TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GABE PACARAN? 2



"Biar saya antar kamu!" sahut Gabe.


"Hah?" Widya melongo.


"Iya, kamu saya antar pulang. Kendaraan umum sudah tidak lewat kan ke tempat kamu jam segini?" Widya spontan mengangguk.


"Ayo, tunggu apa lagi!" ajak Gabe langsung melangkah.


Widya seperti terhipnotis. Gadis itu mengekori langkah atasannya. Hingga mereka sampai depan lobby. Mobil Gabe diantar oleh petugas vallet.


"Naik!" titahnya membuka pintu mobil untuk Widya.


Gadis itu pun masuk mobil dan duduk manis. Gabe menutup pintu. Lalu menuju kursi kemudi. Setelah nyaman dan memasang sitbelt. Pria itu menoleh gadis yang duduk kaku di sebelahnya.


"Pasang sabuk pengamanmu!"


"Hah?"


"Kau jadi tuli ya sekarang!" sergah Gabe tak sabaran.


Pria itu mendekat dan memasangkan sabuk pengaman untuk Widya. Gadis itu menahan napas ketika Gabe begitu dekat dengannya.


Setelah memasang sabuk pengaman. Pria itu perlahan melajukan kendaraannya. Sepanjang perjalanan tampak tak ada suara. Gabe berkali-kali melirik gadis yang duduk dengan tegang di sana.


"Rumahmu di jalan xxx kan?" tanya Gabe memecah keheningan.


"Ah ... eh ... iya, Tuan," jawab Widya gelagapan.


Gabe sedikit menarik kedua sudut bibirnya. Ia sudah mendapat informasi banyak tentang gadis ini. Selain keunikan Widya yang membuat Gabe tertarik mengenalnya, ia juga tertarik dengan kepribadian Widya.


"Aku melihat resume milikmu, ternyata kau sudah lama bekerja di perusahaan Hudoyo Group," sahut Gabe lagi mencoba membuka obrolan.


"Iya, Tuan saya sudah dua tahun bekerja di perusahaan Hudoyo Group. Hanya saya lebih banyak di belakang meja sebelum Mba Kinar cuti melahirkan," jelasnya kemudian.


Jantung Widya berdetak lebih cepat dari biasanya. Jika ia memilki riwayat penyakit jantung mungkin sekarang ia berada di ruang ICU. Gabe hanya tersenyum mendengar bahasa formal yang dilontarkan gadis itu.


Waktu sudah menunjukan pukul 19.45.. Jalanan sedikit macet karena ada genangan air. Ternyata tadi ada hujan lokal menyerang wilayah sekitar.


Butuh waktu satu jam untuk keluar dari jebakan macet. Mobil Gabe sudah sampai di depan pagar rumah sederhana milik Widya. Gadis itu membuka sabuk pengamannya.


"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan," ungkap Widya sambil membuka pintu.


"Sama-sama. Oh ya, besok saya akan mengajak kamu makan siang di kantin. Nggak usah bawa bekal. Tunggu, saya!"


Widya hanya melongo mendengar perkataan Gabe yang panjang itu. Pria itu terkekeh pelan.


"Widya!" panggilnya.


"Ah ... iya Tuan," sahut Widya tersadar.


"Selamat malam!" pamit pria itu.


Widya pun mengangguk dan menutup pintu mobil. Setelah mobil atasannya itu menghilang dari pandangan. Gadis itu menyadari sesuatu.


"Tadi Tuan Gabe bilang apa?"


Widya lupa. Ia pun bergegas masuk dalam rumah. Di dalam sana, sang ibu sudah menunggunya untuk makan malam bersama.


Sedang Gabe yang tengah menyetir tampak menertawai dirinya sendiri. Pria itu mengusap dagunya sambil menyandarkan siku di pintu mobil. Matanya masih fokus melihat jalanan yang mulai lengang.


"Arsindhu Widya Kusmo. Usia dua puluh tiga tahun. Lulusan Akademi Akuntansi. Anak tunggal dari pasangan almarhum Adji Kusno dengan Sriani Nugraha," Gabe membeberkan informasi tentang gadis yang tadi baru saja diantar pulang.


"Masih ada gadis dengan pola kaku di jaman serba modern ini?" tanyanya bermonolog.


"Sepertinya menarik jika mengenalnya secara personal," ujarnya lagi penuh maksud.


Gabe menghela napas panjang. Pria berusia dua puluh sembilan tahun ini sebenarnya sudah ditanya ayahnya, kapan mengenalkan kekasihnya. Atau kapan memiliki hubungan yang serius dengan lawan jenis.


"Kenapa kesannya aku memanfaatkan gadis itu ya?" tanyanya tak enak hati.


Bukan maksud Gabe memiliki rencana lain untuk mengenal Widya. Tetapi, ia hanya mengikuti kata hatinya. Pria itu memang tengah mencari sandaran hati yang membuatnya nyaman.


Sosok unik Widya menarik perhatiannya. Gadis penuh kekakuan. Hobby tidak ada, warna kesukaan hitam. Makanan favorit hanya di tulis strip.


Gabe geleng-geleng kepala memikirkan gadis yang baru saja mencuri perhatiannya. Pria itu menempuh jarak sedikit jauh demi mengantarkan Widya.


Hingga ketika sampai rumah ia dalam keadaan lapar. Mengambil roti tawar. Ia akan membuat sandwich lagi. Gabe termasuk mengkonsumsi makanan sehat. Makanya tidak ada makanan instan di lemarinya.


