TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERKUMPUL



"Sayang, nanti pulang ke rumah Saf ya. Udah tiga hari loh ditinggal?!" ajak Saf.


"Iya, sayang. Tapi, besoknya kita ke rumah Mama ya, baby ajak main gatrik!” ujar Darren dari seberang telepon.


"Oteh sayang," sahut Saf.


Sambungan telepon terputus setelah mereka mengucapkan salam. Wanita itu memanggil beberapa lagi pasiennya. Menjelang tutup praktek, hanya kasus kehamilan awal terjadi selanjutnya pemeriksaan biasa.


"Yang tadi adalah pasien terakhir kita, Bu bidan!" jelas Sisca sang perawat.


Saf mengangguk. Ia sudah merapikan mejanya. Telah meletakkan data para pasiennya dalam map dan meletakkannya dalam laci berkas.


"Kita pulang!" seru Saf senang.


Wanita itu sedikit mengusap perutnya. Ketika keluar, Aini dan Lidya beserta para susternya keluar. Kedua adik Aini sudah bisa ditinggal karena ada asisten rumah tangga yang kemarin kembali bekerja.


"Alhamdulillah, sistem rumah sakit mencoret tugas malam untuk para wanita hamil," ujar Aini lega.


Wanita yang tengah mengandung lima bulan itu bersyukur karena malam ini mestinya ia berjaga.


"Kak Aini ikut siapa?" tanya Lidya bingung.


"Naik angkot aja, nggak apa-apa," jawab Aini santai.


"Apa nggak apa-apa Kak?" tanya Lidya pada Gio.


Gio juga bingung. Jika mengantar istrinya bekerja. Pria itu masih bisa. Tapi ketika pulang seperti ini. Gio tak mungkin mengajak istrinya satu mobil dengan nona mudanya.


"Atau ikut mobil sama Iya," ujar Lidya memberi saran.


"Assalamualaikum ... nggak usah ribet gitu. Ikut kita aja, soalnya Kakak Darren akan pulang ke rumah Kak Saf!"


Sebuah suara menyela. Darren datang bertepatan ketika mendengar perihal pulang.


"Nah, iya. Besok-besok gitu aja. Pas berangkat nggak apa-apa kalau sama kita barengan!" ujar Saf.


"Tapi, Nona Saf kan kadang nggak tinggal di rumah," sahut Gio.


"Udah nggak usah bingung gitu. Kalo kita ke rumah kita akan ajak Dek Aini pulang," sela Darren menyarankan.


Saf mengangguk ia tak keberatan sama sekali. Akhirnya Aini pulang bersama Darren. Pria itu telah mengabari ibunya jika tak pulang ke rumah, melainkan ia akan ke rumah istrinya.


Aini di antar sampai rumahnya. Kedua adik misannya tengah bermain di ruang tengah. Mereka membuka pintu dan menyambut kakaknya datang.


Mobil Darren bergerak meninggalkan depan halaman rumah Aini. Saf masih melambaikan tangannya.


"Kasihan, Aini. Ada suami tapi tak bisa pulang bersama padahal satu lokasi kerja," ujar wanita itu iba.


Darren tak menanggapi. Budiman yang tengah menyetir pun hanya diam dari tadi.


"Baba pulang aja, bawa mobil. Besok Darren datang pake mobil Saf," ujar pria itu pada ajudannya.


"Baik Tuan muda!" sahut Budiman membungkuk hormat.


Budiman pun pergi bersama mobil Pajero milik tuan mudanya. Saf dan suaminya sudah masuk rumah. Wanita itu langsung menyapu dan mengepel rumah. Ia tak mau huniannya kotor.


"Apa perlu asisten rumah tangga ya?" tanyanya bergumam.


"Sayang, ayo tinggalkan pekerjaan, sebentar lagi maghrib!" peringat sang suami.


"Iya, Mas!" jawab Saf.


Wanita itu menutup pintu dan menuju kamarnya. Ia pun mandi lalu mengaji bersama sang suami menunggu maghrib tiba.


Pagi menjelang. Sepasang suami istri itu kembali pergi ke rumah mertuanya. Saf sudah memasak banyak pangsit. Hanya tinggal menggoreng atau merebusnya.


"Sayang juga motor ya?" ujarnya saat membuka pintu garasi.


Motor CBR hitam miliknya sudah sedikit berdebu. Wanita itu membersihkan kuda besinya dengan kanebo basah.


"Sayang, lagi apa?" tanya Darren.


"Bersihin Nona!" jawab sang istri.


"Nona?"


Darren menggeleng ketika melihat siapa itu Nona.


