
Lidya pulang dengan wajah sembab. Matanya memerah karena habis menangis. Gadis kecil itu masuk mengucap salam sambil sesengukan.
"Wa'alaikum salam. Sayang .... kamu kenapa nangis?" tanya Terra langsung khawatir.
"Mama ... huuuu ... Nina pergi, Ma ... hiks ... hiks!"
"Maksudmu apa, sayang?" tanya Terra tak mengerti.
Lidya makin mengeratkan pelukannya. Ia tak berhenti menangis. Hingga membuat adik-adiknya jadi ikut bersedih.
"Tata Iya ... tenapa meyanis ... huuuwaaa!" Nai ikut menangis.
Bahkan Rion yang bisa menenangkan adik-adiknya pun ikutan menangis karena kakaknya. Terra jadi ikutan sedih.
"Hei ... sayang, kenapa pada nangis semua sih. Sayang ...!" sahut Terra dengan suara tercekat.
Wanita itu pun memeluk semua dan menenangkan mereka semua. Virgou datang bersamaan dengan Haidar. Seperti biasa pria itu jika sudah terlalu lapar maka ia akan minta makan di rumah Terra.
Melihat anak-anak menangis membuat dua pria arogan itu gusar bukan main. Amarah keduanya langsung naik ke ubun-ubun.
"Ada apa Sayang. Kenapa semua menangis? Apa ada yang mencoba menyakiti kalian!?"
"Cepat katakan. Aku sudah lama tidak menghisap darah manusia!" geram Virgou.
"Hiks ... Daddy ... tenapa Daddy pisap palah banusia ... hiks ... Daddy manyuk ... hiks!" tanya Sean sambil terisak.
Haidar nyaris tertawa, sedang Virgou terbatuk mendengarnya. Terra malah merajuk mendengar celotehan lucu salah satu putranya.
"Baby ... hiks."
Haidar dan Virgou pun mendekati. Mereka menenangkan semua anak-anak.
"Baby, kenapa kamu juga menangis komandan, heemm?" tanya Virgou pada Rion.
"Ha ... hiks ... bis ... hiks ... kakak Iya nangis ... hiks!" jawab Rion sambil terisak. "Kan Ion jadi ikut ... hiks ... hiks ... nangis!"
"Sayang," panggil Terra pada Lidya yang masih membenamkan kepalanya di perut ibunya yang sudah terlihat bentuknya.
Budiman tengah mengawal Darren bersama Fendi dan Jaka.
"Sayang, lihat Mama sini," ujar Terra mengurai pelukan Lidya.
Wanita itu menghapus pipi gadis kecilnya yang basah. Mengecup keningnya.
"Sekarang, udah dulu nangisnya. Ceritain ada apa dengan Nina?" tanyanya lagi.
"Nina pindah sekolah, Ma," jawab Lidya.
"Loh kan bagus, jadi tidak ada yang menyakiti Putri lagi," sahut Terra bingung.
"Ma ... jangan marah ya," pinta gadis kecil itu.
"Marah kenapa sayang. Apa selama ini Mama pernah marah sama kamu?" tanya Terra ingin tahu.
"Enggak Ma ... hiks ... tapi kalo denger cerita ini pasti Mama marah sama Iya," jelasnya sedikit merengek.
"Sayang, seburuk apa pun perbuatan kamu. Mama akan coba mengerti. Sekarang jelasin sama Mama, ada apa?"
"Kemarin, Lidya menampar Nina Ma," cicit Lidya nyaris tak terdengar.
"Sayang, lihat Mama, Nak!" pinta Terra tegas.
Haidar dan Virgou pun sudah duduk di kursi meja makan. Mereka telah memenangkan anak-anak dan mendudukkan di kursi khusus mereka.
Lidya menatap ibunya penuh keraguan. Tetapi, setiap perbuatan harus ada konsekuensinya kan? begitu pikir gadis kecil itu.
"Kemarin, Lidya menampar Nina, Ma!"
"Apa?!''
Ketiga orang dewasa terpekik tak percaya. Bagaimana bisa sosok lembut seperti Lidya mampu mengangkat tangan berbuat kasar.
"Lidya khilaf Ma. Nina meludahi Putri. Jadi secara reflek, Iya nampar Nina .. huuu ... uuu!"
Terra pun terdiam. Virgou shock sedang Haidar tercenung. Sebegitu parahnya seorang anak kasar dengan sesama temannya.
"Tapi, habis itu Lidya peluk Nina minta maaf. Putri sampai menangis karena Lidya kasar," sahutnya lagi.
