TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CINTA ITU APA



Pagi menjelang. Darren kini tengah mengikuti mata kuliah paginya. Remaja itu begitu serius menjalani perkuliahannya.


Darren Putra Hugrid Dougher Young. Remaja berusia menjelang empat belas tahun itu, mulai menampakkan ketampanannya. Tidak ada satu wanita yang bisa menolak ketampanan remaja tanggung itu.


Sosoknya yang tenang, dingin dan cuek, membuat para gadis histeris. Terlebih jika ia mengembangkan senyumnya. Sosok gadis menatap Darren penuh minat. Perempuan yang tentu usianya empat tahun di atasnya itu sering mencari kesempatan untuk berdekatan.


"Hei ... kenalan dong," ujarnya tiba-tiba menyodorkan tangannya ketika Darren tengah menyantap bekal makan siangnya.


Darren hanya menatap gadis itu tanpa minat sama sekali. Hanya menatap tangan yang tergantung di udara.


Merasa diabaikan, gadis itu menarik tangannya. Ia malu setengah mati, pria yang kini melanjutkan makannya seperti cuek dengan kehadirannya.


Gadis bernama Renata itu, perlahan mulai menjauhi Darren.


"Namaku Darren!" sahut Darren tiba-tiba.


Renata tersenyum mendengarnya. Sambil melangkah ia meneriakan namanya.


"Aku Renata. Kau bisa panggil aku Re!"


Darren tak menanggapi perkataan gadis itu. Ia sudah selesai dengan makanannya. Ia meletakan kembali kotak bekal ke dalam tas.


"Widih, anak TK jangan main di sini. Noh, di sana ada taman kanak-kanak yang pantes buat Lo!" ledek salah satu mahasiswa karena melihat Darren membawa kotak makan.


Darren sama sekali tak menggubris ledekan dari sesama mahasiswa itu. Ia hanya menyimpulkan.


"Semakin dewasa dan semakin banyak pendidikan yang ia enyam. Tak mampu membuat ia bisa menjadi pribadi yang cerdas!" sindir Darren sarkas.


Tak ada yang bisa menampik perkataan Darren otak para mahasiswa memang bukan sama dengan kapasitas remaja tanggung ini.


"Maksud Lo apa, Hah?!" bentaknya tak terima. "Lo bilang gue goblok gitu!"


Darren menggeleng kepala pasrah. Dapat terlihat kapasitas berpikir mahasiswa tadi. Ia meninggalkan pria yang masih meneriakinya hingga mendapat teguran dari salah satu dekan.


Sedang di ruangan Gabe. Pria itu tengah sibuk dengan segala urusan pekerjaan. Hingga waktu makan siang tiba. Ia mengambil dua kotak makan, lalu berjalan menuju ruang arsip.


Widya baru saja selesai menyusun arsip-arsip sesuai dengan abjad dan tahun juga golongannya. Ia membuka tas dan teringat jika ia lupa membawa kotak bekalnya.


Widya menghela napas panjang. Ia akan mendapati ocehan ibunya lagi kali ini. Lagi-lagi ia harus menahan lapar. Karena ia membawa uang hanya cukup untuk ongkos taksi daring saja.


Tiba-tiba, Gabe menyerahkan kotak makan di depannya. Gadis itu menoleh pada sosok yang memberinya benda itu.


"Kita makan bareng?" ajak suara bass terdengar.


Widya menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tersipu. Mereka duduk berdua berhadapan. Membuka kotak makan. Tercium aroma daging panggang dengan saus barbeque.


"Ini?"


"Jangan berpikir itu daging kemarin sore. Itu baru!" tukas Gabe memotong pemikiran Widya.


Widya tersenyum. Gabe langsung terpesona dengan senyum gadis itu. Sedangkan Widya langsung tersadar jika ia melengkungkan bibirnya untuk pertama kali.


Ia buru-buru menghilangkan semua perasaannya sebelum ia menjadi gila karenanya. Mereka pun memakan dengan lahap. Tanpa suara. Hening, mereka lebih menikmati rasa nikmat dan lembutnya daging.


Makan siang pun usai. Baru kali ini Widya menikmati makanan lain selain, nasi, sayur bening dan ikan goreng.


"Terima kasih atas makanannya Tuan," ujar Widya tulus.


