TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERGANTIAN CEO



Hari begitu cepat berlalu. Kini usia Darren sudah delapan belas tahun. Rapat saham segera di mulai. Gabriel akan menyerahkan pucuk pimpinan pada remaja yang mestinya adiknya itu.


Sebenarnya Haidar tak begitu setuju atas pemindahan tangguk pimpinan pada Darren. Remaja itu akan menghabiskan waktunya untuk mengembangkan perusahaan.


"Sayang, tak bisa kah Gabe saja yang memegang perusahaan?" tanya Haidar.


"Te, inginnya gitu, Mas. Tapi, Daddy Frans dan Daddy Leon sudah kewalahan walau ada David yang sudah membantu mereka," jawab Terra dengan nada menyesal.


"Aku nggak tega melihat putra ku harus botak kepalanya gara-gara mikirin perusahaan. Usianya masih ingin bermain dan merasakan cinta pertama," ujar Haidar penuh kekhawatiran.


"Kita serahkan saja ya, Mas. Toh, Darren juga membuktikan jika selama ini dia bisa bekerja dengan baik," ujar Terra menenangkan.


Haidar hanya menghela napas panjang. Ia pun tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia juga tengah menunggu salah satu putranya memimpin perusahaan. Tujuannya jatuh pada Rion nanti. Pria itu akan menyiapkan bocah itu sebagai penggantinya kelak.


Rapat saham dimulai. Sebagai pemilik saham, Terra, Haidar, Sofyan dan Virgou berkumpul ternyata Virgou lah pemilik saham dua belas persen. Iskandar melaporkan neraca keuangan dan grafik pergerakan saham yang stabil. Bahkan ada beberapa investor yang berlomba-lomba menanam saham mereka.


Proyek Ocean Internet pun sudah mencapai enam puluh persen. Banyak kapal pesiar dan beberapa yatch pribadi membeli titik poin internet. Semua investor dan penanam saham begitu antusias dengan keuntungan yang mereka dapatkan.


"Hari ini adalah hari terakhir saya bertugas sebagai CEO di perusahaan Hudoyo Group. Dengan ini saya serahkan tampuk pimpinan pada Tuan Darren Putra Hugrid Dougher Young sebagai pengganti saya," ujar Gabe dengan tenang dan tegas.


Darren berkaca-kaca. Sebuah map sebagai simbolis pergantian jabatan. Gabe menyerahkan dan Darren menerima map itu. Semua kamera mengabadikan momen tersebut. Semua berdiri bertepuk tangan dengan meriah.


Gabe memeluk Darren, memberinya kekuatan.


"Kau pasti bisa melakukannya," ujar Gabe.


"Doakan aku, Dad," pinta Darren serak.


Terra terharu. Ia merasa baru kemarin membawa Darren ketika berusia delapan tahun. Meruntuhkan rumor ketika Herman terpuruk dan membantah jika ia akan melakukan sesuatu untuk pamannya dahulu.


Darren memang Terra siapkan sebagai penggantinya. Anak-anak butuh dirinya sebagai ibu di rumah. Darren bahkan masih suka bermanja.


"Terra, apa kabar Nak?" tanya Sofyan.


Pria itu memeluk Terra penuh kerinduan. Keduanya memang jarang bertemu, terlebih Sofyan lebih memilih tinggal di desa dekat makam istrinya. Ia hidup secara sederhana di sana.


"Alhamdulillah baik Om. Om gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, sudah tua," selorohnya.


Terra dan Haidar terkekeh. Sofyan juga memeluk suami mantan kliennya itu. Kini Terra dan perusahaan memakai firma pria itu untuk membantu mereka ketika menghadapi masalah hukum. Sofyan sudah dua tahun lalu pensiun.


Virgou mendatangi pria itu. Lalu mereka berjabat tangan.


"Aku tak percaya, kau bisa berubah 180°," ungkap Sofyan tak percaya.


"Well aku sudah berubah, Tuan," sahut Virgou tenang.


"Ya, semua orang berhak menata hidupnya lebih baik lagi," ujar Sofyan berpendapat.


Semua peserta rapat sudah pergi ke perusahaan mereka. Begitu juga para investor dan kolega. Semuanya puas dengan hasil yang mereka terima.


