
Dengan menggunakan jet pribadi, Demian berangkat bersama Jacob, Dominic, ayahnya juga ikut. Mereka berencana membeli alat yang direkomendasikan Bart yakni chip pengaman data.
Padahal,, benda itu sudah berada banyak di pasaran. Perusahaan mereka pun memakainya. Tetapi, selalu saja bisa kecolongan, seperti yang dilakukan oleh Deborah kemarin. Ia mampu mengambil data dengan mudah padahal sudah terkunci aman.
Bahkan mereka juga ingin membeli ponsel yang digadang-gadang sangat canggih dan dirahasiakan keberadaannya.
Delapan jam perjalanan menuju negara yang masih mempertahankan pertanian sebagai lumbung negara mereka. Ketiganya tertidur di pesawat agar tak begitu melelahkan ketika sampai.
Mereka baru mendarat ketika hari sudah beranjak malam. Perusahaan tempat mereka bekerjasama memberikan fasilitas mobil dan hotel. Mereka sampai langsung disambut oleh Iskandar yang menunggu kedatangan mereka.
"Tuan Starlight!" panggil pria itu.
Kedua pria tampan itu menoleh. Iskandar memperkenalkan diri. Ketiganya mengikuti sedangkan koper-koper mereka langsung dibawa oleh para bodyguard. dua mobil mewah berada di depan mereka. Koper-koper di taruh di bagasi sebagain di taruh mobil Van satunya. Sedangkan tiga pria masuk mobil lain yang dikendarai oleh Iskandar. Mereka menuju hotel di mana mereka menginap.
Butuh waktu lima belas menit. Karena hari sudah malam. Mereka langsung di bawa masing-masing ke kamar kelas presidential suite room. Demian sangat puas dengan dekorasi kamar dan spot yang ia dapatkan.
"Selamat malam, Tuan. Selamat beristirahat," ujar Iskandar lalu mengundurkan diri.
Pagi menjelang. Kini ketiganya sudah bersiap. Mereka mengenakan jas terbaik mereka. Iskandar mengatakan jika ia sudah ada di lobby.
"Selamat pagi Tuan. Apa Tuan semua sudah sarapan?" tanya Iskandar ramah.
"Belum, kami belum sempat pesan," jawab Dominic.
"Kalau begitu mari sarapan dulu. Di sini juga ada restauran internasional, jadi Tuan bisa memesan sesuai dengan selera kalian," ajak Iskandar lalu mempersilahkan ketiga tamu kehormatan itu mengikutinya.
Hanya butuh sepuluh menit mereka berjalan. Keempat pria tampan itu duduk. Salah satu pelayan mendekati mereka memberi menu. Iskandar memesan roti sandwich, sedang Demian yang lapar memesan Risotto, Dominic memesan salad buah sedang Jacob memesan omelette dan sosis bakar.
Pesanan datang, mereka pun datang dengan lahap. Setelah meminum jus yang mereka pesan. Mereka pun lalu pergi usai Iskandar membayar makanannya.
Butuh waktu dua puluh menit. Cuaca yang panas membuat Demian sedikit mengeluh. Ia mengira cuaca segar akan ia dapatkan. Sayang, cuacanya sama saja bahkan jauh lebih panas dari negaranya.
Mereka pun sampai. Darren dan Rommy telah menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Selamat datang di perusahaan Hudoyo Group!" sambut Darren ramah.
Dominic bersalaman dengannya. Ia sedikit tahu profil pemuda tampan ini. Sosok yang sangat genius dan berbakat dalam bisnis. Usia muda mampu mengembangkan perusahaan sebesar ini.
"Saya tidak bisa apa-apa tanpa bimbingan kedua orang tua saya," jelasnya merendah ketika dipuji.
Semua mata kau hawa menyoroti para pria tampan itu. Bahkan langsung menjadi buah bibir para karyawati. Semua kasak-kusuk. Hal itu membuat Iskandar marah.
"Kembali bekerja! Ini bukan tempat rumpi!" bentaknya.
Semua pun terdiam dan melanjutkan pekerjaan mereka. Rommy hanya geleng-geleng saja. Aden pun menemaninya. Jenna juga sudah menyiapkan ruangannya.
Meeting berlangsung santai. Dominic dan Demian begitu kagum dengan kepiawaian Darren. Mereka jadi antusias untuk berkeliling mengunjungi perusahaan cyber pertama di dunia itu.
"Ibuku yang mendirikan perusahaan cyber ini. Beliau menciptakan sebuah alat yang berupa chip untuk melindungi data perusahaan," jelasnya.
