TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ULANG TAHUN THE PRATAMA'S QUARTO



Hari ini tepat sudah dua tahun usia si kembar empat. Naisyah Hovert Putri Pratama di panggil Baby Nai, Muhammad Narsean Hovert Putra Pratama, dipanggil Baby Sean, Ali Narendra Hovert Putra Pratama dipanggil Baby Al dan Daud Naranda Hovert Putra Pratama dipanggil Baby Daud.


Rumah itu penuh dengan keluarga besar Terra dan keluarga Haidar. Benar kata Karina anak buah Rion bertambah satu yakni Raffhan Wijaya. Kesembilan bayi itu selalu mengikuti kemana Rion melangkah.


Rion yang usil kadang tiba-tiba berdiri lalu duduk lagi, dan semua adik-adiknya mengikuti apa yang kakak panutan mereka itu lakukan. Terra dan lainnya hanya bisa menggeleng..


"Babies ... ngapain sih kalian ikutin Kakak terus!" akhirnya Rion sudah lelah diikuti oleh sembilan adiknya.


Netranya kadang menatap nanar pada dua wanita hamil di sana. Khasya dan Puspita. Ia berpikir berapa banyak lagi adik yang ia miliki.


"Kenapa Baby?"tanya Terra.


Rion menghela napas panjang. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal menatap sembilan adik yang memandanginya penuh minat.


"Ion mau istilahat, Ma," adunya lelah.


"Oh, ya sudah. Sini Babies, sama Mama," ajak Terra pada sembilan bayi itu.


Ketika sembilan adiknya pergi bersama ibunya. Rion merasa kehilangan. Dirinya yang biasa diikuti oleh adik-adiknya itu. Menjadi gelisah.


Ia pun mendatangi tempat di mana ibunya tengah bermain dengan sembilan adiknya itu.


"Mama!" panggil Rion.


"Loh, katanya Baby cape?" tanya Terra.


Sebenarnya wanita itu sengaja menjauhkan kesembilan bayi dari Rion. Ia ingin balitanya itu belajar, jika ia memilki tanggung jawab untuk menjaga juga melindungi semua adik-adiknya.


"Capenya ilang," jawab Rion.


Sebenarnya Terra tidak tega memaksa Rion bertanggung jawab untuk mengawasi semua adiknya. Hanya saja, semenjak kesemua bayi itu hanya menurut pada balitanya. Mau tidak mau Terra membebani Rion dengan tanggung jawab.


"Maafkan, Mama sayang," ujar Terra sendu dalam Hati.


Rion kembali bermain bersama adiknya. Acara ulang tahun delapan bayi disatukan. Delapan kue tart sudah dipotong. Acara makan-makan pun sedang berlangsung.


"Acalamualaitum palohmapulohi pabalatatuh!' sapa Nai memberi salam.


"Payo ... panyi Pepi pesdey!"


Semua pun bernyanyi lagu happy birthday. Semua bergembira. Seratus anak yatim ditambah dua puluh sembilan anak angkat Herman datang memeriahkan acara.


Terra dan Haidar berangkulan. Rumah sebesar ini nampak penuh dengan lautan anak-anak. Haidar mencium lembut pucuk kepala istrinya.


"Kau bahagia sayang?" tanya Haidar dengan kepala menopang pada bahu sang istri.


"Iya, Te bahagia sekali. Memiliki anak sebanyak ini. Dulu,Te mengira akan hidup sebatang kara," jawab Terra panjang lebar.


"Ternyata Allah mengganti kesepian Te, dengan banyak anak," lanjutnya.


"Kau akan dapat lagi tiga, Puspita kembali mengandung bayi kembar dan Bunda satu," kekeh Haidar.


"Ah, kedua bumil itu manja sekali. Mereka yang hamil kenapa Te yang pusing," decak Terra cemberut.


"Tidak apa-apa sayang. Tuh, pasukan Baby kita jadi bertambah dan nakalnya sama dengan komandan mereka," kekeh Haidar lagi sambil memandang Rion yang tengah mengajari adik-adiknya.


Bingkisan untuk anak yatim dan anak asuh Herman sudah dibagikan. Mereka juga sudah pulang dengan bus dan para pengasuh panti.