***************


Pagi menjelang. Pria itu sudah ada di kantornya. Karena banyak berkas dan pekerjaan, ia melewati makan siang. Pria itu menyuruh Rosena membeli makanan di sebuah restoran terdekat.


Hingga sore menjelang waktu pulang. Pria itu baru mengingat janjinya. Ia menepuk kening karena melupakan makan siang dengan Widya.


Pria itu menatap meja Rosena yang sudah kosong. Ia juga lupa menegur soal arsip kemarin. Gabe melangkah lebar menuju divisi arsip Ia berharap Widya belum pulang.


Gabe menatap sosok yang baru saja keluar dari gudang arsip. Ia menarik napas lega. Pria itu mendekat. Tepat ketika gadis itu berbalik, keduanya sama-sama terkejut.


Gabe tersenyum kikuk. Widya hanya menatap heran ada urusan apa atasannya datang ke divisi yang kaku ini.


"Tuan," panggil Widya.


"Ah, aku ingin mengajakmu makan malam!" ujar Gabe langsung pada inti.


"Tapi ...."


"Tidak ada penolakan, ayo!'


Gabe langsung menarik tangan gadis itu. Tapi langsung ditahan oleh Widya.


"Tunggu, tas saya!"


Widya meraih tasnya begitu saja. Beruntung gadis itu sudah menaruh semua barang-barangnya ke dalam tas. Masih berpegangan tangan. Keduanya turun dengan lift khusus. Hingga sampai lobby.


Berpasang mata menatap tak percaya melihat pemandangan yang melintas di depan mata mereka. Sebagian karyawan ada yang belum pulang. Kini disajikan dengan pemandangan seorang CEO tengah bergandeng dengan gadis yang dijuluki 'Gadis Kertas' karena pekerjaan Widya sebagai pengawas arsip.


Divisi yang paling tidak pernah disentuh oleh atasan langsung kecuali asisten pribadi sang CEO karena pekerjaannya melibatkan arsip.


Mobil Gabe sudah di depan lobby. Seperti biasa pria itu membukakan pintu untuk Widya dan masuk ke mobil setelahnya.


Semua itu tak lepas dari pengamatan beberapa karyawan yang tersisa. Termasuk sepasang mata yang memandang penuh geram.


"Gue yang modelan kek gini dicuekin?" ujarnya penuh keki.


"Itu Gabe matanya katarak kali ya!" umpatnya kesal.


Sedang di dalam mobil kembali keheningan melanda. Telapak tangan Widya berkeringat setelah tersadar jika sepanjang turun dan memasuki mobil ia bergandengan dengan atasan tampannya itu.


Gabe juga baru menyadari setelah ia membuka pintu mobil untuk gadis itu. Pria itu berdehem untuk menetralisir suasana canggung.


"Eemm kamu suka makan apa?" tanyanya memecah keheningan.


"Saya ... saya ... makan apa saja, Tuan," jawabnya tergagap.


Jantung keduanya berdetak lebih cepat. Gabe maupun Widya masih sama-sama canggung. Pria itu memilih sebuah restoran cukup mewah.


Widya menelan saliva kasar. Ia belum pernah masuk restoran sebagus ini. Gadis itu memang terbiasa hidup sederhana. Semenjak ayahnya masih hidup. Hampir semua kebutuhannya, sang ibulah yang mengatur.


Apa yang ia pakai dan apa yang ia makan. Sriani yang memegang kendali hidup putrinya. Hingga tak salah jika Widya minim ekspresi.


Gabe kembali menggandeng tangan Widya. Gadis itu mati-matian menenangkan degup jantungnya.


Sebuah ruang VIP, mereka duduk berhadapan. Gabe memesan makanan untuk mereka berdua karena Widya bingung ingin memakan apa.


Dua porsi steak terhidang. Bau daging dan lelehan saus barbeque menyeruak dipenciuman Widya.


"Ayo makan!' titah Gabe.


Baru saja gadis itu memotong daging. Tiba-tiba dering ponsel berbunyi sangat keras. Widya dan Gabe tersentak.


"Ah ... maaf, ini ponsel saya berbunyi!" cicit Widya lalu melihat ponselnya.


Gadis itu membelalakan mata ketika melihat nama yang tertera di layar.


"Ha ... halo Ibu," ujarnya terbata.


Wajah kepanikan terlihat jelas. Gabe sedikit mengernyit.


"Kamu di mana ini sudah jam berapa!'


Sriani berteriak kencang, hingga membuat Widya menjauhkan sedikit ponsel dan memejamkan mata.


"Maaf Bu, saya ... saya sedang makan malam di luar," cicitnya.


"Pulang sekarang. Ibu tidak mau tahu!"


Sambungan terputus. Widya berdiri mematung. Gabe menegurnya.


"Widya, ada apa?"


"Maaf Tuan. Saya tidak bisa menemani anda makan malam. Saya harus pulang segera," jawab Widya langsung buru-buru pergi meninggalkan atasannya yang bingung.


"Hei kau belum makan Widya!" seru Gabe.


Tapi sosok gadis itu begitu cepat menghilang dari tempat itu. Kembali selera makan pria itu menghilang ketika menatap makanan yang terhidang. Ia memanggil pelayan untuk membawa pulang saja makanan itu.


bersambung


lah ... ada ibu aneh lagi


next?