TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ULANG TAHUN HUDOYO GROUP



Sebuah perhelatan besar digelar sebuah perusahaan. Sebuah halaman parkir sebagian disulap menjadi bazar sosial. Darren mengusung konsep down to earth. Semua para staf ahli dan staf exclusive berjualan sembako dengan harga paling murah.


Bahkan ada paket sembako gratis bagi masyarakat sekitar. Terra menjual satu karung beras berat dua puluh lima kilo seharga seratus ribu rupiah. Bahkan jika ia mau, tiba-tiba ia memberi gratis beras-beras itu. Rion yang melayani mereka. Sedang Lidya membuka klinik gratis untuk masyarakat. Ia menggandeng teman-temannya yang sudah menjadi dokter.


Acara itu tentu dijaga ketat pihak kepolisian. Banyaknya animo masyarakat membuat tempat itu penuh dengan manusia. Hanya butuh tiga jam, Semua barang dan kebutuhan pokok habis terjual dan dibagikan. Pelayanan kesehatan saja yang masih buka hingga dua hari ke depan.


Robert, Juan dan Hendra menjaga nona muda mereka. Gerak Lidya yang begitu gesit, tentu tak membuat pria-pria terlatih itu kualahan.


"Dokter Lidya!" panggil salah satu perawat.


"Aku belum Dokter loh Sus!" tegur Lidya menggeleng.


Memang semua masa didiknya sudah selesai tidak sampai setahun. Ia akan menjadi dokter ketika diwisuda tiga bulan lagi.


"Cuma belum di wisuda aja kan?" sahut perawat itu terkekeh.


"Sama aja, Sus. Keknya agak gimana gitu," ujar Lidya masih tak enak jika ada yang memanggilnya dokter.


"Lid!" gadis itu menoleh.


Seorang pria tampan mengenakan kemeja kotak dan dilapisi jas sneli. Robert memandang datar pria itu.


"Om," tegur Lidya.


Robert hanya menghela napas panjang. Namun, ia masih setia mengawasi pira yang sedikit kikuk ketika berhadapan dengan Lidya.


"Ada apa Dokter Iman," sahut Lidya.


"Selesai wisuda, aku dengar kamu diundang salah satu universitas terkemuka di Eropa ya?" tanya pria itu.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Lidya.


"Wah, hebat. Kau masih semuda ini bisa menjadi narasumber untuk topik anak-anak dan kekerasan," jawabnya penuh kebanggaan.


"Ah, itu bukan seberapa. Saya juga di sana hanya menyuarakan kegelisahan kecil saya," sahut Lidya merendah.


"Lid!"


"Ya!"


"Kamu cantik!"


Terdengar dengkusan kasar dari bibir Robert. Juan sangat kesal dengan pria ini. Karena bukan pada Lidya saja ia kedapatan pria ini mengagumi Lidya tetapi juga gadis-gadis lain. Seperti ke para perawat tadi.


Lidya terkekeh mendengar dengkusan Robert. Ia mengelus tangan pria besar itu. Robert melembut. Sore menjelang. Klinik itu pun ditutup. Semua dokter dan perawat yang bekerjasama pulang ke rumah mereka masing-masing.


Lidya langsung dibawa ke mobil. Semuanya juga sudah pulang dari tadi. Acara puncak ulang tahun perusahaan akan diadakan besok malam di sebuah hotel internasional milik Bram, kakeknya.


Semua sibuk selama dua hari ini. Bazar ditutup pada sore hari. begitu juga klinik kesehatan. Lidya memberikan sebuah souvernir yang melambangkan perusahaan milik mendiang ayahnya.


Beberapa minggu lalu, mereka semua menyambangi makam ayah dan ibu Terra. Lidya lebih suka memanggilnya ibu kedua. Karena ibu pertamanya adalah Terra.


"Kak, siapa yang kemarin mencoba godain kakak?" tanya remaja itu gusar.


"Baby ... biar saja dia godain kakak. Yang penting kakak nggak tergoda Oteh!" sahut Lidya lalu mencubit gemas hidung mancung Rion.


Remaja itu hanya mencebik saja. Lalu menggelayut manja dengannya. Lidya mengelus sayang rambut adiknya itu.


Terra yang melihat keduanya seperti mengenang sesuatu, langsung mendekati mereka perlahan. Wanita itu mencoba mencuri dengar apa yang kakak adik itu katakan.


"Kak," panggil Rion.