"Sayang ... sini. Tidak apa-apa yang penting Iya sudah minta maaf. Lalu kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanya Terra.
"Iya nggak berani, Ma," sahutnya lirih dengan kepala tertunduk.
"Hey ... sayang, lihat Mama," Terra mengangkat dagu Lidya dengan jemarinya.
"Mama mengerti kenapa kamu berbuat itu pada Nina," sahutnya lagi.
"Makasih Ma," ungkap Lidya.
"Ya, sudah. Yuk kita makan, Daddy udah lapar nih," sahut Virgou sudah menyodorkan piringnya.
Lidya mencuci tangan. Lalu duduk. Mereka pun makan bersama.
"Yang hebat itu Putri loh Ma. Dia dijahatin sama Nina kayak apa masih aja baik," ujar Lidya setelah makanannya habis.
"Oh ya?" tanya Virgou tak percaya.
Terra membereskan piringan kotor. Lidya membantunya. Bersama Romlah dan Ani. Sedang Gina dan Wati tengah menggosok baju, Juni tengah menyusun baju-baju yang sudah disetrika.
"Iya Daddy. Iya kalah sabar sama Putri," sahut Lidya kemudian tersenyum manis.
Virgou memeluk pengobatan hatinya itu. Kadang ia tak mengerti. Ada beberapa orang yang tidak mau disembuhkan dari lukanya termasuk Nina. Padahal, setiap hati Virgou terasa sesak. Ia akan memeluk Lidya atau istrinya.
"Kamu menenangkan sayang. Walau terkadang orang mungkin memiliki caranya sendiri untuk mengobati lukanya," sahut Virgou.
"Daddy," panggil Lidya.
"Iya sayang,," sahutnya.
"Iya sayang Daddy," ungkap Lidya lalu memberi pelukan dan ciuman di pipi pria itu.
"Daddy juga sayang ... sayang ... sayang ... banget sama kamu. Sehat terus, ya. Karena Daddy tak bisa bernapas jika kamu sakit, terlebih seperti kemarin," ujar Virgou.
"Oteh Daddy. Doain Iya ya," pintanya.
"Tentu sayang. Doa terbaik untuk kamu," sahut Virgou.
"Ayo, ganti baju sekarang tidur siang. Baby!" titah Haidar.
"Siyap Papa!" sahut pada balita kompak.
"Pasukan ... maju ... jalan!" titah Rion memimpin pasukan.
"Pili ... bili ... pili panan pili. bili ... bili!"
Haidar dan Virgou terkikik geli. Mereka mengingat kericuhan ketika mengikuti Darren latihan paskibra.
"Tumben Kakak nggak sama Kak Gomesh," ujar Terra mengingat Virgou datang sendirian.
"Iya, dia sedang mengambil sertifikasi latihan menembaknya, jadi selama dua hari dia tidak bersamaku," jawab Virgou.
"Oteh lah ... karena aku sudah kenyang. Aku berangkat kerja lagi. Kau nggak kerja lagi Dar?" tanyanya kemudian.
"Nggak, tadi semuanya udah beres," Virgou mengangguk.
Pria tampan dengan sejuta pesona itu pun pamit dan memberi salam.
"Wa'alaikum salam, hati-hati Kak!'
"Siap!"
Terra menghela napas panjang. Haidar tiba-tiba menggendongnya menuju kamar.
"Mas!"
"Sssstt ... diam!"
Mereka pun bergulat di ranjang satu ronde. Tepat ketika Darren pulang. Sepasang suami istri itu baru saja membersihkan diri dari percintaan mereka.
Mata Darren menyipit ketika melihat beberapa tanda merah di dada ibunya. Pria kecil yang kini sudah beranjak remaja sudah mulai mengerti apa yang terjadi lada ibunya.
"Ma, tadi Arayya sama Theo punya tanda sama loh di dada Mama. Padahal mereka bukan suami istri," celetuk Darren.
"Itu kenapa ya, Ma?" tanyanya bingung.
Budiman yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Darren. Sedang Haidar hanya tersenyum kecut. Terra menggeleng kepala.
"Itu artinya mereka berbuat dosa. Karena hanya pasangan yang sah memiliki tanda ini hingga dada mereka. Serangga tak mampu membuat tanda sebanyak ini!" jelas Terra panjang lebar.
"Oh ... begitu," sahut Darren.
bersambung.
iya Dar .. jan tanya Othor yaaa ... othor polos.
next?