TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
A SURPRISE



PART INI SEBENARNYA BANYAK DIALOG BAHASA INGGRIS. BERHUBUNG OTHOR MALES TRANSLATE. JADI PAKE BAHASA INDONESIA AJA YAA. HAPPY READING.


*********************


Hari sabtu. Terra sudah menjemput Kakeknya dan keluarga. Ia menyetir sendiri. Sedangkan tim pengawal ia suruh mengikuti saja.


Ada sedikit perdebatan. Meita tidak mau duduk di belakang bersama iparnya. Akhirnya, ia memesan taksi daring untuk mengangkut Meita dan suaminya. Sedang Leon dan istrinya Patricia memilih ikut dengan Terra.


"Grandpa. Aku mampir sebentar ya di perusahaan, ada yang ingin aku ambil," ucap Terra.


"Baik sayang," saut Bart.


Pria renta itu mengira cucunya bekerja di salah satu perusahaan ternama. Gadis itu menelpon seseorang yang ia tak mengerti bahasanya.


Ternyata, Terra tak perlu masuk halaman. Sekuriti memberikan apa yang gadis itu pinta. Rommy menitipkannya di sana.


"Ah, apakah Boss mu, baik?" tanya Leon.


"Boss?" tanya Terra.


"Maksud Paman, atasanmu, Te," jelas Leon lagi. "Dia tak menyuruhmu masuk. Dan menitipkannya pada seorang yang kukira itu pasti sekuriti."


Terra hanya tersenyum menanggapi perkataan pamannya, Leon. Gadis itu masih fokus pada jalan raya yang ia lalui.


"Kukira hanya kita London saja yang macet. Di sini lebih macet lagi," keluh Patricia. "Mana panas lagi!"


Butuh waktu satu jam setengah untuk sampai rumah. Gerbang dibuka. Mobil Terra masuk. Sedangkan mobil yang tadi ditumpangi oleh Frans dan Meita juga sudah sampai lima menit lebih dulu.


"Mari masuk," ajak Terra ketika sudah keluar dari mobil.


Semua menatap rumah sederhana yang halamannya nampak luas dan asri bahkan udaranya juga sejuk.


Bart hanya menatap takjub dengan suasana. Bahkan ia mendengar kicauan burung bersahutan dari ranting pohon.


"Nyaman sekali," ujarnya sambil menghirup oksigen rakus.


"Masuk lah," ajak Terra sambil membuka pintu.


Sebuah ruangan cukup besar dengan satu set sofa kulit sintetis berwarna coklat tua. Di sana bertengger sebuah lukisan abstrak dan sebuah almari kaca berisi hiasan dari keramik dan berbagai miniatur mobil dan pesawat. Sebuah lampu kristal gantung, menghias.


"Silahkan duduk, Grandpa, Uncle, Aunt," ajak Terra mempersilahkan semuanya duduk di sofa.


Semua duduk. Meita hanya tersenyum sinis. Rumah sederhana yang jauh dari kesan mewah. Terra menghidangkan tiga cangkir kopi dan dua teh carmoline juga kudapan yang ia buat sendiri.


Bart seorang pecinta kopi. Ia tahu negara yang ia datangi ini penghasil kopi terbaik di dunia. Mereka semua menyesap minuman yang tersedia.


Bart sangat menyukainya. Terra duduk di hadapan mereka semua. Gadis itu menghela napas panjang.


"Sebenarnya, Te ingin mengatakan sesuatu," ujar Te hati-hati.


Semuanya diam menunggu. Lagi-lagi Terra menghela napas. Berat ia mengatakan hal ini.


"Sebenarnya, Ayah memiliki anak lain, selain Te."


Bart mengerutkan kening. Semuanya masih belum mengerti apa ucapan gadis itu.


"Ayah memiliki tiga anak dari hasil pernikahan tidak sah," ucap Terra.


"Apa?!' teriak Bart, Frans juga Leon bersamaan.


"Jangan bercanda kamu, Terra. Keluarga Dougher Young menjunjung tinggi pernikahan. Mereka tidak akan menikah secara diam-diam atau main-main!' sergah Frans emosi.


Terra menatap dingin pria yang berdiri di depannya itu. Frans tercekat, bulu kuduknya meremang mendapat tatapan dingin seperti itu. Tatapan Ben yang marah dan begitu tajam, dimiliki oleh Terra.


"Duduklah Frans, dan kecilkan suaramu," titah Bart tenang.


Frans duduk. Terra melanjutkan perkataannya.


"Tapi, adikmu bernama Ben itu melakukannya dan telah menikah secara diam-diam selama sembilan tahun!" Terra menekan semua ucapannya dengan datar.


Meita menelan saliva kasar. Baru kali ini tangannya terasa dingin melihat aura Terra yang tiba-tiba berubah. Arogan dan dingin, sifat ala CEO terkemuka, seperti suaminya Frans.


"Hmmm ... lalu, apa yang ingin kau katakan tentang pernikahan rahasia ayahmu," ujar Bart lagi.


"Seperti yang Te katakan tadi, Ayah memiliki tiga anak dari hasil pernikahannya."


"Darren, Lidya, Rion, keluar sayang," pinta Terra dengan nada lembut.


Bart dan lainnya tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh gadis itu. Namun perubahan diri Terra membuat mereka cukup terkejut.


Baru saja mereka mendapat aura intimidasi dari gadis remaja berusia delapan belas tahun. Tiba-tiba berubah hangat dan penuh cinta laksana seorang ibu.


Tiga anak kecil keluar dengan takut-takut. Bart membelalak sempurna. Ketiganya mirip dengan Ben. Hanya Lidya yang sedikit berbeda, wajah Asianya lebih ketara.


Mereka langsung yakin jika ketiganya memang anak Ben. Mereka semua menempel pada Terra. Hanya Darren yang kini lebih berani, matanya nyalang menatap kelima orang dewasa yang ada di sana.


"Mama, mereka siapa?" tanya Darren dingin.


Memang tidak ada yang mengerti apa yang pria kecil itu katakan. Tapi, tatapan tajam menusuk juga aura dingin yang membekukan siapapun itu bisa mereka rasakan. Bahkan Bart yang malang melintang di dunia hitam, mantan ketua mafia itu bisa duduk terpaku mendapat aura sekuat itu.


Tiba-tiba Bart tertawa renyah. Pria itu tersenyum lebar mendapat ancaman besar yang siap menerjang jika ada yang berani mengusik gadis yang duduk dihadapannya ini.


"Kau punya bodyguard tangguh, ternyata," puji Bart.


"Ini Darren, delapan tahun. Ini Lidya, tiga tahun dan ini Rion, satu tahun empat bulan," ujar Terra memperkenalkan diri.


"Halo, Aku kakek kalian, namaku Bart Dougher Young," saut Bart juga memperkenalkan diri.


"Mama, Tate itu pate balasa ngiglis ya?' tanya Lidya.


Suara lucu dan menggemaskan itu, membuat Bart meleleh.


"Hi, apu Ion danteng. Belkom pu ba haus!" sapa Rion dengan percaya diri.


Bersambung.


ah ... Rion belaga bahasa Inggris.


next?