"Iya, Baby," sahut Lidya.


"Ketika kita ditemukan oleh Mama, apa kakak masih ingat?" tanyanya hati-hati.


Lidya mengerutkan keningnya. Jujur waktu itu ia lelah dan shock. Bayangan bagaimana ia melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Hingga ia memejamkan mata ketika mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas lalu berakhir menabrak tebing.


"Kakak nggak ingat jelas. Kakak sangat ngantuk dan kelelahan juga ketakutan, selain itu Kakak juga lapar," jawab Lidya menerawang.


"Apa hanya Kak Darren yang tahu ketika Mama datang dan membawa kita?" Lidya mengangguk.


"Baby ... ada satu hal yang sampai sekarang Kakak masih ingat dan menjadi mimpi buruk," Rion menatapnya.


"Apa Kak?" tanya Rion penasaran. Bahkan Terra yang mencuri dengar pun penasaran.


"Kakak terjaga ketika Ayah dan Mama .... eum ... maksud Kakak Tante Firsha terbelah kepalanya karena menghantam pintu mobil dan kaca," jelasnya lirih.


"Astaghfirullah, jadi Kakak masih dibayangi sama kejadian waktu itu?" pekik Rion.


"Ssshhhh ... pelankan suaramu, Baby!" tekan Lidya menutup mulut Rion dengan telunjuknya.


"Kak, itu bahaya, kak. Terlebih sekarang Kakak sudah tidur sendiri. Siapa yang menjaga kakak ketika mimpi buruk itu datang!" tekan Rion sambil berbisik dengan raut wajah khawatir.


Terra menutup mulutnya tak percaya. Gadis kecilnya ternyata masih dilanda trauma hingga detik ini. Rion memeluk tubuh kakaknya yang tiba-tiba bergetar hebat Rasa trauma Lidya kembali datang. Sungguh, gadis itu sudah mencoba berbagai cara untuk keluar dari rasa traumanya itu.


Namun, bayang-bayang kengerian masa lalu begitu tercetak jelas diingatannya. Terra tak tahan melihat penderitaan putrinya. Ia pun langsung menghampiri anak gadisnya.


"Sayang ... putriku," panggil Terra.


Lidya langsung menegakkan tubuhnya, ia berlaku tak ada apa-apa. Padahal sangat jelas ketakutan tersirat di mata gadis itu. Terra memeluk Lidya penuh kehangatan.


"Curahkan saja sayang.Jangan takut, ada Mama di sini?" bisiknya lembut.


Ternyata perkataan Lidya tadi juga dicuri dengar oleh Virgou dan Haidar. Virgou menjadi sedih bukan main. Ia juga ikut andil atas ketakutan Lidya. Entah apa yang bisa menembus kesalahannya.


"Lidya!" panggil Virgou dengan suara serak.


Lidya menatap luka yang ada di mata biru pria kesayangannya. Ia pun menangis.


"Daddy ... huuu ... uuu ... Daddy!" panggilnya.


Virgou memeluk Lidya dan mengangkatnya seperti waktu ia balita dulu. Pria besar itu juga menangis. Darren yang baru turun dari kamarnya langsung bergegas keluar menanyakan apa yang terjadi. Rion menceritakan semuanya.


Darren terduduk lemas. Pemuda itu tak menyangka jika adiknya menyimpan begitu lama ketakutannya. Beruntung anak-anak lain sudah tidur siang. Herman yang mendengar cerita Rion tentang trauma Lidya jadi jauh lebih merasa bersalah.


"Lidya!" panggil Herman parau.


Lidya menengok. Gadis itu sangat tahu luka pria tua itu. Herman juga ikut menangis di bahu Virgou.


"Apa yang harus Daddy lakukan untuk menghilangkan mimpi burukmu, sayang?" tanya pria itu dengan suara tercekat.


"Sayangi Iya, Daddy. Tanpa pamrih. Jangan tinggalin Iya!"


"Daddy sayang banget sama Iya. Bahkan jika nyawa Daddy Lidya minta sekarang juga, Daddy akan beri dengan senang hati," ujarnya.


"Lidya mencium pipi Virgou dan Herman.


"Lidya sayang sama semuanya. Tapi, nanti malam Iya mo bobo sama Mama boleh?"


"Tentu sayang," jawab Terra.


"Ion juga ah ...!"


"Darren juga!"


"Papa juga dong!"


Bersambung.


ah ... ada sedikit air mata.


next?