
Terra sudah berada di sebuah firma yang didirikan oleh Sofyan. Pria kelahiran lima puluh tahun yang lalu itu adalah seorang pengacara ternama, banyak orang-orang penting yang menjadi kliennya.
Seorang yang jujur dan penuh dedikasi. Pria ini cukup vokal dalam menuntas habis para oknum jaksa, maupun pengacara juga para petinggi hukum yang terlibat kasus suap dan money politik.
Kini Terra, Haidar dan Budiman ada di dalam ruangan kantor Sofyan. Anak-anak tidak jadi ikut. Lidya beralasan jika anak-anaknya yaitu boneka-bonekanya itu sedang rewel tidak mau ditinggal.
Sedang Darren akan naik sabuk. Pria kecil itu mengikuti pelatihan bela diri pencak silat. Ia memutuskan untuk lebih kuat demi melindungi ibu juga dua adiknya. Sedang Rion. Balita montok itu juga tidak mau ikut. Ia asik merusuh mainan, Lidya.
"Begitu Om kejadiannya," ujar Terra setelah menjelaskan kronologi kejadian.
"Apa kalian sudah lapor polisi?" tanya Sofyan kemudian.
Terra menggeleng. Sofyan menghela napasnya.
"Sugeng sudah berpisah dengan Fatma ketika mereka berdua keluar dari penjara satu bulan lalu. Fatma kembali lagi bermasalah dengan hukum dua minggu yang lalu karena kedapatan mengutil di mini market," jelas Sofyan.
"Mestinya kalian lapor polisi dengan bukti-bukti yang ada. Terlebih surat ancaman dan teror bangkai anak kucing. Itu sudah meresahkan" saut Sofyan lagi.
"Tapi, alat Darren tidak kuat dasar hukum, Om. Kami sama saja menyadap obyek vital negara tanpa ijin," jelas Terra dengan wajah frustasi.
Lagi-lagi Sofyan menghela nafas. Ia yang menjadi payung hukum atas semua proyek yang dikerjakan Terra juga cukup kesulitan untuk melegalkan BraveSmart ponsel milik Darren itu. Karena berupa proyek rahasia dan menyangkut nyaris semua fasilitas dan objek vital yang dilindungi hukumnya. Sebagai Tim kuasa Terra, pria itu masih menyusun berkas untuk bisa melancarkan status hukum ponsel fenomenal milik Darren itu.
"Makanya Terra bermaksud untuk melakukan penyelidikan ini, dan memberi bukti jika ponsel ini sangat berguna bagi pihak penyidik," jelas Terra lagi.
"Kita harus kerja sama dengan pihak intelijen atau siapa pun yang bisa melindungi kamu dari jerat hukum nantinya," usul Sofyan.
"Kalau dengan Kanit Reskrim AKP Agus bagaimana?" tanya Terra.
"Coba kita tanyakan. Om rasa AKP Agus juga bukan orang sembarangan," ujar Sofyan.
Terra memegang ponsel ciptaan putranya. Mengamati pergerakan sosok yang kini tengah melakukan aktivitas sebagai petugas kebersihan kota. Karena melihat aktivitasnya tidak mencurigakan ia pun memasukkan kembali ponsel itu ke dalam ranselnya.
Sofyan telah menghubungi AKP Agus. Pihak mereka mau melakukan kerja sama. Bahkan AKP Agus akan memberikan surat rekomendasi kepada menteri pertahanan negara, untuk memudahkan kerja sama ini.
Karena semua bersifat rahasia. Semua disumpah terlebih dahulu untuk menjaga kerahasiaan proyek yang sedang mereka uji.
Di sebuah komplek perumahan, para petugas kebersihan sedang mengambil sampah di masing-masing rumah. Mereka bekerja dengan giat dan bersih juga cekatan, agar tidak terlalu mengganggu akibat bau busuk sampah yang mereka bawa.
Pluk!
Sesuatu jatuh dari dalam plastik. Petugas kebersihan terus melakukan tugas mereka hingga selesai dan kemudian pindah ke blok lain.
Terra, Haidar dan Budiman kini berangkat ke kantor polisi di mana AKP Agus bertugas. Membawa berkas yang diperlukan. AKP Agus membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia dengan dikawal beberapa petugas berpakaian hitam-hitam dan memakai topeng.
Terra sedikit gelisah. Perasaannya tidak enak sejak tadi. Ia tidak fokus dengan tujuan mereka. Cukup lama menuai kesepakatan bahkan pihak pertahanan negara menantang Terra untuk membuktikan kecanggihan alatnya.
