
Lima tahun sudah Budiman mengabdi di keluarga ini. Lidya memeluk erat pria kesayangannya. Hati pria itu juga berat meninggalkan sebuah keluarga yang penuh kasih sayang ini.
Terra menitikkan air matanya. Menatap pria yang masih setia dipeluk oleh putrinya. Darren pun beranjak memeluk Budiman. Mereka mengurai pelukan. Pria itu mengusap air mata Lidya.
"Tuan Baby," panggilnya dengan suara tercekat.
Rion memalingkan wajahnya. Ia marah dengan pria itu. Tetapi, tugas Budiman selesai. Dahlan, Fendi dan lainnya juga menunduk. Mereka begitu berat meninggalkan keluarga yang penuh dengan kasih sayang ini.
Banyak cerita di dalamnya. Terlebih pada anak-anak yang begitu perhatian. Empat balita kembar Terra pun menangis.
"Ma ... hiks ... pemanna Om Pudi eundat pisa bisimi aja ... hiks ... hiks," Nai meminta sang ibu menahan Budiman untuk tetap bekerja.
Sayang, perjanjian kerja hanya lima tahun Jika pun Terra meneruskan, ia harus membuat kesepakatan ulang. Dan pastinya akan berganti orang. Mereka tetap akan diganti.
"Tidak bisa sayang," jelas Terra mencium putrinya.
Keempat balita itu pun memeluk Budiman. Sedang Lidya memeluk satu persatu pengawal yang lima tahun telah bersamanya. Mereka laki-laki besar itu tak dapat menahan air mata mereka.
"Yang baik-baik, nanti kerjanya ya Om. Kalau ketemu Lidya di jalan, disapa ya," pinta gadis kecil itu sederhana.
Mereka semua mengangguk. Teringat surat cinta dari gadis kecil itu untuk mereka tiga tahun lalu. Lidya baru saja masuk taman kanak-kanak. Betapa besar perhatian dan kasih sayang gadis kecil itu mereka rasakan.
Darren memeluk satu persatu pria yang pernah menjadi pengawalnya. Begitu juga keempat adik kembarnya. Hanya Rion yang tidak mau sama sekali menatap mereka.
"Tuan Baby," panggil mereka.
Rion acuh. Ia memalingkan mukanya. Terra sangat paham jika,. bayi besarnya yang kini sudah kelas satu SD itu sedih bukan main. Matanya memerah dan berkaca-kaca menahan air mata yang tumpah.
Semuanya berdiri termasuk Budiman. Haidar yang hanya diam mematung menatap pria yang selalu diganggunya bahkan sampai sekarang mereka berdua masih berebutan perhatian Lidya.
Haidar memeluk Budiman. Menepuk bahunya. Mengucap banyak terima kasih dan permohonan maaf.
Terra tak berhenti menangis. Banyak kisah yang mereka lalui. Bahkan ia sudah menganggap Budiman kakaknya sendiri. Tanpa ragu, Terra memeluk pria itu.
"Makasih ya Kak. Makasih telah menjaga dan menganggap kami adaah keluarga Kakak. Maafkan jika ada kesalahan kata," ungkap Terra tulus lalu mengurai pelukannya.
Budiman menghapus jejak air mata nonanya dengan telapak tangan. Pria itu pun menahan semua kesedihan.
"Saya juga minta maaf, selama bertugas kadang lalai," ujar Budiman dengan suara tercekat.
Ia dan anggota pun mundur, dua puluh lima orang membungkuk hormat pada keluarga yang telah menganggap mereka. Keluarga yang begitu peduli keberadaan mereka. Keluarga yang mengajarkan mereka banyak hal, terutama kasih sayang dan cinta.
"Tuan Baby!" mereka masih berharap pria kecil yang dulu selalu mengusili mereka itu mau mengucap sesuatu.
Rion malah berlalu dari tempatnya. Ia berjalan menuju kamarnya. Menutup pintu perlahan. Terra hanya bisa menatap nanar putranya itu. Haidar juga tak bisa berbuat apa-apa.
Perlahan semuanya pun berjalan mundur. Mereka pun pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan kasih sayang. Budiman seperti berat untuk melangkah kakinya keluar.
Di luar tersisa pengawal yang disewa oleh Bart sebanyak tiga puluh orang. Ketua mereka adalah Gio. Budiman menyerahkan jabatannya pada pemuda itu.
"Terima kasih Pak," ungkap Gio menjabat tangan Budiman.
Sebuah mobil Van putih menunggu. Mereka kembali menatap rumah hangat, lalu menatap jendela di mana di sana ada Rion berdiri memandang mereka semua dengan air mata berderai.
"Om Pudi ... hiks ... hiks ... hiks!" panggil Rion dengan suara lirih.
Rion kini sudah berusia enam tahun. Tubuh montok dan pipi kemerahan pun perlahan susut dengan badannya yang meninggi. Kini ia bisa huruf R, makanya kepala sekolah menerimanya menempuh pendidikan sebelum masa usia tujuh tahun.
"Om Pudi ... hiks! Selamat tinggal Om ... Jangan lupain Ion .. hiks!"
