
Hari ini adalah hari sabtu. Anak-anak masih belum pulang sekolah. Rasya dan Rasyid tengah menganggu para pengawal.
"Om Bobet, Om Pendla!" panggil Rasya.
"Iya Tuan Baby!' sahut keduanya.
"Ipu Om Dagung pama Om Bulyo matain?" tanya Rasya.
Robert yang melihat rekan Agung dan Suryo tengah mengecek cctv dan memonitor ke ruang panel di paviliun melalui HT.
"Oh, kamera itu sedikit bermasalah, sedang diperbaiki. Sekarang, Om Agung lagi nanya ke ruang panel untuk mengetahui bekerja atau tidaknya kamera," jawab Robert panjang lebar.
"Oh, bedithu," sahut Rasya sok tahu.
Robert gemas dan mencium pipi merah batita yang baru berusia dua setengah tahun itu. Sedang Rasyid ingin mencoba berbicara menggunakan HT.
Agung memangku Rasyid, memegang benda besar itu yang tentu saja tak muat, hingga Agung membantunya.
"Balo ... bet bomitol ... luan zyatu ... pet ...banti!"
"Ya di sini ruang satu tengah memonitor ada kah masalah di sana gitu ganti!' sahut seseorang.
Orang di ruang panel tentu tahu siapa yang berbicara. Kedua anak kembar yang memang selalu usil dan mericuhi pekerjaan mereka. Tidak ada yang marah, justru semua senang dengan keberanian dan kecerdasan dua jagoan kembar itu.
"Pacha mau judha!' Robert menggendongnya dan menyerahkan HT.
Pria itu membantunya memegang benda besar itu.
"cet ... ponitol cet ... patu ... patu cet!" sahut Rasyid.
"Monitor cek satu. Ada masalah Tuan Baby?" tanya petugas panel di HT.
"Bonitol patu wowos ... cet!"
"Diterima monitor satu lolos, cek!"
Rasya dan Rasyid kesenangan. Kini, kakak-kakaknya pulang. Dimas, Affhan dan Maisya datang mengucap salam. Kedua kembar itu meminta pengawalnya untuk membawa mereka ke ruang depan di mana kakak mereka datang.
"Wawitum palam!" sahut Rasya dan Rasyid berbarengan.
Robert dan Agung menurunkan dua jagoan itu yang berada dalam gendongan kedua pria itu. Ibu mereka tengah ada di dapur dan baru menyambangi.
"Wa'alaikumussalam anak-anak Mama," sambut Terra dengan rasa bahagia .
Robert dan Agung dicium punggung tangannya oleh ketiga anak balita itu baru ke ibu mereka. Kedua pria dewasa itu pun kembali ke area belakang untuk memonitor lokasi kembali.
"Kita ganti baju yuk!" ajak Terra.
Kelima anak itu saling bergandengan menaiki tangga Rasya dan Rasyid menghitungnya.
"Patu ... puwa ... pida ... pempat ... bima ... penam ... bujuh ... pelapan ... bembilan ...."
Karena terlalu banyak anak tangga yang dinaiki, Rasya dan Rasyid pun kelelahan.
"Kok berhenti berhitungnya?" tanya Terra.
"Banat, Ma ..." keluh keduanya.
Terra terkekeh mendengarnya. Kini kelimanya melihat tiga kakak mereka diganti bajunya oleh sang ibu.
"Mama, tadi, Affhan dapet bintang loh!" sahut balita itu bangga.
"Wah, anak Mama pinter sekali," puji Terra.
"Maisya juga dapet, Ma!"
"Dimas juga!" sahut Dinas dan Maisya tak mau kalah.
"Pokoknya anak-anak Mama hebat semua!" puji Terra bangga.
Setelah ganti baju. Kelimanya pun turun bersama ibunya. Rasya dan Rasyid tidak lagi menghitung tangga. Terra mengawasi mereka agar turun hati-hati. Hingga tinggal tiga tangga lagi. Tiba-tiba Rasyid melompat. Terra berteriak kencang.
