TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PESTA PENYAMBUTAN



"Mama ... Iya pulang Mama!" seru Lidya langsung berlari dan membuka pintu.


Gadis itu terkejut begitu banyak orang di dalam. Tulisan Belpom hom Ata' Iya terpanjang di ruang depan. Lidya menutup mulutnya tak percaya.


"Selamat datang sayang ... belpom hom," sambut Terra.


"Mama ... hiks ... hiks!"


Lidya pun langsung menghambur ke pelukan ibunya. Ia menangis haru. Terra memeluknya erat, mendaratkan ciuman bertubi-tubi. Semalam ia marah pada ayahnya.


"Kau lihat Lidya sekarang Ayah ... gadis kecil yang dulu begitu ketakutan, bahkan ia hanya memintamu memanggilnya, Nak!" serunya di loteng.


Terra tergugu, menghapus kasar air matanya, pada malam itu.


"Dia Lidya Ayah! Lidya ... gadis kecil yang hanya kau tatap sekilas, bahkan kemarin ia masih berada dalam traumanya!" teriaknya lagi sambil tersedu.


"Sekarang lihat Lidya Ayah! Lihat gadis kecil itu. huuu .. uuu!!" Terra sesengukan.


"Dia menjadi gadis terkuat yang pernah ada di muka bumi ini! Dia memiliki kekuatan hati yang tak ada satu pun menandingi!" teriaknya lagi.


Darren, Rion, Haidar, Herman dan Virgou menangis melihat Terra seperti itu. Ia tahu betapa kesalnya wanita itu pada sosok yang ia panggil ayah itu.


Herman tak kuasa. Ia langsung memeluk Terra.


"Sudah cukup, Nak ... cukup!"


"Tidak Ayah! Tidak!" pekik Terra.


"Ayah juga merasa bersalah jika kau begitu, Nak!" sentak Herman menangis.


Terra memeluk pria itu. Virgou pun juga mendatangi Terra dan Herman. Pria itu juga ikut andil atas derita yang Lidya alami dulu.


"Ambil hikmahnya sayang ... ambil hikmahnya. Dengan begitu Lidya menjadi sosok yang. kuat seperti katamu. Memang masa lalunya begitu kelam, tapi justru itu lah yang membentuk Lidya menjadi seperti sekarang ini," tutur Virgou dengan suara serak.


"Mama ... Iya kangen, Ma!' ungkap gadis bertubuh mungil itu.


Terra tersadar. Lagi-lagi ia menciumi wajah anak gadisnya.


"Mama juga kangen banget sayang," cicit Terra lirih.


"Lidya!" panggil Raka.


"Tata Lata!" seloroh Lidya.


Raka terkekeh sambil merentangkan tangannya. Gadis itu langsung memeluk kakaknya itu.


"Lihat ini, sebentar lagi kamu jadi Tante," ujarnya sambil memamerkan perut Mila yang membuncit.


"Ah ... another Baby?" Mila mengangguk. Ia pun memeluk dan mencium Lidya.


Kanya dan Bram merentangkan tangannya. Sepasang suami istri yang sudah lanjut usia itu tersenyum penuh keharuan. Gadis itu mendatangi kakek dan Omanya. Bram memeluk Lidya dan menciumnya begitu juga Kanya.


Semua sudah mencium dan memeluk gadis itu. Kini, Lidya membagikan semua buah tangan untuk semuanya tak ada yang tertinggal.


Lidya yang lapar dan lelah di suapi Terra. Darren memanjakan adiknya, ia memijit kaki gadis itu. Sedangkan Rion bergelayut manja pada kakak perempuannya itu. Bahkan ia juga minta disuapi Terra.


"Mama Ion juga lelah, mau disuapin juga.""


"Darren juga Ma," pinta pemuda itu tak mau ketinggalan.


Usai makan tiba-tiba Seruni berdiri, semua memandangnya. Bahkan Dav tak tahu apa yang diinginkan istrinya.


"Maaf, saya hanya ingin memberikan hadiah untuk suami saya," ujarnya lalu memberikan kotak kecil.


"Sayang, aku ulang tahunnya masih lama," ujarnya sambil menerima hadiah itu.


"Terima kasih ya," Dav mengantonginya.


"Buka sekarang!" rengek Seruni.


Dav makin bingung. Herman memutar mata malas. Ia langsung tahu apa itu. Ia berdoa semoga berita bahagia kembali diperdengarkan.


Dav membuka kotaknya. Ia terkejut ketika melihat benda pipih dengan dua garis merah. Ia menatap istrinya tak percaya. Seruni mengangguk. Lalu ia mengambil tas dan memberikan satu surat lab Jiak ia positif hamil.


Seruni mengangguk yakin.


"Aku hamil tiga minggu, Mas!' serunya bahagia.


"Alhamdulillah yaa Allah!" sahut Dav bahagia ia pun memeluk istrinya erat, tapi ketika ia hendak mencium bibir Seruni, wanita itu menahannya.