Mobil van putih itu berlalu. Rion pun menuju tempat tidur menumpahkan tangisannya di sana. Sedang di bawah Lidya juga menangis hingga membuat keempat adiknya ikut menangis. Sedang Darren menekan dirinya untuk tidak menangis walau lelehan air mata tak bisa ia hentikan.
Terra menyudahi tangisannya. Haidar mengecup pucuk kepala putri dan empat anaknya. Terra mulai menyiapkan makanan. Satu troli berisi makanan sudah diantarkan ke paviliun.
"Dar, panggil Baby makan, sayang," pinta Terra.
Wanita itu masih memanggil Rion dengan Baby. Entah, mengapa. Ia tak bisa menggantinya dengan sebutan lain. Di matanya Rion masihlah bayinya.
Rion turun dengan mata sembab. Terra sedih melihatnya. Ia pun merentangkan tangannya. Rion pun berhambur dan memeluk ibunya.
Kini tinggi Rion sedada wanita itu. Bahkan Darren mulai menyamai tingginya. Lidya sudah sepundak Terra. Betapa cepat waktu berlalu. Tiga anak yang dulunya lemah dan tak berdaya. Kini tumbuh besar dan kuat. Bahkan lebih kuat dari dirinya.
"Sudah ... sudah jangan nangis. Ayo makan," ujar Haidar menghentikan drama. Padahal ia juga tak berhenti menghapus air matanya.
Mereka pun makan dengan tenang. Sesekali melirik kursi kosong di sana. Tempat biasa Budiman duduk.
Kesedihan menguar di rumah, bahkan para pekerja pun merasakan kehilangan. Terutama Deno. Pria itu selalu ditemani oleh Budiman ketika awal bekerja. Walau terkadang sering bergantian.
Makan pun usai. Keempat anak kembar kini sudah menghabisi susu mereka. Beranjak ke kamar mereka ditemani Lidya. Waktunya tidur siang untuk semua anak-anak. Tidak ada kecuali. Bahkan Darren sekali pun.
Satu jam sudah Budiman dan tim pergi. Terra masih suka salah memanggil para pengawal.
"Kak Dahlan!" panggil Terra ketika ia sedang melihat kamera pengintai ditumbuhi lumut.
"Ah ... Kak Dahlan kan sudah pergi. Ck ... Kak Gio!" panggilannya.
"Saya, Nyonya!" sahut Gio yang mendengar teriakan Terra.
"Kak, ini kenapa kamera ditumbuhi lumut?" tanyanya.
"Oh, saya akan bersihkan, Nyonya," ujarnya kemudian.
Gio mengambil tangga di gudang dan mulai membersihkan kamera itu. Terra pun meninggalkan pria itu mengerjakan tugasnya.
Wanita itu memindai sekelilingnya. Ia merasa kosong. Ada yang hilang dari rumah itu. Keberadaan Budiman dan tim.
Haidar yang melihat istrinya seperti orang linglung pun mendekati dan memeluknya. Terra membalas pelukan suaminya.
"Kenapa bersedih. Bukankah Budiman akan menjadi anggota keluarga kita nantinya?" tiba-tiba Haidar mengingat itu.
Terra pun ikut teringat. Lalu keduanya terkekeh geli. Tiba-tiba mobil van putih kembali masuk ke halaman rumah. Semua pengawal bersorak termasuk Deno.
Sosok-sosok pria yang lima tahun bersama muncul juga wajah salah satu yang menjadi pusat perhatian. Budiman. Mereka datang membawa sebuah map.
Rion, Darren dan Lidya turun bersamaan. Mereka ternyata belum tidur. Hanya keempat anak kembar yang tidur.
"Om Pudi!" teriak Rion.
Budiman tersenyum. Semuanya pun tersenyum. Terra menatap bingung ke arah pria-pria tampan itu.
"Nona. Kami kembali melamar pekerjaan sebagai pengawal pribadi Nona selama sepuluh atau dua puluh tahun ke depan!" ujar Dahlan dengan wajah berbinar.
"Maksudnya? Bukankah paling lama adalah tujuh sampai sepuluh tahun?" tanya Terra.
"Tidak Nona. Kami sudah mengundurkan diri dari SavedLifed. Kami kini berdiri sendiri," ujarnya lagi.
"Enak saja. Kau ingin membuat istriku bangkrut dengan menyewa kalian selama itu!" sela Haidar mencibir. Padahal ia begitu gembira dengan kembalinya mereka.
"Nona, ini proposal kami!" seru mereka tak memperdulikan cibiran Haidar.
Terra mengangguk. Ia tak mungkin mencari pengawal lain yang bisa ia percaya selain Budiman dan tim. Rion pun menendang kaki semuanya. Kini tendangan itu benar-benar sakit dan membuat mereka mengaduh.
"Kalian buat Ion tadi nangis. Itu hukumannya!" bentak Rion puas menendang para pengawal termasuk Budiman yang kini meringis kesakitan.
"Baby!" peringat Terra.
"Habis Ion kesel Mama!" ujarnya sebal.
Lidya dan Darren pun memeluk mereka. Lidya mengelus kaki yang ditendang oleh Rion, adiknya.
"Baby, jangan galak-galak ah. Kan kasihan Om-nya."
bersambung.
yaa ... waktu pun tak bisa dihentikan.
next?