"Yuk!" ajak wanita itu setelah motornya bersih dari debu.


"Ayo!"


Saf meletakan satu keranjang besar berisi pangsit isi daging ayam dan sosis di bagasi.


"Mas keluar aja dulu. Biar Saf yang nutup garasinya!" ujar wanita itu.


Saf merengut. Padahal ia masih bisa jika hanya menarik rooling pintu garasi itu. Tapi, Darren tak mengijinkannya.


Setelah semua aman dan terkunci. Darren meminta istrinya untuk pindah di kursi penumpang. Dirinya lah yang menyetir.


Butuh waktu dua puluh menit untuk mereka sampai rumah mertua bidan cantik itu.


"Kita ke mansion ayah!" titah Haidar.


Darren memutar kembali mobilnya. Kini ada empat mobil keluar dari halaman rumah Terra. Beberapa pengawal naik motor hitam untuk menjaga keamanan. Semua mobil dan motor menuju mansion Herman.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai hunian mewah dan besar itu. Semua sudah berkumpul.


Ketika turun Lidya langsung dipeluk oleh seorang pria.


"Tata Lata!" panggil Lidya dengan semringah.


"Iya!" panggil Raka merentangkan tangan.


Ternyata Karina, suami dan anak-anaknya datang. Keduanya berpelukan erat.


Demian yang tak tahu menahu sedikit cemburu. Terra langsung memberitahu pria itu kedudukan Raka di hadapan Lidya.


"Ah, ternyata seperti itu ceritanya," ujar Demian mengerti.


Kamila Irawan istri Raka juga memeluk wanita hamil itu. Ketika Lidya menikah Raka tak bisa hadir. Ia tengah keluar kota, istrinya juga ikut bersama.


Sepasang anak kembar Raka kini sudah beranjak remaja. Usia mereka hanya beda satu tahun saja dengan quarto Pratama.


"Setya dan Dewinta mana?" tanya Lidya pada dua anak Raka.


Raka hanya memiliki sepasang anak kembar itu. Sebenarnya Mila sempat hamil lagi. Tapi sesuatu hal terjadi dan membuatnya keguguran dan tak bisa hamil lagi.


Semua kini berkumpul di mansion Herman. Ada banyak gelak tawa. Terlebih makanan pangsit rebus menjadi rebutan semua anak-anak.


'Kak Ion ... katanya kita mau main gatrik?" ajak Kean semangat.


"Gatrik?" tanya Satya heran.


Tangannya tak lepas dari tablet. Raka sudah memperingati putranya itu. Tapi, ia memilih membiarkan, karena ketika kejadian ibunya keguguran putranya itu ada di sana. Melihat semua kejadiannya.


Makanya Raka membiarkan putranya mengalihkan traumanya dengan tab yang berisi game kesukaan remaja itu.


Dewinta sangat tahu permainan itu. Ia berbeda dengan saudara kembarnya. Pergaulannya jauh lebih luas. Remaja cantik itu bisa melepas diri dari trauma yang nyaris membuat nyawa mereka melayang.


"Apa Satya masih trauma dengan kecelakaan itu, Kak?" tanya Darren pada Raka.


Raka mengangguk dengan wajah sendu. Semua treatment sudah diusahakan tapi gagal. Kecelakaan akibat kesalahan supir Raka yang mengantuk. Beruntung tak ada korban jiwa. Tapi hal itu membuat sang istri keguguran dan tak bisa memiliki anak.


"Gatrik apa?" tanya Satya lagi.


"Gatrik itu permainan tradisional," jawab Sean kini.


"Aku ikut lah!" sahut Dewinta semangat.


Semua anak bermain di luar bahkan empat perusuh menjadi pemandu sorak mereka.


"Pototna spasa yan talah pita judha pinta bendon!" sahut Sky tegas.


"Biya ... pita pinta dendon!" ujar Domesh mengangguk setuju.


Begitu juga Benua dan Bomesh. Mereka sudah memiliki jagoan masing-masing.


Permainan dimulai. Banyak teriakan dan tawa terdengar. Demian, Darren ikut bergabung.


"Wowan dedhe janan culan!" teriak Bomesh tak terima.


Darren selalu berhasil menangkap kayu yang terlempar. Hal itu membuat Rion juga kesal.


"Ayo ... yang sportif dong!" seru Darren sambil tersenyum usil.


"Daddy ... Ata' pallen eundat pawu nalah!" adu Domesh.


"Darren!" peringat Virgou.


"Papa Pemian judha!" lanjut Bomesh mengadu.


"Dem!"


bersambung.


Semua aja diaduin Bomesh, Sky, Domesh dan Benua!


next?