Terra mengajak makan siang di kantin. Sofyan, Gabe, Virgou, Haidar dan Darren ikut, begitu juga, Rommy, Aden, Jhenna dan Iskandar.


"Jadi kalian kapok tak mencari sekretaris lagi?" tanya Sofyan terkekeh ketika mendengar cerita tentang Alya.


"Nggak, Pa. Aku trauma," jawab Rommy ngeri.


"Nah, Iskandar. Aku harap kau tak ketularan kegilaan atasanmu," ujar Sofyan sambil terkekeh.


"Dia sudah gila sebelum bekerja di sini, Om," timpal Aden.


Aden mengangguk membenarkan.


"Padahal saya sudah mengusulkan via sambungan telepon atau video call," sahutnya.


"Nggak seru kalo nggak denger langsung, Om," jelas Terra. "Lagi pula kapan lagi Te ditraktir soto sama wakil direktur perusahaan ini."


Semua hanya menggeleng. Haidar sampai kesal mendengar cerita itu bahkan juga Virgou. Ingin menghukum wanita yang kini tengah santai meminum jus alpukatnya.


"Lalu apa rasanya kau menampar wanita itu, Jhenna?" tanya Sofyan sambil terkekeh.


"Puas banget Om. Kesel liat tampangnya yang sok cantik itu!" jawab Jhenna penuh kepuasan.


Semua pun tertawa lirih.


"Jadi, kapan kau akan kembali ke Eropa, Gabe?" tanya Sofyan berganti topik.


"Rencananya minggu ini, Om," jawab Gabe.


"Sudah kau urus kepindahanmu, kau membawa istri dan anak sekarang."


"Sudah. Daddy sudah mengurus kewarganegaraan Widya dan Gabriela," jawab Gabe sedikit sedih.


"Ibu tetap nggak mau ikut ya Kak?" tanya Terra.


"Nggak, kata beliau, makam suaminya ada di sini. Ia tak bisa sewaktu-waktu pergi ke makam jika merindukan mendiang Ayah," jelas Gabe sendu.


"Ya, sudah tidak apa-apa. Sesekali kau bisa mengajaknya untuk berlibur di Eropa, kan?" terang Virgou menenangkan.


Semua mengangguk. Darren hanya diam saja mendengarkan dari tadi. Sofyan mengelus kepala remaja itu. Ia sangat ingat ketika pertama kali bertemu dengan Darren. Pria kecil dengan mata penuh ketakutan. Tubuhnya kurus dan ringkih bahkan ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya dulu.


"Kamu makin tampan sekarang. Jadi siapa pacarmu?" tanya Sofyan .


Darren memutar mata malas. Menatap sosok yang juga diam saja. Budiman menatapnya datar. Budiman bahkan tahu pergerakan Terra dengan motor trail. Dia lah yang mengadu pada Haidar dan Virgou kelakuan adik iparnya itu.


"Hei kau tau Terra yang memberitahuku tentang kau membawa lari motor ku bukan karena ponsel pintar ciptaan Darren," sahut Virgou tiba-tiba.


Budiman membelalakkan matanya. Terra langsung melihatnya. Wanita itu mengerucutkan bibirnya.


"Kakak jahat!"


"Apa kau bilang?" tanya Virgou, Haidar dan Gabe bersamaan.


Terra manyun. Sofyan tertawa terbahak-bahak. Aden, Rommy dan Jhenna bersorak senang. Akhirnya ada juga yang memarahi atasannya yang badung itu.


"Aku kira boss nggak ada yang bisa memarahi," celetuk Jhenna.


"Ah, jangan salah. Mereka bertiga eh berempat ini galak semua," sahut Terra menunjuk suaminya, Virgou, Gabe dan Budiman.


Aden terkekeh. Rommy menyukuri, Jhenna bertepuk tangan.


"Hei itu makanan sudah datang. Ayo kita makan," ujar Sofyan. "Om yang bayar semuanya."


Semua bersorak senang. Mereka makan dengan lahap makanan gratis itu. Bahkan Haidar dan Virgou sampai nambah satu porsi lagi.


Bersambung ...


bahagianya ...


next?