"Rasyid!"
Brug! Rasyid terjatuh bertepatan dengan Juan yang sedang masuk untuk bergantian berpatroli.
"Sayang, itu tadi masih tinggi!" peringat Juan pada bayi yang menangis.
"Mana yang sakit Baby?" tanya Juan khawatir.
Terra yang telah menurunkan anak-anak dari tangga, langsung mendatangi Rasyid yang digendong oleh Juan.
"Baby," Rasyid langsung merentangkan tangannya berpindah pelukan pada Ibunya.
Juan langsung menyerahkan bayi montok nan lincah itu pada Terra. Lalu beralih kepada empat anak lain yang kini tengah mengerumuni Terra.
"Kebelakang gangguin Om Agung, Om Hendra dan Om Robert yuk," ajak Juan yang langsung diangguki oleh empat anak itu.
"Baby, mana yang sakit Nak?" tanya Terra.
"Batat achid atit, Mama ... hiks ... hiks!"
Memang tadi Rasyid melompat dan jatuh terduduk di ujung tangga. Ia beruntung Juan langsung mengambilnya, jika tidak, maka Rasyid akan terguling ke bawah.
"Lain kali jangan lompat ya, Baby," saran Terra memperingati.
Bayi itu mengangguk. Ia ingin kebelakang bermain bersama yang lainnya. Terra pun membawanya. Tak lama Rasyid pun sudah bermain bersama saudaranya.
Terra hanya menghela napas berat. Rion dalam versi kecil tercetak kembali. Kini ada lima dengan usia yang berbeda.
"Ah, babyku itu memang mencetak regenerasinya dengan baik," keluhnya.
Tak lama, kedelapan anak yang lebih besar pun pulang. Terra makin lemas. Kedelapan ini jauh lebih berbahaya. Karena mereka adalah cetakan Rion yang pertama.
"Mama," panggil mereka dengan senyuman usil.
"Ya Baby," sahut Terra.
"Nai tadi digodain cowo," adu Kean.
"Siapa cowok yang berani godain Nai?" tanya Terra gusar.
"Nggak apa-apa, yang penting cowoknya ganteng," sahut Sean.
"Apa!" seru Terra tak percaya.
"Ih, Mama, dia juga anak orang kaya," sahut Al kini sambil mengangguk.
"A ... apa!" Terra benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya, Ma. Nggak apa-apa kalo yang godain saudara sendiri," celetuk Arimbi kini. "Daud yang godain Nai, tadi!"
Daud, dan Cal terkikik geli. Yang lainnya pun sudah mulai tersenyum lebar. Terra langsung sadar jika ia baru saja dikerjai anak-anaknya.
"Oh, ternyata kalian harus Mama hukum ya!" Terra langsung menyerang anak-anak usil itu dengan gelitikannya.
Semua anak tertawa. Mereka tidak berlari malah ikut menyerang ibu mereka. Delapan anak minta diciumi perutnya oleh Terra. Semuanya pun tergelak.
Setelah mengusili ibu mereka. Kini semuanya berganti baju di kamar. Terra begitu terhibur. Ia memasak makanan enak untuk semuanya hari ini.
Menjelang makan siang, Rion dan Lidya pulang bersamaan. Lidya yang sudah mengambil kelas akselerasi kini mulai terlihat kelelahan.
"Sayang," panggil Terra.
Lidya langsung memeluk ibunya dan meminta ciuman.
"Mama, minta cium."
Dengan senang hati Terra mengecup kening anak gadisnya itu. Lelah Lidya langsung hilang. Wajahnya kembali ceria. Rion juga mau diperlakukan sama dengan kakak perempuannya. Terra pun tak keberatan.
Kini semuanya sudah di meja makan. Gio, Juan dan Hendra ikut makan siang bersama kliennya. Terkadang mereka bergantian makan satu meja. Terra tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Usai makan siang, mereka main sebentar lalu semuanya pun naik ke kamar untuk tidur siang.
bersambung.
anak-anak usil!
next?