"Sayang!" protesnya sambil melirik sekitar.


Dav tertawa. Semua pun bahagia, akan bertambah lagi personil pasukan Rion.


"Besok, Ion mau bikin daftar absensi ah ... biar tahu siapa-siapa namanya!" celetuk remaja itu.


Semuanya pun tertawa mendengar celetukan bayi besar itu. Anak-anak pun bergembira. Mila yang baru bergabung sampai lemas tertawa mendengar anak-anak yang bernyanyi.


"Bomesh bawu manyi!' pinta bayi itu.


Lagu pelangi-pelangi menjadi pilihannya. Musik pun mulai bayi itu menggoyangkan pinggulnya.


"Belani-belani ... balantah pindahmu ... belah, punin, pijo pilanit pan libu ... pelutismu adun ... spasa belenan ... belani pelani ... picaan Tuhan."


Semua bertepuk tangan meriah. Mila sampai terduduk lemas karena kebanyakan tertawa. Zhein jadi tahu kenapa mereka semua begitu seru. Ia pun membiarkan putri bungsunya Zheinra ikut bergabung dan bernyanyi.


"Lala pawu judha!" seru balita itu.


"Mau nyanyi apa Baby?" tanya Dav yang menjadi pemandu karaoke lalu menciumi pipi gembul balita cantik itu.


Zheinra tampak berpikir keras. Ia pun ingin bernyanyi Bintang kejora. Lagu diputar, musik pun mulai.


"Tu pandan lanit penuh pintan beultabulan ... beltelap-telip, peumpama pintan pelyan ... ada sebuah pebih telan cahayana ... ipulah pintan tu pinta belola yan indah salu. "


Semua bertepuk tangan. Mereka pun bergembira mendengar suara indah Zheinra. balita itu senang sekali. Lidya yang kelelahan tampak tertidur di sofa. Darren mengangkatnya. Khasya membukakan pintu kamar gadis itu.


Sementara itu di benua lain di tempat yang dingin dan sepi. Sosok gadis cantik dengan busana tahanan menangis. Ia menyesal telah berbuat rendah. Menuruti kekasihnya Jordhan Nothon, ia mau diperalat untuk menghancurkan perusahaan Demian.


"Nona Vox, silahkan keluar. Anda dibebaskan bersyarat," ujar kepala sipir penjara.


Gadis itu pun tersenyum. Ia keluar dari sel yang sudah dihuninya selama satu minggu. Gadis itu menandatangani beberpa berkas, ia kembali memakai dress yang ia pakai ketika datang ke hotel di mana ia memadu kasih dengan Jordhan.


Sepasang suami istri menatapnya dengan tatapan kecewa, Tetapi biar bagaimanapun Deborah adalah putrinya. Jordhan tak bisa bebas bersyarat bukti pria itu begitu kuat. Bahkan ia berhubungan dengan mafia. Makanya keluarganya tak bisa membayar uang tebusan karena memang tidak ada dan Demian juga meminta harga tinggi.


"Dad, Mom ... i'm sorry," pintanya sungguh-sungguh.


George memeluk putrinya.


"Maaf sayang. Kau memang keluar dari penjara ini. Tapi, Daddy akan mengirimmu ke Amerika dan tinggal bersama bibimu di sana," ujar pria itu.


Deborah mengangguk ia menerima apa pun. Setelah kelakuannya kemarin ia beruntung tidak langsung dibunuh Demian. Ia sadar diri. Mestinya ia mencampakkan Jordhan ketika Demian mau menerimanya sebagai kekasih. Tetapi gadis itu malah membuat kesalahan fatal.


Sandiwaranya untuk membantu dan membuktikan cintanya pada Jordhan, membuatnya menjadi pesakitan selama satu minggu. Itu sudah cukup menyiksanya.


"Aku akan menurut kata-kata mu Dad," ujarnya pasrah.


"Untuk dua bulan ke depan jangan ke mana-mana. Kau harus memberi laporan kepolisian," ujar ibunya dengan suara tercekat.


"Iya Mom ... aku mengerti," ujar gadis itu.


Mereka pun pulang ke mansion mereka. Sedang di apartemen Jacob telah melaporkan semuanya pada atasannya.


"Terima kasih Jacob. Kau boleh pulang dan istirahat lah!" titah Demian.


Jacob membungkukkan badannya, hormat. Pria itu pun meninggalkan Demian seorang diri. Pria itu berjalan menatap kaca besar di sana. Ia melihat jalanan ibukota yang masih ramai, padahal hari telah menjelang malam hari. Sebuah senyum dari wajah cantik terlukis di antara lalu lalang kendaraan yang terlihat kecil di mana pria itu berdiri.


"Hai gadis ... apa kabarmu .. hati ini rindu."


bersambung.


Awokwokwok! 😍😍😍😍


next?