Dominic terkesima dengan kinerja karyawan yang begitu cekatan. Jacob mengamati kinerja para karyawan. Ia sangat salut. Bahkan ia mendengar kabar jika pemilik perusahaan ini sangat royal pada karyawan yang berdedikasi tinggi dan loyal pada perusahaan. Dan ia juga mendengar tentang petisi yang dibuat oleh perusahaan ini untuk melawan semua bentuk korupsi.
"Aku harus katakan ini pada Boss. Biar juga ikut andil dalam salah satu petisi anti korupsi itu," gumamnya.
Ia pun membisikkan apa yang ia tahu pada atasannya. Demian pun menanyakan kebenaran berita itu.
"Benar Tuan. Kami memang mendirikan sebuah tim pengawas korupsi yang menghukum para koruptor dengan cara kami sendiri tentunya sesuai dengan undang-undang yang berlaku," jelas Darren menjawab pertanyaan Demian.
Iskandar menjelaskan syarat-syaratnya. Dominic mengangguk mengerti begitu juga Demian. Ia meminta Jacob untuk mengurus semuanya.
Ketika mereka tiba di bagian customer servis. Mereka pun dijelaskan ponsel yang mendukung dan membantu kinerja data agar bisa dipantau.
"Bagaimana dengan ponsel rahasia itu?" tanya Dominic penasaran.
"Oh BraveSmart ponsel adalah ciptaan dari Tuan Darren sendiri," jawab Berliana karyawati cantik berbakat.
Gadis itu menjelaskan secara rinci kelebihan BraveSmart ponsel.
"Dengan menggunakan ponsel ini, kita tak perlu ponsel data ini lagi. Di sini semua fiturnya lengkap jadi, semua bisa dikendalikan dalam satu ponsel saja," jelasnya lagi.
Demian langsung membeli dua ponsel canggih itu secara cash. Ia sudah tau persyaratannya. Setelah itu, Darren mengajari bagaimana menggunakan ponsel itu.
"Oh jadi seperti itu cara menggunakannya," ujar Dominic mengangguk.
Kini ia semakin yakin untuk menanamkan modal di perusahaan cyber ini. Setelah mendapati kesepakatan bisnis. Darren mengajak makan siang di rumahnya.
"Jika sudah mengenal baik Grandpa Bart. Apa Tuan sekalian tak keberatan makan siang di rumah saya?" ajak Darren.
"Sepertinya ...," Dominic melihat jam di tangan kirinya. ia menimbang-nimbang.
"Jacob ada acara apa besok?" tanya Dominic.
"Besok rapat divisi pertiga bulan, Tuan," jawab pria itu.
"Sepertinya bisa, saya ingin berkenalan langsung dengan pemilik perusahaan ini," jawab Dominic antusias.
Demian hanya mengikuti ayahnya saja. Ia satu jadwal dengan ayahnya. Darren mengajak mereka naik mobil Pajero sport merah milik ibunya. Jacob di depan. Darren yang menyusuri mereka. Demian melihat ada pergerakan mobil lain di belakang.
"Jangan khawatir itu Baba. Ah maksud saya pengawal utama yang akan mengikuti kita kemana pun," sahut Darren menjelaskan.
Demian pun lega. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai pada rumah megah dan besar. Deno membuka pintu pagar, ia melambaikan tangan ketika Darren membunyikan klaksonnya.
"Assalamualaikum!" sahut Darren memberi salam.
"Wa'alaikumussalam!" sahut Terra.
Darren mencium punggung tangan ibunya. Ia pun memperkenalkan ketiga tamunya. Budiman masuk dengan wajah datar khas pengawal. Demian seperti mengenal wanita yang tersenyum padanya.
"Mari silahkan duduk. Maaf di sini banyak anak. Kami penganut banyak anak banyak rejeki," seloroh Terra.
Mata Dominic berbinar ketika melihat anak-anak balita yang duduk manis. Dewa Dewi, Rasya, Rasyid, Samudera dan Kaila. Terra memperkenalkan mereka semua. Semua anak mencium punggung tangan para pria itu.
Dominic, Demian dan Jacob yang baru pertama kali mendapat perlakuan manis seperti itu tersenyum lebar.
Terra mempersilahkan apar tamunya duduk. Sedang ia akan menyiapkan makanan. Haidar keluar kota bersama Rion. Keduanya akan pulang malam. Sedang anak-anak juga sore nanti dijemput oleh pengawal mereka.
bersambung.
bakalan ketemu Lidya enggak yaa??
maap ya ... hari ini othor nulisnya satu bab karena mata othor bermasalah.
next?