TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MALAM BARBAQUE



Hari berlalu, David dan Gisel senang, akhirnya mereka bisa juga snorkling. Bahkan Haidar juga ikut menjelajah keindahan bawah laut.


Selesai menyelam mereka naik banana boat, Darren juga ikut, kecuali Raka dan Lidya. Mereka dilarang ikut.


Namun semuanya senang dan bahagia. Karina menemani putranya yang ingin berenang di pantai.


Hari berlalu, mereka berhenti ketika senja menyambangi hari. Semburat oranye menyeruak di ufuk barat. Begitu indah, bahkan burung-burung bangau berterbangan kembali pulang ke sarang mereka yang hangat.


Semua orang menyiapkan diri untuk acara barbaque nanti malam. Setelah melaksanakan ibadah masing-masing. Para pria mulai memasang api unggun dibantu oleh penjaga villa.


Membawa tong besar untuk acara memanggang. Para wanita tengah membersihkan ikan dan daging, juga membuat bumbu.


Terra merendam ikan dalam bumbu agar meresap. Anak-anak dijaga oleh David juga Gisel. Mereka bermain di dalam villa setelah mandi.


Malam mulai beranjak. Terra memakaikan Raka, Darren, Lidya dan Rion baju hangat juga kaos kaki, agar mereka tidak masuk angin malam yang cukup dingin.


Para penjaga villa menggelar terpal dibantu oleh para pengawal. Sepuluh ekor ikan sedang dibakar di tungku.


Terra duduk sambil memangku Rion dan Lidya. Sedangkan Darren memilih menyender pada tubuh ibunya begitu juga Raka.


"Mama banyi, Ma," pinta Rion sambil menghisap dotnya.


"Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap-kelip seumpama bintang berlian. Ada sebuah lebih terang cahayanya ... itulah bintangku bintang kejora yang indah slalu ...,"


"Wagih ...," pinta Rion.


"Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkelap-kelip seumpama bintang berlian. Ada sebuah lebih terang cahayanya ... itulah bintangku bintang kejora yang indah slalu ...,"


Rion pun mengikuti lagu itu.


"Tu ladan pamit pewuh mintan pelabuhan ... peltelap pelip ....,"


Rion berhenti, Terra menyauti.


"Seumpama ...."


"Peumpana ...."


"Bintang berlian...," saut Terra lagi.


"Pintan bewan ...," Rion lagi-lagi berhenti.


"A ...,"


"Abah bebuah pelih bewat pahayaya ... pitulah pintan tu lintan, bebola lan pindah palu," saut Rion mengakhiri lagu.


Terra tertawa mendengar lagu yang diubah sedemikian rupa oleh bayinya itu.


"Mama banan petawa!" protes Rion.


"Kamu lucu sayang. Jadi Mama tertawa," ucap Terra menjelaskan.


Rion berusaha mencerna apa kata ibunya. Lalu ia pun tak lagi marah. Sedang Lidya pun ikut bernyanyi bersama Raka yang mengikuti ujungnya saja.


"Ambil tan bulan Bu. Ambil tan bulan Bu. Yan syalu belsyinal di lanit ... di lanit bulan mendelang ... cahyana pampai sebintan ... ambil tan bulan Bu, untut menemani tidultu yan lelap di malam delap ...."


Terra mencium Raka dan Lidya juga Darren. Gisel ikut masuk dalam dekapan Terra begitu juga David. Mereka ternyata ingin juga dimanja oleh kakak yang baru mereka temui.


Semua saling bercengkrama dalam kehangatan. Rion sudah tertidur dalam dekapan Terra begitu juga Lidya. Raka pun sudah terlelap dalam pelukan Karina, ibunya.


Gabe mengambil alih Lidya dan menaruhnya dalam pangkuannya. Bart menyuapi gadis itu ikan yang baru mereka bakar.


Malam pun makin larut. Api unggun telah lama padam. Bart, Kanya, Karina dan Raka sudah masuk ke villa untuk beristirahat.


