TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
HEBOH



Acara aqiqah sudah selesai. Kini anak-anak tengah duduk santai. Mereka membentuk kelompok seusia mereka masing-masing. Pembicaraan mereka pun beragam. Hanya Samudera dan Benua yang ikut nimbrung kakak mereka, Rasya, Rasyid, Kaila, Dewa dan Dewi.


"Eh ... temali watu pi setolah Pacha bulis manana Pacha beuldili," ujarnya bangga.


"Ila judha sudah pisa mulis mana Ila peundili!" aku Kaila.


"Penua binta mulis pudha bon!" pinta Benua.


"Poleh, pita binta Daddy puku pulis ya," ujar Dewa.


Balita itu pun mendatangi Virgou dan meminta buku tulis. Puspita yang mengambilnya. Gomesh datang bersama istri dan dua anaknya. Keduanya langsung bergabung dengan Rasya, Rasyid, Kaila dan Dewi. Karena di sana ada Samudera dan Benua.


Dewa membawa buku dan pensil untuk menulis. Ia pun duduk dan semuanya berkeliling. Rion ikut duduk dengan mereka.


"Pewa pulis manana Pewa pulu ya," ujarnya.


Ia pun menulis Dewa. Rion yang usil lalu mengatakan jika tulisan itu salah.


"Baby, itu jadi bunyinya Dewa bukan Pewa."


Dewa mengernyit.


"Biya, manana Pewa imi Ata' Ion!" sahut balita itu yakin menulis namanya dengan benar.


"Iya, tapi dibacanya Dewa bukan Pewa," sahut Rion.


Dewa Menggaruk kepalanya. Ia yakin jika tulisannya benar sesuai dengan namanya. Dewi pun mengambil buku yang saudaranya tulis. Ia menuliskan namanya, "Dewi".


"Itu bacanya apa?" tanya Rion.


"Bewi!"


"Salah!" sahut Rion.


"Beunel!" sahut Dewi bersikeras.


"Salah, itu bacanya Dewi bukan Bewi!"


Lagi-lagi balita itu garuk-garuk kepala. Terra sampai menggeleng kepala melihat keusilan putranya. Setelah Dewa dan Dewi menulis giliran Rasya.


Lagi-lagi tulisan benar tetapi Rasya salah menyebut namanya. Begitu juga Rasyid. Buku kini di tangan Kaila. Balita itu hanya menulis Ila.


"Ila!" ia membaca benar namanya.


"Nah kalo ini baru benar," sahut Rion bertepuk tangan.


Dewa pun akhirnya menulis namanya ulang.


"Wawa!" bacanya.


Dewi juga menulis ulang namanya.


"Wiwiw!" bacanya juga.


Tinggal Rasya dan Rasyid tang bingung. Kedua balita itu memutar otak keras. Keduanya pun menulis ulang nama mereka.


"Acha!" baca Rasya pada namanya.


"Achid!" Rasyid pun. membaca namanya.


Kali ini semua benar. Rion akhirnya bertepuk tangan. Ia sangat senang jika adik-adiknya pintar dan cerdas seperti ini.


Anak-anak sudah mulai ngantuk. Kini semuanya tidur siang. Sedangkan para orang tua tengah bercengkrama. Puspita akhirnya tidak kuat karena pusing. Virgou sampai khawatir dibuatnya.


"Aku panggil Dokter ya," ujar pria beriris biru itu sendu.


Puspita mengangguk. Terra dan Khasya sangat yakin jika Puspita tengah mengandung. Padahal Virgou menyatakan dirinya sudah melakukan KB.


"Kakak KB apa?" tanya Terra.


Semua membelalakan mata. Seorang Virgou, monsternya Dougher Young begitu mencintai sang istri dan mengorbankan diri melakukan vasektomi agar istrinya tak hamil lagi.


"Kakak yakin jika sudah tidak bisa menyembur lagi?" tanya Dav vulgar.