Terra pun membuktikan. Ia mengamati pergerakan orang-orang yang ada di dalam rumah menteri pertahanan. Setelah dibuktikan kebenarannya. Barulah, proses itu naik ke meja presiden sebagai panglima tertinggi negara.
Presiden juga menyampaikan kesediaannya. Walau secara rahasia. Mereka menggunakan sandi morse yang orang-orang sudah jarang malah lupa memakainya. Terra menghapus semua rekam jejak baik telepon, juga pesan singkat yang terjadi hari ini.
Lagi-lagi menteri pertahanan negara memuji kecerdasan alat Terra. Ia pun memberi persetujuan dan kartu hijau agar semua penyidikan kasus yang sedang gadis itu alami selesai tanpa gangguan apapun.
Terra bernafas lega. Jika semuanya beres, maka pengesahan hukum atas BraveSmart ponsel dapat diperoleh secepatnya.
Mereka pun pulang dengan nafas lega. Ketika baru sampai dan menginjakkan kakinya. Mereka disambut oleh Darren.
"Assalamualaikum, sayang. Di mana adik-adik mu?" tanya Terra.
"Wa'alaikum salam. Sedang main di taman belakang sama Bik Romlah, Ma," jelas Darren.
"Mama tolon ada ulan!" teriak Lidya.
Terra, Budiman dan Haidar langsung melesat ke arah belakang. Mereka nyaris bertabrakan saat masuk pintu.
Terra melihat Lidya sudah jatuh terduduk. Seekor ular kobra sudah menaikan tubuhnya mengincar Lidya. Terra berlari dan melompat untuk melindungi putrinya agar tidak terpatuk, begitu juga Haidar.
Gerakan Budiman jauh lebih cepat dari mereka berdua. Hingga.
Crap!
"Argh!' Budiman terpatuk.
Terra menatap Lidya yang duduk mematung. Sedang Haidar langsung membunuh ular itu dan melemparnya keluar pagar halaman belakang. Budiman langsung melakukan pertolongan pertama. Pria itu segera berlari.
Terra tidak peduli dengan yang lain. Gadis itu menatap Lidya yang memandang kosong.
"Sayang ... ini Mama, Nak!" Lidya masih diam.
"Sayang ... huuu .. uuu!"
"Ma ...," Darren memanggil Mamanya.
Terra memeriksa tubuh putrinya tak ada luka satu pun. Namun, pandangan Lidya masih kosong. Terra meraung menjeritkan nama putrinya.
Namun Lidya masih diam. Seakan dirinya tidak ada di sini. Lidya berada jauh. Terra mengguncang tubuh putrinya. Wajah Lidya tiba-tiba memucat. Terra panik.
"Kita bawa dia ke rumah sakit!" ajak Haidar dengan hati mulai sakit teriris melihat gadis kecil kesayangannya seperti patung.
Terra menggendong Lidya.
"Rion mana Rion!" teriak Terra.
"Mama," saut Rion.
"Mas, tolong gendong Rion," pinta Terra.
Haidar langsung mengangkat balita gempal tersebut. Budiman sudah membuang racun di tangannya. Bahkan rekannya Dahlan telah menyuntikkannya anti racun.
"Kita bawa Lidya ke rumah sakit. Tolong kalian sisiri rumah ini, cari sarang ular' atau hewan melata berbahaya lainnya!" titah Haidar dengan wajah tegang.
Budiman menyetir, semua tegang membawa Lidya yang tetap diam dengan pandangan kosong. Terra terus menangis.
Sampai rumah sakit, dokter Abraham sudah menyambut mereka. Ia begitu terkejut melihat kondisi gadis kecil yang dulu ia kenal sangat ceria dan penuh kehangatan.
Lidya berwajah pucat dengan nafas satu-satu. Terra menjelaskan kronologi kejadiannya. Lidya langsung dibawa ke ICU untuk penanganan. Terra terus memanggil nama putrinya.
"Iya ... Iya ... bangun Nak, ini Mama!"
Dokter menyatakan jika Lidya tengah mengalami traumatik yang hebat. Gadis kecil itu seperti sedang berada di ruangan gelap. Seorang psikiater menyuruh Terra terus berada di sisi Lidya.
Kini gadis kecil itu sudah di ruang perawatan. Tubuh kecilnya lemas dan panas dengan selang infus tertancap di lengan kirinya yang kecil. Terra menangis melihat itu.
"Sayang ... lihat Mama, Nak ... ini Mama ... hiks .. hiks!"
bersambung ...
Iya! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