Sedang Terra telah menidurkan tiga anaknya di kasur. Sedang David dan Gisel telah masuk kamarnya masing-masing. Gabe ikut bergabung dengan David juga ayah mereka. ada dua kasur susun di kamar mereka.


Terra keluar sambil merapatkan cardigannya. Melihat kakek dan dua pamannya. Leon tengah melawan Haidar bermain catur.


Haidar tersenyum miring, umpan pancingannya berhasil. Ia pun menggerakkan luncurnya.


"Skak mat!" Leon menepuk dahi.


Pria itu menyerah. Ia pun pamit undur diri untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tinggal Frans, Bart, Haidar juga Terra.


"Sebentar lagi kalian menikah. Apa rencana kalian setelah itu?" tanya Bart.


"Menjalani biduk baru," jawab Terra ringan.


"Kau sudah siap dengan segala resikonya, Te?" tanya Frans.


"Mudah-mudahan, Te, siap," jawab Terra tegas.


"Kau tahu biduk rumah tangga itu berbeda dengan biduk kehidupan sebelumnya," jelas Bart kini.


Terra mengangguk mengerti.


"Setelah menikah. Suamimu adalah penanggung jawabmu. Aku membaca di artikel Islam jika mereka yang telah berumah tangga menempatkan suami setinggi-tingginya," ujar Bart lagi.


"Itu berarti, semua keputusan mu, harus kau rundingan dengan suamimu," jelasnya lagi.


Terra pun mengangguk tanda mengerti.


"Haidar ...," panggil Bart.


"Ya, Grandpa."


"Jika nanti kau tidak mencintai Terra atau merasa terganggu dengan kehadiran ketiga anaknya. Tolong jangan kasari mereka. Kembali kan langsung padaku," ucap Bart penuh ketegasan.


Haidar tersenyum. "Saya mencintainya semampu saya dan tetap menyayangi anak-anaknya hingga kapan pun," janji pria itu.


"Baiklah, aku pegang janjimu," ucap Bart.


Sudah sepuluh menit berlalu. Bart dan Frans sudah masuk ke kamar mereka. Sedang Haidar dan Terra masih duduk di bangku bersebrangan.


Pria itu menggenggam jemari kekasihnya. Ia pandangi netra coklat terang milik Terra dengan penuh cinta.


"Aku memang tidak bisa menjanjikan kebahagian yang hakiki, karena aku hanya manusia biasa," ucap Haidar.


Terra menatapnya dengan binaran mata haru.


"Namun perlu kau tahu. Aku adalah laki-laki normal yang mungkin akan melakukan kesalahan. Ketika itu terjadi. Mau kah kamu mengingatkanku?" pinta Haidar dengan wajah memohon.


Terra mengangguk. Gadis itu juga tidak bisa menuntut kesempurnaan pria yang akan menjadi suaminya kelak. Akan banyak badai yang menghalangi kebahagiaan mereka.


"Te akan menanamkan kepercayaan penuh sama Mas. Dan Te juga minta Mas percaya penuh pada Te," saut Terra.


Haidar mengangguk. Kemudian pria itu berdiri dan meninggalkan Terra setelah mengucap salam. Tidak ada peluk atau cium. Terra melarangnya dan Haidar menghargai keputusan kekasihnya.


"Sebentar lagi, Te adalah milik, Mas Idal," begitu ucapan Terra.


Malam pun masih menggayut. Terra tengah bersimpuh di atas sajadahnya. Meminta pengampunan dari maha pencipta. Meminta kelancaran ke depannya.


Memang tidak akan mudah, karena setan tentu mengibarkan bendera perang pada pasangan yang akan menikah. Mereka harus melalui semua itu.


Maka itu, di malam ini, Terra meminta dalam sujudnya, agar Tuhan melancarkan segala urusannya.


bersambung.


Aamiin Terra ..


Rion kamu nyanyi apa Nak?


next?