... cewe kek gini, bisa dapetin bule seganteng, Tuan Virgou?" tanyanya berdecih dalam hati.
"Nggak pantes banget," umpatnya. Lagi-lagi hanya dalam hati.
Virgou yang merasa diperhatikan sedemikian rupa menatap maid yang memandang istrinya remeh. Tangannya langsung mengepal erat.
'Berani-beraninya dia!' runtuk pria itu geram.
'Oke, akan kulihat sampai mana keberanian mu, cacing tanah!' ujarnya dengan kilatan mata sadis.
"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Virgou datar melihat maid yang dari tadi tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Maid itu terkejut setengah mati. Ia gugup. Jemarinya salin meremas satu sama lain.
"Ti-tidak ada Tuan," jawabnya gagap.
"Lalu kenapa kau masih di sana?' tanya Virgou lagi-lagi tanpa ekspresi.
"Sa-saya ...."
"Pergi ke tempatmu!" titah Virgou.
"A ... a ...."
Salah satu maid yang melihat rekannya tergagap tak bergerak dari tempatnya. Langsung menarik temannya itu.
"Maaf Herni Tuan." ujarnya mewakili rekannya itu.
Maid bernama Herni itu pun ditarik oleh Nunik, rekannya. Gadis itu diseret hingga dapur. Herni sedikit meronta ketika diseret begitu saja oleh Nunik.
"Lepas!" sentaknya sambil meronta.
"Kamu yang apa-apaan. Ngapain kamu berdiri lama di sana. Kita semua langsung masuk dapur ketika selesai mengatur makanan!" bentak Nunik balik.
"Bukan urusanmu!" sahut Herni pongah.
Gadis itu pun berlaga menjadi nyonya besar. Mendongakkan dagunya. Dan menyenggol bahu Nunik ketika melewati rekan satu profesi itu.
"Cis. Dasar aneh!" Sergah Nunik meledek tingkah Herni tersebut.
Sedang di meja makan, Virgou dan Puspita sudah selesai makan. Ketika Puspita berdiri hendak membersihkan meja, langsung dilarang oleh Virgou.
"Sudah, jangan lakukan itu. Ada maid yang bekerja melakukanya. Aku menggaji mereka untuk itu!"
"Sayang, tidak apa. Aku sudah biasa," sahut Puspita hendak meneruskan kegiatannya.
"Sayang," panggil Virgou memperingati istrinya.
Puspita pun menghela napas. Ia akhirnya menurut titah sang suami. Virgou meneriaki para pelayan. Semua pelayan datang termasuk Herni.
"Bersihkan meja. Nanti malam, tidak usah masak. Kami akan makan di luar!"
Sebuah perintah mutlak tak ada yang berani menyahut. Mereka semua menunduk menanggapi titah tuan mereka. Virgou merangkul pinggang ramping istrinya dan berjalan kembali ke lantai atas.
Herni menatap itu penuh dengan cibiran. Terutama untuk wanita yang menjadi istri dari tuannya itu.
"Cis, sok jadi Ratu. Masa bersihin meja mesti manggil babu sih!' gerutunya sangat pelan.
"Kenapa nggak dibersihin sendiri. Tampangnya aja nggak lebih baik dari tampang gue yang putih gini," lagi-lagi ia menggerutu pelan.
"Kenapa mulut kau itu!" tegur Inah. Inah merupakan kepala pelayan.
"Nggak ada apa-apa," ucapnya sedikit sewot.
"Apa!" seru Inah lagi, dengan suara penuh penekanan.
"Jaga sopan santun mu. Kamu di sini itu babu!" peringatnya lagi.
Herni pun diam. Ia masih sayang dengan pekerjaannya. Jika dia sampai dipecat. Maka tujuan yang ia rencanakan barusan akan gagal.
'Waduh, ni pertu ya. Gue mesti ati-ati nih, kalo ada dia' gumamnya dalam hati.
'Awas Loe ya, Inah. Gitu gue jadi nyonya di gedong ini. Orang yang gue pecat pertama kali itu elu!' ujarnya dengan penuh percaya diri.
"Apa kamu liat-liat kek gitu!" sentak Inah lagi dengan mata menantang Herni.
Gadis itu pun menundukkan kepala. Ia melanjutkan pekerjaannya dengan setengah hati. Sejak saat itu. Herni sangat percaya diri jika semua mimpinya akan menjadi kenyataan. Gadis yang hanya lulusan sekolah menengah Pertama ini, makin mengukuhkan dirinya di atas posisi rekan-rekannya.
"Dengan kemulusan kulit gue. Gue yakin Tuan bakalan bertekuk lutut sama gue!" ujarnya menanamkan keyakinan dalam hati.
Malam hari, ketika Tuan dan istrinya pergi. Herni sengaja memakai baju terbaiknya. Memang di mansion tersebut. Virgou membebaskan ART-nya tidak menggunakan seragam seperti mansion lainnya.
"Anda mau berangkat Tuan?' ujarnya mengakrabkan diri.
Virgou mengernyit. Pria itu sangat tidak suka dengan kelancangan pekerjanya itu. Tapi, Puspita menjawabnya dengan ramah.
"Kami mau makan malam, seperti yang suami saya katakan tadi siang."
Virgou pun langsung berjalan dengan terus menggandeng mesra tangan sang istri. Bahkan sesekali, ia mencium buku tangan Puspita.
Hal itu membuat Herni kesal. Ia menghentakkan kakinya setelah kedua majikannya itu sudah menghilang di balik pintu.
"Ah, masa gue udah pake pakaian cantik gini, nggak dilirik sih!" umpatnya kesal.
Herni memakai dress biru kotak-kotak putih tanpa lengan. Hingga memperlihatkan kulitnya yang putih mulus.
Matanya buta tidak melihat keanggunan istri dari tuan besar yang menggajinya itu. Malam itu, Puspita sangat cantik dengan gaun warna ungu yang pas dengan lekuk tubuhnya.
Bersambung.
hadeh ... ada lagi nih ulet stress
next?