Karina, suami dan dua anaknya pun pamit. Walau disertai Raffhan yang tidak mau berpisah dengan Rion.


"Ata' Ion pitut Aphan ja!" rengeknya meminta.


Tentu saja permintaan itu ditolak oleh kedelapan bayi lainnya. Cal paling keras suaranya.


"bak boweh. Ata' Ion bunya atuh!"


Terra jadi ikutan sedih. Sebegitu diminatinya kah balitanya oleh bayi-bayi ini. Itu baru Raffhan. Belum nanti yang lain.


Yang paling anteng adalah the quarto. Rion adalah kakak mereka jadi keempatnya yakin jika Rion akan bersama mereka. Walau kadang balita itu suka usil. Seperti saat ini.


"Ma, Ion mau ikut Bunda, ya," ujar Ion.


"Pidad boweh!' pekik Nai marah. Bayi perempuan itu langsung memeluk erat kakaknya.


Khasya cemberut. Padahal tadi dia senang sekali jika Rion ikut dengannya.


"Biar dapat pengasuh gratisan," alasannya waktu itu bercanda.


"Ih, Limbi mawu Ata' Ion itut!" pekik Arimbi juga memeluk Rion.


Tarik menarik terjadi. Nai dibantu tiga saudaranya. Sedang Arimbi hanya berdua dengan Satrio, saudara kembarnya. Tentu saja Arimbi kalah jumlah. Walau tenaga dua bayi itu tidak bisa dianggap remeh. Sedang Kean dan Cal hanya menonton saja.


"Heh ... itu kakaknya sakit ditarik-tarik begitu!" peringat Virgou.


"Daddy," rengek Satrio dan Arimbi.


"Ata'Ion emba mawu itut," adunya.


"Pidad boweh!" seru Nai dengan mata melotot lucu.


"Baby, Nai!' peringat Terra


"Ah, nggak jadi. Ion nggak jadi kemana-mana. Ion mau di lumah aja!" sela Rion kesal.


Maka menangis lah Arimbi dan Satrio. Mereka pulang dengan air mata berderai.


"Udah, besok main lagi ke sini," ujar Lidya menenangkan adik-adiknya.


Satrio dan Arimbi mengangguk walau air mata dan ingus berlomba untuk keluar. Lidya memberi pelukan pada kedua adiknya. Begitu juga Darren.


Darren dan Lidya juga sangat menyayangi adik-adiknya. Tetapi entah mengapa magnet Rion terlalu kuat bagi bayi-bayi tersebut.


Satrio dan Arimbi pulang. Tinggal Cal dan Kean yang ada di rumah. Mereka menginap bersama orang tuanya. Virgou mengaku sedikit pusing jadi memilih menginap.


"Ata' ... ponen don!" pinta Cal memelas.


Rion tampak berpikir, ia pun mengangguk. Semuanya bertepuk tangan. Setelah mencuci tangan dan kaki. Keenam bayi tersebut naik ke kasur yang sengaja di gelar. Mereka memegang botol susunya masing-masing.


"Pada jaman dahulu kala, hiduplah seolah nenek tua. Ia sangat jago bikin kue. Kalena sendilian ia ingin membuat anak dali kue. Nenek itu pun menyusun dan membentuk kue menjadi anak.


Teulnyata ada bidadali cantik lewat. Ia menghidupkan dua kue belbentuk olang menjadi anak untuk nenek tua teulsebut.


Dua anak itu dibeli nama Hansel dan Bletel ... hooaam!" Rion menguap.


Hansel dan Bletel suka sekali membantu ibunya membuat kue. Hingga kue-kue itu teulkenal. Meleka pun kaya laya dan hidup bahagia selamanya ... hooam .... zzzzz ... zzz!" Rion tertidur bersama dengan keenam adiknya yang sudah tertidur dari tadi.


Terra menciumi Rion. Entah mengapa ia masih memanjakan balita itu. Nyaris apa saja yang Rion inginkan dipenuhi oleh Terra.


"Cepat besar dan kuat ya, Nak. Lindungi semua keluargamu," doa Terra.


"Aamiin," sahut semua orang dewasa dengan suara berbisik..


bersambung.


jadi anak Sholeh juga yaa Rion ... aamiin.


next?