"Kata Dokter masih bisa, tetapi hanya dua puluh persen saja," jawab pria itu tak kalah vulgar.


"Kak ... kau seorang Dougher Young. Yakin, tidak mampu menghamili Kak Ita?"


Virgou garuk-garuk kepala. Jika memang istrinya masih bisa hamil. Ia akan membuka saja ikatan itu.


"Kenapa nggak main tanggal aja sih, biar aman!" celetuk Budiman. "Atau ngeluarinjya jangan di dalam!"


Seruni yang mendengar semua itu hanya bisa bengong ia tak mengerti.


"Kalian ngobrolin apa sih?" tanyanya penasaran.


Semua menoleh padanya. Ternyata selain Terra, ada yang lebih polos lagi. Khasya tersenyum.


"Pembahasan suami istri, sayang. Nanti juga kamu ngerti kok," lanjutnya.


Seruni hanya mengerucutkan bibirnya. Semua tertawa melihatnya.


"Nanti aku ajarin itu semua sayang," ujar Dav sambil menggoda istrinya.


"Ih, genit!" ledek Seruni pada suaminya.


Semua hanya tersenyum, tak lama dokter wanita datang. Ia pun memeriksa Puspita ditemani Terra.


"Selamat ya Bunda. Anda hamil dan saya perkirakan jika usia kandungannya sudah mencapai tiga minggu," jelas dokter sambil tersenyum.


Puspita hanya termangu mendengarnya. Benar saja, bibit Dougher Young itu tak bisa dihentikan. Terra pun menemani dokter keluar kamar iparnya..


"Ini resepnya. Tolong jaga kandungannya ya," ujar dokter.


Virgou hanya duduk termenung. Benar saja, ia tak bisa menghentikan daya pancarnya. Ia pun terkekeh lalu meminta Gomesh menebus resepnya.


"Selamat Kak. Semoga aku juga cepat membawa kabar gembira," sahut Dav.


Leon dan Bart hanya ikut senang. Keturunan mereka tidak akan habis.


Sore menjelang. Rion langsung antusias ketika dikabarkan akan bertambah pasukan dari Mommynya.


Anak-anak ingin berkaroke. Benua ingin menyumbangkan suara emasnya. Lalu giliran Bomesh.


Lagu "Bunyi hujan" jadi pilihan Benua. Dengan dibantu Rion, bayi itu mengikuti pergerakan mulut sang kakak.


"Pit ... pit ... pit puni budan pi apas pentin ... bailna bulun ... bidat pelila ... bobalah penot pahan ban dantin ... bobon banlebun ... pasah bemua!"


Seruni nyaris tertawa. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami. Maria yang tengah menyiapkan penganan di ruang makan tertawa kecil. Sedang Domesh digendong oleh Terra.


Lagu selesai. Kini giliran Bomesh bernyanyi. Bayi tampan itu juga melakukan hal sama dengan Benua. Mengikuti pergerakan mulut kakaknya. Lagu "Lihat kebunku" menjadi pilihan bayi itu.


"Bihat pebuntu ... benuh penan puna ... pada ban butih ... panlada yan pelah. bebiat pali ... pulilan penua ... bawal belati ... pemuana pindah!"


Budiman tertawa. Ia ingat lagu itu yang harus mendapat marahan dari bayi yang kini sudah menginjak remaja. Bomesh sangat suka jika ada yang tertawa. Rion juga tertawa mendengar lagu itu. Kini, Bomesh pun bergoyang. Fery dan Mia yang baru melihat keseruan anak-anak juga ikut tertawa dan bertepuk tangan.


"Bihat bebuntu, lepuh beban buna ... bada yan tutih ... panlada yan belah ... beliau hali ... buliam benua ... pawal belati ... benuana mindah!".


Seruni pun tertawa mendengarnya. Ia sampai lemas. Kini ia akan membayangkan jika anak-anaknya nanti bisa bicara sebelum waktunya.


bersambung.


siap-siap aja Mama seruni ...


next?