
Bel berbunyi untuk kesekian kalinya. Semua kembali bernafas lega. Hari pertama ujian telah mereka lewati dengan baik. Bahkan kini ada dua insan tengah berbunga-bunga.
Brenda dan Poltak nampak malu-malu. Semua memberinya selamat atas hubungan mereka.
"Ih nggak nyangka kali, kau bisa nyabet gadis secantik Brenda. Ngiri aku," sungut Togar sahabat Poltak.
"Makanya, muka kau jangan garang-garang kau bikin, biar cewe nempel ke kau," saut Poltak dengan jumawa.
"Ya, cemananya, mukaku emang kek gini, mau gimana lagi," saut Togar pasrah.
"Sabar ... sabar ... ini ujian," kini Dono menimpali dengan logat Jawa yang kental.
Semua riuh ketika Poltak menggandengkan tangannya pada Brenda.
Terra keluar kelas disambut dua pria tampan. Haidar dan Budiman. Semua gadis menatap iri.
"Gitulah kalo muka udah cantik. Belum apa-apa udah ditungguin," keluh Rina salah satu mahasiswi.
Terra hanya memandang horor dua pria yang tengah menatapnya datar. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang.
Mereka pun berjalan ke halaman parkir. Seperti biasa, Haidar menumpang mobil Terra. Gadis ini tak bertanya sama sekali. Ia pun tidak keberatan.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan kampus. Semua diam dalam perjalanan. Baik Terra juga Haidar kelelahan menghadapi ujian tadi.
Sedang Budiman fokus menyetir. Sesekali mendengarkan suara yang berbisik di telinganya, memantau keadaan bersama tim.
Satu jam baru lah ia sampai rumah. Semua turun. Mereka di sambut oleh ketiga anak yang sudah rapi.
Haidar dan Terra menciumi ketiga bocah itu. Masuk ke dalam rumah. Bersiap untuk shalat maghrib.
Setelah shalat, Terra menyiapkan makan malam. Mereka pun makan bersama termasuk Budiman.
Setelah makan, Haidar pun pulang, lagi-lagi meminjam mobil kekasihnya.
"Emang mobil Mas rusak parah ya, kok lama amat di bengkelnya?" tanya Terra hati-hati.
"Iya, sepertinya aku harus ganti mobil. Hanya saja, mobil itu hadiah dari kakekku ketika baru memegang SIM. Jadi kurang tega buat gantiinnya," alasan Haidar panjang lebar dengan wajah sendu.
Terra mengelus pundak kekasihnya itu. Ia mengantar Haidar hingga masuk mobil. Setelah memberi salam, pria itu pun melajukan mobil Terra untuk pulang ke mansion orang tuanya.
Hari berlalu waktu berganti. Sore itu Budiman tengah mengamati anak-anak bermain di taman depan.
Sesekali, pria itu tersenyum melihat tingkah ketiga anak itu yang tengah saling mengusili satu sama lain. Sosok mungil dan cantik datang menghampiri.
"Om Budi, lelah?' tanyanya dengan suara imut dan menggemaskan.
"Tidak, Nona," jawab Budi sambil mengulas senyum.
"Iya, Nona. Tapi, itu tidak apa-apa. Saya sudah sembuh," jelasnya menenangkan kekhawtiran Lidya.
Gadis itu mengangguk. "Matasyih ya, Om. Udah nolon Iya."
"Sama-sama Nona, itu sudah tugas saya," saut Budiman lagi.
"Bihat pukana!' tiba-tiba sosok balita mendekatinya.
Budiman tidak mengerti apa maksud dari balita itu.
"Bihat bukanya!" sentak Rion galak.
"Baby ... to' malah-malah? danan gitu, biyanna," ujar Lidya menasehati Rion.
"Om Budi, luta dididit ulan temalin mana?' tanya Lidya menyontohkan pada Rion. "Coba biyan beditu!"
"Om Pudi, bihat butana," pinta Rion meniru perkataan Lidya.
Budiman tertawa. Ia pun memperlihatkan bekas gigitan ular yang masih terlihat. Lidya mengelus luka itu dengan raut wajah sedih.
"Ipu satit?" tanya Rion juga dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Pasti sakit, sayang," saut Darren tiba-tiba.
Pria kecil itu juga melihat luka yang ada di tangan Budiman.
"Maafin, Iya ya Om. Dala-dala Iya, Om Budi luta," ungkap Lidya sambil minta maaf.
"Jangan meminta maaf, Nona. Ini sudah tugas saya melindungi, Nona," ujar Budiman dengan nada tidak enak.
Sungguh untuk pertama kalinya, ia bingung berinteraksi dengan anak kecil yang kini memandangnya penuh kekhawatiran.
Pria itu merasa hangat. Jujur, baru kali ini ia merasakan keluarga sebenarnya. Tiba-tiba Lidya mencium tangannya yang terluka.
Nyes!
Seperti hawa hangat meniup hatinya yang sedikit beku. Ia menatap tiga bocah yang memandanginya.
"Darren yakin, Om Budi kuat. Seorang lelaki kuat itu tercipta untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. Kami semua sayang sama Om Budi," ujar Darren memberi pelukan hangat pada Pria dingin itu.
Baik Lidya dan Rion juga memberinya pelukan hangat. Hal itu membuat iri para tim.
Budiman membalas pelukan mereka. Pria itu menyetujui perkataan Darren. Ia kuat karena melindungi orang-orang yang menyayanginya. Termasuk keluarga Terra.
bersambung ...
next?