"Sama-sama. Emm ... tunggu," Gabe membersihkan sisa saus barbeque yang masih menempel di sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya.


Keduanya tiba-tiba saling menatap. Gabe mencari sesuatu di mata sang gadis berkacamata itu. Perlahan, pria itu melepas benda yang membantu gadis itu melihat dengan jelas. Gabe ingin menatap netra coklat terang di depannya tanpa halangan apa pun.


"Kamu cantik," pujinya.


Blush!


Gabe masih setia memandang lekat wajah cantik yang kini merona dan memalingkannya ke tempat lain. Pria itu mencubit dagu sang gadis agar menatap wajahnya.


Napas mereka saling menderu bahkan menyapu wajah keduanya. Gabe makin berani mendekati raut yang kini menatapnya. Tujuan pria itu hanya meyakinkan hatinya.


Hidung keduanya saling bersentuhan. Sungguh Gabe ingin menaut bibir tanpa lipstik di bawahnya. Tapi, ia tak mau jadi pria brengsek yang mencuri ciuman pertama seorang gadis.


Perlahan Gabe menjauhi wajahnya. Napas mereka yang berat perlahan menghela napas lega. Satu titik bening merosot dari sudut mata Widya. Gabe cepat menghapusnya.


"Tolong jangan menangis dan membuatku semakin bersalah. Jujur, aku menyukaimu. Entah itu cinta atau apa. Tapi, aku mulai menyukaimu," ungkapnya.


Bibir Widya bergetar hebat. Ia juga bingung dengan perasaannya. Jantungnya benar-benar tak bisa dikondisikan. Berdebar sangat cepat.


"Baik lah. Aku pergi dulu. Sampai nanti," pamit Gabe sambil membawa dua kotak makan yang dibawanya tadi.


"Terima kasih sekali lagi, Tuan!" ujar Widya setengah berteriak untuk menetralkan degup jantung dan napasnya yang sudah terengah-engah.


"Anytime, dear!" balas Gabe.


Widya memukul pelan dadanya yang tak berhenti berdebar. Ia menenangkan diri cukup lama. Setelah ia tenang baru lah ia fokus dengan pekerjaannya.


"Cinta ... apa itu cinta?" tanyanya di sela-sela kegiatannya.


Sedangkan di kampus. Darren mendapat satu surat berwarna merah jambu. Ia yakin pengirimnya adalah perempuan.


Pria itu memasukkan amplop itu ke dalam tas. dan pulang bersama Dahlan, Juan, dan Felix. Dengan menggunakan Pajero sport merah milik ibunya. Ia pun pulang.


Sampai rumah. Remaja itu langsung ke kamar dan membersihkan diri. Ibu dan ayahnya belum pulang dari kerja. Adik-adiknya sedang tidur siang. Ia pun merebahkan diri di ranjang.


Teringat amplop mereka muda. Ia bergegas mengambil tasnya dan mencari keberadaan benda itu. Setelah dapat ia pun membacanya.


"Hai, Dar.


Moga surat ini tak mengganggu aktivitasmu ya. Jujur, sejak pertama aku ngeliat kamu.


Aku ngerasa memiliki perasaan lain. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dan yang pasti hatiku penuh dengan namamu.


Mimpiku selalu berhias akanmu.


Aku yakin jika perasaan ini adalah cinta.


Dar ... aku cinta kamu. Entah mengapa, tapi aku yakin jika perasaan itu adalah cinta.


Aku tulus jatuh cinta padamu. Katakan aku kurang waras. Kita nggak saling kenal akrab. Tapi, aku sudah jatuh cinta akan dirimu. Aku naksir sosokmu.


Dar ... sekali lagi maaf ya, atas kelancangan ini. Aku wanita tapi, aku yang mengungkap perasaan pertama kali. Tapi, bukankah Sayiddah Khadijah ra mengungkap perasaannya pada Rasulullah Muhammad pertama kali?


Mudah-mudahan kamu memakluminya.


From the deepest of my heart I Love you.


R.


"R? Renata kah yang memberi surat ini?" tanya Darren penasaran.


Ia melipat kertas itu dan merobeknya menjadi beberapa bagian. Bukan tidak menghargai tapi, jika di simpan ia takut akan menjadi fitnah kedepannya.


"Cinta itu apa sih?" tanyanya gusar kali ini.


bersambung.


jangan tanya Othor ... othor masih volos.


next?